MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Ranty membantu Riri


__ADS_3

Anindya masih berdiri menatap kedua orang yang berada di dalam perpustakaan. Ranty yang tahu kehadiran Anindya lanhsung mepersilahkan Anindya masuk. Gadis itu terlihat ragu sekali untuk masuk, tapi Ranty memaksa Anindya untuk masuk ke dalam.


"Ayo masuk!" ajak nya sambil tersenyum.


Akhirnya Anindya masuk, tapi matanya melirik Bayu, Bayi hanya diam saja ia tidak bicara apa apa, ia juga tidak beranjak dari tempat duduknya.


Ranty mengikuti pandangan Anindya, ia tahu sebenarnya Anindya melirik ayahnya hanya untuk memberikan waktu Anindya untuk bicara dengan dirinya. Tapi Bayu seperti tidak mengerti apa arti lirikan matanya Anindya.


"Pak, lebih baik bapak keluar dulu!" usir Ranty.


"Memangnya kamu mau apa ngusir?" tanya Bayu manatap wajah Ranty.


"Ayah, bisa aku bicara sama ibu Ranty?' tanya Anindya pada Bayu melirik ayahnya.


"Kamu mau bicara apa sama ibu Ranty sampai ayah nggak boleh mendengarkan?" balik tanya Bayu heran.


"Please, ayah!" Anindya memohon.


Bayu akhirnya mengangguk. Ia pergi ke luar ruangan perpustakaan menuju ruangannya. Ia tudakmkngin mendengar apa yang akan di bicarakan keduanya, ia ingin memberikan kesempatan pada keduanya untuk bicara.


Anindya yang melihat ayahnya pergi begitu saja setelah mengucek kerudung yang pakai. Gadis itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Ranty.


"Bu, aku aku," Anindya gugup.


Ranty memandang wajah Anindya, ia menunggu apa yang akan Anindya bicarakan pada dirinya. Ranty tidak mau memotong pembicaraan Anindya jadi ia tidak bakal bicara sebelum gadis itu finishing ceritanya.


Ranty hanya mengangguk saat mata Anindya menatap pada matanya.


"Sebenarnya waktu, aku minta data keluarga ibu, aku," lanjut Anindya masih ragu.


Ia sudah pasti menduga kalau ibu Ranty bakal marah, kalau ia cerita semuanya. Tapi kasta kata Zahra tadi membuat ia bertekad mau jujur pada Ranty.


""Aku sebenarnya waktu minta ibu ceritain tentang keluarga ibu itu permintaan kak Riri sih," sukses Anindya menyebutkan nama Riri kerena Riri yang menyuruh dirinya.


Ranty hanya tersenyum menanggapi cerita Anindya. Ia meraih tangan Anindya dengan lembut sekali.

__ADS_1


"Nggak apa apa kok udah jangan kamu pikirkan. Terus kamu bilang sama kakak kamu, alasan kakakmu minta tentang keluarga ibu?" Ranty angkat bicara.


"Nggak sih Bu, aku nggak berkata atau menanyakan apa apa pada kak Riri, masalahnya langsung di putuskan hubungan telponya." jujur Anindya.


Ia membiarkan tangan Ranty memengang tangannya, tidak ada niatan untuk melepaskan tangan Ranty dari tangan dirinya.


Anindya mengelengkan kepala, ya kerena.ia juga tidak mencari tahu tentang kakaknya menanyakan tentang keluarga ibu Ranty.


"Ya udah nggak apa apa, kalau ada yang nanya kamu tanya balik alasannya." nasehat Ranty lada Anindya.


Tangan keduanya masih saling menggenggam satu sama lainnya, tidak ada satupun yang mau melepaskan. Anindya begitu nyaman saat tangannya di ngenggaman oleh Ranty. Ranty juga begitu juga.


Tiba tiba bel istirahat berdering dengan nyaringnya memanggil sebagian siswa yang ada gurunya di kelas. Sedangkan kelas Anindya tidak ada gurunya, mereka hanya membawa buku untuk di tulis di papan tulis. Lalu di tulis kembali di buku, setelah ada gurunya bari tinggal di terangkan saja.


Mendengar bel berbunyi Anindya langsung melepaskan ngenggaman tangan Ranty untuk berbaur Kembali bersama teman temannya untuk istirahat dan jajan di kantin sekolah.


"Nin, boleh kok kamu tahu tentang keluarga ibu, lalu kau ceritakan sama kakakmu juga nggak apa apa kok!" kata Ranty sebelum Anindya melangkah keluar dari ruangan perpustakaan.


Anindya langsung menatap Ranty tanpa berkedip. Ia tidak menduga kalau ibu gurunya akan mengatakan itu padanya.


Ranty menatap Anindya dengan lembut sekali. Sebenarnya ia ingin meminta maaf pada Anindya kerena semua yang Zoya lakukan pada Riri. Tapi ia tidak bisa menceritakan pada Anindya Tetang kelakuan Zoya yang lebih fatal yaitu menyebar gambar Riri.


"Nggak kok, tapi kamu kalau cerita jangan ditambah tambahin ya." ujar Ranty tersenyum.


"Nggak lah, ngapain ditambah tambahin. Bu, boleh tahu alasan ibu kenapa aku diperbolehkan menceritakan pada kakak tentang ibu?" tanya Anindya.


"Biar semakin dekat saja," Ranty mengucapkan seperti itu..


"Ibu hanya ingin Riri dan kamu lebih dekat saja itu yang ibu inginkan dari kalian." lanjut Ranty.


Anindya hanya mengangguk dan ia pun meninggalkan ruangan perpustakaan dengan perasaan heran dan takjub.


"Maafkan ibu, Anindya ibu nggak bisa.mwnceritakan semuanya pada kamu. Ibu sayang kamu," bisik hati Ranty.


Sepulang sekolah Ranty langsung masuk kamar, ia benar benar ingin istirahat sekali. Tapi waktu ia ingin merebahkan tubuhnya ke kasur pintu kamar di ketuk oleh seseorang, ia langsung bangkit dan membukakan pintu itu.

__ADS_1


"Mas Bayu!" ujar Ranty menatap heran.


Tadi waktu mau pulang, Bayu mengatakan kalau ia pulang ke rumah Wulan tapi sekarang Bayu ada di hadapannya. Bayu tanpa basa basi langsung menerobos masuk ke dalam kamar, tanpa menunggu izin dari Ranty.


Ranty yang melihat Bayu masuk tanpa izin menatap heran.


"Kamu ngomong apa sama Anindya?" tanya Bayu menatap tajam kearah Ranty.


Ranty mengkerutkan wajahnya.mwndenegar pertanyaan dari Bayu, ia duduk di kursi dekat meja komputer.


"Aku nggak ngomong apa apa kok, mas. Emang ada apa?" tanya Ranty heran.


"Kenapa sih kamu ceritakan tentang kamu dsn keluarga kamu pada Anindya, tadi aku dengar kalau Anindya menerima telpon dari Riri dan menceritakan tentang kamu dan keluarga mu." sembur Bayu kesal.


"Buat apa sih kamu ceritakan tentang keluarga kamu?" lanjut Bayu menatap wajah Ranty.


Ranty tidak langsung menjawab pertanyaan suaminya, ia hanya menghela nafas panjang. Dan ia juga tidak bisa.mwnceeitakan alasan nya, kenapa ia menceritakan tentang dirinya. Kalau misal ia cerita kemungkinan besar Bayu bakal marah apalagi saat ia tahu kalau apa yang dilakukan oleh Zoya, nanti impasnya pada dirinya..


Itu yang tidak Ranty inginkan pada Bayu sama sekali. Ranty membiarkan suamianya bicara pada dirinya, ia hanya mendengarkan saja. Kerena Bayu merasa Ranty seperti biasa saja akhirnya ia berhenti juga bicara.


"Nggak apa apa kok, mas. Biar Riri tahu tentang keluargaku." suara Ranty lembut.


"Riri nggak salah hanya ingin mencari tahu tentang keluargaku, siapa tahu kalau misal Riri kenal dengan Zoya kemungkian mereka berteman."lanjut Ranty.


Bayu hanya menghela nafas panjang saat mendengar alasan yang dilontarkan oleh Ranty, apa yang diucapkan oleh Ranty membuat Bayu terdiam seketika juga.


"Aku hanya takut Riri jahat sama keluargamu," ujar Bayu.


"Nggak mungkin, aku percaya sama Riri."


"Aku cuma takut kalau adikku jahat sama Riri itu saja," ungkap Ranty.


'Mas, maaf selama ini Zoya jahat sama Riri. Aku nggak bisa melakukan apa apa pada Zoya.' bisik hati Ranty.


Tapi Ranty tidak ingin kalau Bayu tahu semuanya, kalau misal Bayu semuanya bukan hanya dirinya yang diamuk tapi Zoya juga yang diamuk oleh Bayu itu yang tidak ingin ia lihat.*

__ADS_1


__ADS_2