
Riri akhirnya mau mengikuti ke rumah Aisyah ya biarpun hatinya masih belum menentu apalagi ia merasakan kondisi dirinya seperti ini. Tapi Aisyah memotivasi dirinya supaya Riri tidak punya pikiran macam macam pada keluarganya. Riri hanya mengangguk saja, ya biarpun hatinya masih belum nyaman tapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja.
Ya rumah orang tua Aisyah masih di sekitar kita Banten, hanya jaraknya saja yang agak jauh tapi kalau dibandingkan ke rumahnya. Jarak rumah Riri dsn kampus hanya 3 jam itu ditempuh dengan kendaraan roda empat, tapi kalau kendaraan roda 2 atau kendaraan roda empat pribadi paling bisa ditempuh 2 jam perjalanan.
Sedangkan Riri kebanyakan mengunakan kendaraan umum, ayahnya Bayu jarang mengantarkan ia ke kosan. Kemarin juga Bayu tidak mengantarkan ke kosan, ia pergi sendirian ke kosan. Ya ia sebenarnya berpikir kalau ia bolak balik kampus ke rumahnya otomatis tiap hari harus pergi dan pulang apalagi jarak yang sangat mencemaskan sekali.
Jadi saat Aisyah mengajak Riri kw rumahnya otomatis Riri langsung mau biarpun hatinya masih belum menentu, wajar lah kalau hatinya tidak menentu kerena Aisyah mengajak nya dadakan seperti ini.
Sebenarnya sebelum Zoya ada di kampus nya, Riri sering main ke rumah Aisyah tapi sejak kedatangan Zoya hubungan mereka malah memburuk dan ia lebih memilih bermain dengan Zoya tapi kenyataannya lain lagi, kalau ingat itu riri hanya menghela nafas panjang. Aisyah menganggam tangan Riri dengan lembutnya, gadis itu seperti tahu kalau gadis yang akan dibawa ke rumahnya itu gelisah. Aisyah tahu itu kerena tangan Riri terasa dingin dan berkeringat.
Perjalanan menuju rumah Aisyah hanya ditempuh 1 jam perjalanan, lumayan dibandingkan pulang ke rumahnya. Setelah sampai di rumah Aisyah Riri hanya mematung di teras rumah dengan debaran hatinya semakin kencang sekali.
"Nak Riri ayo masuk!" Ajak ibu Yuyun menyambut Riri.
"I iya Bu," gugup Riri.
"Ri kamu duduk dulu biar ibunyng buatin minuman," ujar Ibu Yuyun tersenyum.
Riri hahya mengangguk saja. Aisyah dari tadi sudah masuk ke rumah tapi belum balik lagi kedepan, sedangkan ibu Yuyun lanhsung ke dapur dan mengambi minum buat Riri.
Sebelum ibu Yuyun ke depan, Aisyah menahan ibunya untuk bicara empat mata saja.
"Bu, boleh Riri tinggal disini?" Tanya Aisyah lirih.
Ibu Yuyun mengkerutkan wajahnya mendengar kata kata Aisyah. Wanita itu menatap wajah putrinya dengan seksama, kerena Aisyah baru kali ini bicara seperti ini.
"Memangnya kenapa?" Tanya nya pada Aisyah.
Gadis berkerudung itu menghela nafas panjang. Tanpa menunggu waktu lagi menceritakan permasalahan dengan Zoya, Aisyah juga ingin melindungi Riri dari Zoya. Tapi untuk diam di kosan kemungkina ia tidak mungkin bisa menolong Riri dari kejahatan Zoya. Ia menceritakan kalau Zoya dsn Riri bermusuhan kerena keduanya kekeh mempertahankan ego masing masing dan kedua belah pihak juga tidak setuju kalau kakak dan ayahnya menikah.
__ADS_1
Ibu Yuyun hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh Aisyah, dan wanita itu juga terkejut saat anaknya menceritakan kalau Riri hamil akibat Zoya yang memperdaya Riri.
Ibu Yuyun beberapa kali istigfar mendengar apa yang putrinya ceritakan.
"Nggak aku nggak setuju kalau Riri ada di rumah ini!" Teriak Toni yang tiba tiba menghampiri ibu dan adiknya.
Toni memang tidak pernah mengenal Riri sebelumnya hanya sering mendengar nama Riri di rumah ini, dan ketika adiknya mengatakan kalau Riri bakal tinggal disini ia tidak mau menerima kedatangan Riri.
"Kak, aku nggak izin sama kakak. Aku hanya izin sama ibu!" Sembur Aisyah tidak suka.
"Toni, kamu ini kenapa nibtung saja. Ibu yang tentukan ini, ibu menerima Riri tinggal disini. Ini keputusan ibu!" Tegas ibu Yuyun..
"Bu!" Teriak Toni tudks suka.
Riri yang mendengar keributan itu hanya terdiam saja, ia tahu kalau kakaknya Aisyah tidak mau menerima dirinya tinggal di rumah itu, ia akhirnya pergi tanpa izin dulu sama Aisyah.
Aisyah langsung menemui ririnyabg ada di teras tapi matanya terbelalak gadis itu menghilang. Ia langsung menelpon Riri tapi Tiri tidak mengangkat nya.
"Kakak puas ritinsudah pergi! Kakak nggak punya hati dan perasaan!" Ketus Aisyah marah.
Ibu Yuyun yang mendengar kata-kata Aisyah hanya bisa termenung, hatinya was was mendengar Riri yang baru datang pergi lagi tanpa siapa siapa. Ibu Yuyun menatap Toni dengan liarnya, dengan wajah ditekuk ia melewati anak laki lakinya menyusul Aisyah yang mencari Riri.
Ririn langsung pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan tidak menentu. Ia dari tadi mendengar percakapan Aisyah dengan ibunya, tapi sebelum ibu Yuyun menjawab perkataan yang dikatakan oleh Aisyah. Toni datang tanpa di duga, kata kata Toni melukai hatinya, ya biarpun ia tidak secara langsung bertemu dengan Toni tapi ia tahu kalau Toni tidak mau kalau ia ada di rumah itu.
Kerena ia pergi setengah berlari tiba tiba perutnya bagian bawah terasa sakit. Ia langsung menghentikan langkahnya dan menyandarkan punggung di pagar tembok, sambil meringis kesakitan.
"RI!" Teriak Aisyah sambil memegang tangan Riri.
Riri hanya diam saja. Sambil meringis. Tidak lama kemudian ibu Yuyun yang mengikuti Riri dan Aisyah telah sampai ditempat itu.
__ADS_1
"Perut kami sakit nak!" Ujar ibu Yuyun.
Riri hanya mengangguk saja. Akhirnya ya mau tidak mau Riri ke rumah Aisyah kembali kerena ibu Yuyun mengajak Riri ke rumah itu!
Belum sampai ke teras tiba tiba Toni datang dan menghampiri ketiga orang itu! Riri diam melihat Toni dengan wajah tidak bersahabat.
"Dia tamu ibu, kamu hargai ibu." Ketus ibu Yuyun pada putranya.
Toni hanya diam saja mendengar kata-kata ibunya, Riri dan keduanya langsung menuju dalam dan ibu Yuyun menyuruh Riri masuk kamar di kamar Aisyah.
"Maaf aku merepotkan kalian!"lirih Riri.
"Nggak apa apa, kamu sebetahnya tinggal disini, jangan khawatir ada ibu," kata ibu Yuyun mengelus tangan Riri.
"Perutmu sakit?" Lanjut ibu Yuyun bertanya pada Riri.
"Cuma kram Bu," jawab Riri kikuk.
Ibu Yuyun langsung keluar dari kamar Aisyah, ia memberikan waktu untuk diri istirahat. Sedangkan Aisyah masih ada di kamar sambil mengatur makanan yang telah disiapkan di meja makan. Melihat itu Riri akan membantu, tapi Aisyah mencegahnya.
"Tapi Ai," Riri tersendat.
"Sudah, jangan dipikirkan. Lebih baik kamu makan yuk, udah aku siapkan." Ajak Aisyah.
"Maafkan kakakku ya," pinta Aisyah.
Riri mengangguk. Akhirnya titindan Aisyah makan di kamar, Riri makan dengan lahapnya, kerena memang dari tadi perutnya lapar. Melihat itu Aisyah tersenyum senang sekali.
"Aku doyan makan." Senyum Riri gugup.
__ADS_1
Aisyah tersenyum.*