
Di sebuah rumah sederhana dekat sebuah kecamatan. Rumah yang sederhana itu berisikan empat orang seharusnya. Ya rumah itu di tempati oleh Wulan, dua putrinya dan suaminya Bayu itu juga kaku tiap hari pulang ke rumah.
Wulan tidak bisa mencegah pernikahan dengan Ranty. Sampai sekarang yang ia sesali kenapa harus Ranty kenapa bukan wanita lain saja?
Di ruangan lain. Wulan sedang berdiri memandang sebuah gambar dirinya dengan seorang wanita yang anggun dan cantik. Fhoto itu diambil ketika ia berada di Rumah Dunia melihat peluncuran buku karya Ranty. Ya, gambar itu gambar dirinya dan Ranty ketika Ranty belum menikah dengan Bayu.
Wulan baru sadar kalau Ranty alumni SMP yang kini ditempati oleh Ranty sendiri. Awalnya Wulan tidak begitu familiar terhadap Ranty ya mungkin kerena mereka adik dan kakak kelas hanya beda satu angkatan saja.
Ia baru mengenalnya ketika mereka bertemu disana, dan saling menceritakan semuanya. Wulan tidak menyadari sama sekali antara Ranty dan suaminya punya ketertarikan satu sama lainnya.
Mengingat itu Wulan hanya bisa mendesah. Seperti mimpi sebenarnya kalau.mwnhingat semuanya dari awal lagi, tidak menyangka bakal semuanya seperti ini. Harus membagi kehidupan, suami, cinta dengan adik kelasnya dan lebih parah lagi mereka alumni disana.
Wulan sejujurnya tidak bisa berbuat apa apa kalau misal terjadi reuni Akbar terjadi diantara mereka? Tapi Alhamdulillah sih sampai sekarang tidak ada sama sekali reunian reunian alumni.
Ia diam bukan kerena tidak punya hati Sam sekali. ya Wulan mendengar dari selimtingan.orang kalau ia adalah wanita yang tidak tahu diri yang harus membagi cinta ke pada orang lain? Sejujurnya kalau ia inginkan sih, sama sekali tidak ingin membaginya tapi Bayu malah keukeuh melakukannya, melakukan pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Ia sempat sekali melabrak Ranty. Tapi kedua putrinya Anindya dan Riri juga melabrak Ranty apalagi Anindya sering melakukannya di sekolah.
Mendengar itu semuanya bukan Ranty yang dimarahi tapi Wulan oleh Bayu. Itu yang membuat dirinya mereda tersisihkan oleh Bayu sendiri. Menurutnya Bayi tidak adil harus membela Ranty, jadi Wulan hanya diam saja daripada harus menyalahkan Ranty, itu bukan membuat Bayu menyadari tindak tanduknya, tapi yang Wulan sakit suamianya malah membenarkan adanya poligami.
Memang kata orang juga kalau tidak bisa bersikap adil lebih baik jangan poligami. Kini yang dirasakan oleh Wulan sendiri, menurutnya Bayu tidak adil sama sekali. Wulan merasa kalau Bayi lebih perhatian dan kasih sayang pada Ranty, apalagi kini ia mendengar kalau Ranty hamil. Otomatis Bayu lebih banyak menghabiskan waktunya dengan istri kedua dan anaknya.
Wulan hanya bisa menghela nafas saja. Kalau dari uang ia masih mendapatkan full sepertinya Bayu memberikan gaji bulanannya pada Wulan semuanya. Kerena itu yang dirasakan Wulan, tapi kalau masalah kasih sayang Wulan merasakan kalau Bayu lebih banyak menghabiskan waktu dan perhatian pada Ranty dibandingkan dirinya dan anak anak.
Itu yang dirasakan oleh Wulan sendiri, wanita itu langsung menghapus air mata yang menetes di pipinya. Ia merasakan kehilangan sosok Bayu di hatinya, ia sebenarnya sudah leleh dalam permainan ini. Kalau tidak demi kedua putrinya ia lebih baik pergi meninggalakan Bayu daripada ia harus menahan perasan yang sangat menyakitkan.
Sebenarnya kalau mau jujur, pernikahan Bayu menurutnya tidak sehat kerena melukai kedua putri mereka. Bukan hanya melukai hati kedua putri mereka tapi melukai dirinya sebagai istri.
"Ma,"panggil Anindya lembut menyentuh tangan Wulan.
__ADS_1
"Nindy," ujar Wulan langsung menghapus cairan bening di pipinya dengan cepat.
Ia tidak ingin kalau Anindya melihat kesedihan yang dipendam olehnya. Tapi terlambat Anindya mengetahui itu, gadis yang beranjak remaja langsung mengusap cairan bening yang membasahi pipi Wulan dengan lembut. Anindya tersenyum menguatkan hati Wulan dari.
"Mama,"
"Nggak kok sayang. Tadi ada debu yang masuk ke mata mama, jadi terasa perih," Wulan memberi alasan pada putrinya.
Anindya tahu kalau kalau Wulan berbohong pada dirinya. Anindya menatap sendu ke wajah mamanya, ada perih yang dirasakan oleh Anindya melihat mamanya seperti itu.
'Aku harus ke rumahnya," bisik hati Anindya. Saat ia melihat wajah mama merah menahan tangis yang akan keluar, gadis itu sebenarnya merasa kasihan sama mama tapi Anindya tidak tahu apa yang harus ia perbuat untuk menolong mamanya.
Anindya langsung meninggalakan Wulan. Tanpa Wulan tahu sama sekali, kalau Wulan tahu Anindya akan pergi ke Ranty mungkin ia akan mencegah menemui wanita itu.
Hari mulai gelap saat itu! Anindya tanpa pikir panjang langsung membawa motor menuju rumah Ranty.
"Anindya!" seru Ranty kaget saat menerima Anindya datang berkunjung ke rumahnya.
"Nindy apa apa kamu!" jerit Ranty kaget.
Untung ia bisa menyeimbangkan tubuhnya dari dorongan Anindya.
"Kamu sampai kapan jadi benalu dalam kehidupan kami!" jerit Anindya.
Ranty hanya mengigit bibir bagian bawah mendengar kata kata Anindya seperti itu. Kata kata yang pedas terlontar begitu saja dari mulut gadis manis itu, Ranty tidak menyalahkan Anindya sepenuhnya.
"Maafkan ibu." ujar Ranty lembut.
"Maaf gampang! Tapi luka hati tidak bakal sembuh oleh kata maaf itu!"
__ADS_1
"Nin," ujar Ranty meraih tangan Anindya.
Anindya langsung menepiskan tangan Ranty kasar sekali. Sebelum Ranty bicara terdengar seruan adzan di mesjid terdekat. Anindya terdiam mendengar seruan adzan itu begitu juga dengan Ranty.
"Kita sholat yuk!" ajak Ranty mengajak Anindya.
Tapi Anindya tidak bergeming dari ajakan Ranty. Ranty tidak memaksa Anindya untuk melaksanakan sholat, tanpa menunggu lama ia meninggalkan Anindya yang masih berdiri di ruang tamu. Pintu depan sudah ditutup sejak tadi oleh Ranty.
Anindya hanya diam saja, ia agak bigung untuk melakukan sesuatu di rumah itu. Tidak lama kemudian Ranty keluar dari kamar menghampiri Anindya yang kini telah duduk di kursi.
"Bu, Nindy harapkan ibu jangan rebut ayah. Kasihan mama, bagaiamana kalau ibu diposisi mama," gumam Anindya pelan tapi masih terdengar oleh Ranty.
"Nin, ibu tahu apa yang kamu rasakan,"
"Kalau ibu merasakan apa yang dirasakan mama kenapa ibu menerima lamaran ayah? Memangnya nggak ada laki laki lain," cemoh Anindya menatap tajam.
"Nin, kamu nggak akan mengerti."
"Nggak mengerti apa? Aku sangat mengerti apa yang dirasakan oleh mama."
Ranty menelan ludah tanpa haus. Apa yang dikatakan Anindya ada benarnya, tapi ia tidak mungkin cerita apa adanya pada Anindya.
"Kamu sholat dulu," hindar Ranty.
Ranty menyuruh Anindya untuk sholat, kerena bagaimanapun salah satu kewajiban dirinya kalau Anindya berada di rumahnya.
"Aku nggak sholat," ketua Anindya tidak suka.
"Kita ke kamar ibu yuk!" ajak Ranty menyentuh tangan Anindya.
__ADS_1
Awalnya Anindya tidak mau tapi Ranty agak memaksa untuk Anindya mengikuti masuk kamar bersamanya. Akhirnya Anindya mengangguk dan mengikuti ajakan dari Ranty. Ketika mereka.masuk kamar itu, kamar dengan ukuran 4x4m², bercat biru langit begitu teduh sekali. Seprai dan gorden berwarna senada yaitu pink menambah keindahan kamar yang sederhana sekali.
Di kamar itu ada lemari pakaian, meja komputer. Anindya melihat kamar Ranty begitu takjub nya. Rapih, bersih, wangi, pokoknya tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.*