MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Keadilan buat kakak


__ADS_3

Dikejauhan Ranty tersenyum melihat dua sahabat yang saling bercanda dan tertawa bersama. Ya Anindya dan Zahra, mereka selalu bersama kemampuan juga mereka pergi. Mereka tidak menyadari kalau Ranty memperhatikan mereka berdua, ya Anindya dan Zahra dengan asyik sedang bercanda. 


Ia hanya tersenyum melihat keduanya begitu akur sekali, Ranty menarik nafas panjang lalu menghembuskan kembali, Ia masih ingat pertemuan pertama dengan Zahra dan tidak menyangka banget akhirnya seperti ini.  Kalau tidak salah kejadiannya di waktu tidak ada guru di kelas Zahra. Waktu itu ada jam MP membaca di perpustakaan. 


Ranty masih ingat, kalau tidak salah pada hari sabtu, 12 Februari. Saat ia berada di perpustakaan sedang membereskan buku buku yang terlihat acak acakan tidak karuan. 


Salah satu siswa, mendekati nya.  Itu terlihat oleh Anindya, yang sedang mengambil buku Matematika. Ya waktu itu Anindya sedang mengambil buku yang di suruh oleh Bayu sendiri. 


Gadis yang mendekati Ranty adalah Zahra sahabat Anindya. Mereka ngobrol dengan akrabnya membuat tatapan mata Anindya tertuju padanya, ia tidak tahu apa yang ada dipikiran gadis itu. Ia hanya melirik wajah Anindya yang dingin sekali, tapi Ranty tidak merespon apa apa pada Anindya. 


Ranty sebenarnya punya perasaan yang aneh dalam hatinya, perasaan itu ia tepiskan. Anindya menghampiri Zahra dan Ranty. 


“Ini, bu, orang yang kita bicarakan.” ujar polos Zahra. 


“Ngomongin aku, ada apa?”


Zahra mengucek kerudung Anindya gemas. Ranty yang melihat itu hanya tersenyum. Akhirnya Zahra, Anindya dan Ranty mengobrol tentang sekolah. Ada binar dimata Anindya saat pertama kali masuk SMP, itu terlihat olehnya. 


Wanita muda itu hanya tersenyum disaat ia mendengarkan cerita Anindya. Begitu juga dengan Zahra sahabat Anindya, menimbang omongan Anindya.


“Ibu sakit?” Tanya Zahra ketika melihat Ranty memengang perut bagian bawah. 


“Cuma kram, nggak apa-apa, kok!” hibur Ranty sambil tangan kirinya mengusap perutnya. 


Anindya hanya membisu. Matanya, curi-curi pandang kearah Ranty. Zahra malah melirik ke arah Anindya, tapi gadis itu hanya diam saja tidak bicara apa apa. Zahra curiga melihat Anindya hanya saja saat Ranty mengusap perutnya. 


Beberapa saat kemudian. 


Perpustakaan jadi lengang. Anak-anak lebih memilih nangkring di kantin. Begitu juga dengan Anindya dengan Zahra yang hanya bertahan empat puluh menit di ruangan pustaka.  


Akhirnya, Ranty membereskan buku yang digunakan anak-anak tadi. Mereka, tidak pernah menyimpan buku pada tempatnya. Ranty memengang perutnya yang terasa kram sekali, menjalar ke pungung. Ia mendesah dan terduduk di karpet warna biru dekat rak sebelah timur.


Bibir bagian bawahnya ia gigit untuk mengurangi rasa sakit yang menghujam. Ranty, tidak menyangka kalau Anindya akan mendorong. Benturan bangku  ke pinggang terlalu kuat, tadi ia berusaha menahan sakit. 


Ranty, beranjak dan mendekati bangku, lalu ia duduk disana. 

__ADS_1


Di kantin Anindya hanya diam saja. nasi uduk dan satu gelas es the manis belum tersentuh. Peristiwa saat ia mendorong Ranty terbayang, apalagi ia melihat Ranty meringis kesakitan. 


Tiba-tiba tanpa disadari oleh Anindya, peristiwa 2 tahun lalu hadir dalam ingatannya. Saat ia mendorong Rita—kakaknya di taman. Rita terjatuh, tanpa Anindya duga, dibelakang Rita ada mamanya—Widya yang sedang berjalan mendekati ia dan kakaknya.


Mengingat itu Anindya hanya menyesali dirinya saja, ia begitu jahat pada Ranty gurunya. 


Ranty mengenal nafas panjang, saat mengingat semuanya. Tapi kenangan itu tetap tertanam di kalbunya, mungkin bagi Anindya kenangan di dalam perpustakaan hal biasa tapi bagi dirinya sebuah momen yang berharga. 


Siang itu! 


Cuacanya panas sekali, siswa siswi telah pulang semuanya. Hanya Ranty yang belum pulang kerena ia membereskan buku buku dulu biar besok tidak dibereskan lagi.


Pulang sekolah Ranty langsung masuk kamarnya, ia masih mengingat Zahra dan Anindya. Kerena bagaiamana pun Zahra telah mengubah Anindya lebih baik lagi ya biarpun masih belum 100% tapi itu lebih lumayan dibandingkan dulu. 


Ranty langsung menuju ruangan ukuran 4x5. Di ruangan itu terdapat rak buku yang tersusun rapih. Di dinding terdapat tempelan kertas isi motivasi. 


Dinding cet putih bersih, senada dengan gorden jendela. Udara senja hari terasa sejuk. Tidak lama kemudian mbok Inem masuk kamar, memberikan satu gelas  air putih  ke Ranty yang duduk di kursi dekat meja tulis. Ranty mengucapkan terimakasih pada mbok Inem . 


Di bawah meja terlihat  gambar  dirinya dengan Wulan. Ranty, mendesah. Saat matanya menatap gambar Wulan. Mengingatkan masa lalu, saat bersama sama dengan Wulan ketika tahun 1998, ketika masih tercatat siswi SMPN I Angsana. 


"Takut rusak tadi saya udah bersihin gudang nemu gambar itu, daripada pecah lebih baik dibawa kesini." Jawab mbok Inem. 


"Oya udah, makasih ya mbok," kata Ranty tersenyum ramah.


Mbok inem langsung meninggalkan Ranty yang menulis di laptop. Tapi sebelum mbok Inem keluar dari kamar tiba tiba sebuah sosok menabrak tubuh mbok Inem dengan kerasnya. Sampai tubuh mbok inem dan tubuh sosok itu terjungkal sama sama jatuh ke lantai. 


"Non Nindy!" Teriak mbok Inem kaget. 


"Mbok Inem apaan sih nabrak segala?" Teriak Anindya yang menabrak mbok inem. 


Gadis itu sebenarnya telah mengucapkan salam beberapa kali tapi ucapan salamnya seperti nya tidak di dengar oleh mbok Inem dan Ranty, akhirnya Anindya masuk begitu saja kerena pintu depannya terbuka. 


Ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa izin lagi, tapi dicari ke belakang tidak ada sama sekali. Akhirnya Anindya langsung menuju kamar Ranty ia ingin melihat Ranty apa ada tidaknya di kamarnya. Saat hendak masuk tiba tiba ia menabrak mbok inem. 


Ranty yang duduk di kursi hanya garuk garuk kepala melihat mereka tabrakan seperti itu, ada senyuman menghiasi wajah Ranty. 

__ADS_1


Keduanya langsung bangkit dan saling pandang, mbok Inem keluar begitu saja sedangkan Anindya hanya berdiri di pintu, sedangkan Ranty hanya menggelengkan kepala saja. 


"Kalau masuk ucapkan salam bukan masuk saja,"tegur mbok Inem kesal sebelum pergi ke dapur.


"Kaku punya mata dipake biar bisa.lihat!" Ketus Anindya. 


"Mbok!" Panggil Ranty. 


Akhirnya mbok Inem pergi ke dapur sedangkan Anindya masih berdiri di tempat semula. 


"Ada apa lagi?" Tanya Ranty. 


"Boleh baca buku yang kemarin?" Tanya Anindya ragu. Ya kemarin ia baru beberapa bab saja yang dibaca belum tamat.


"Tuh, ambil di tak sana," tunjuk Ranty menunjukan rak yang ada di kamarnya.. 


"Kamu baca disini saja, mau kemana?" Tanya Rabty. 


Saat matanya melihat Anindya melangkahkan kakinya ke luar,


"Emang boleh?" Tanya Anindya. 


"Boleh kok! Nggak apa apa," 


"Kok malah diam?" Tanya Ranty. 


"Bu, kasihan kakak." Kata Anindya menghampiri Ranty. 


"Maksudnya?" 


"Ibu sih enak punya suami, sedangkan kakak?" 


Ranty yang sedang menulis langsung menatap wajah Anindya dengan tajamnya, ia tidak langsung bicara tapi hanya diam menunggu apa yang akan dibicarakan oleh Anindya. 


"Aku yang mendengarkannya juga sakit Bu, semua pada tahu kalau kakak hamil. Kakak mual mual," curhat Anindya menunduk. 

__ADS_1


Ranty lanhsung menyentuh tangan Anindya dengan lembut sekali. Ia merasakan apa.yang dirasakan gadis yang kini ada dihadapannya. Seorang gadis yang mungkin menanti sebuah keadilan untuk seorang kakaknya.*


__ADS_2