
Adzan magrib berkumandang dengan merdunya membangunkan Ranty yang tertidur lelap di kamar. Wanita itu benar benar tersentak, saat telinganya mendengar sayup sayup adzan. Dikira adzan Ashar tapi saat matanya melihat jam ia tertegun sejenak.
Ia berlahan bangkit, berjalan menuju arah ruang keluarga. Disana ia melihat mbok Inem sedang mematikan tv, yang ia tadi tonton, ya Ranty mengizinkan mbok Inem nonton tv kalau pekerjaan rumah sudah selesai. Ranty tidak melarang mbok Inem menonton tv atau menghidupkan tv. Hanya ia mengingatkan kalau tv tidak dilihat harus dimatikan lagi supaya menghemat listrik.
Apa yang dikatakan Ranty mbok inem mengikuti arahan Ranty, pantas kalau Ranty menganggap mbok Inem keluarganya. Biarpun mereka memang tidak ada hubungan apa apa, tapi Ranty sayang Sam mbok Inem.
"Mbok, kok saya nggak dibangunkan," Ranty langsung protes ketika mbok Inem beranjak dari tempat duduknya.
Mbok Inem langsung mengalihkan pandangannya ke arah Ranty yang muncul di kamarnya.
"Maafkan saya bu. Saya nggak bangunkan ibu, nggak tega lihat ibu," ujar mbok Inem menghampiri majikannya.
Ranty mendengus kesal mendengar alasan dari mbok Inem. Akhirnya Ranty dengan berlahan mengambil wudhu dan melaksanakan sholat magrib. Setelah shalat ia langsung membaca beberapa ayat Al Qur'an, tapi sebelum Ranty menyelesaikan membaca Alquran terdengar ketukan pintu dengan nyarinya.
Ranty langsung menyimpan Alquran di tempatnya dan langsung menuju pintu depan, ia tidak sempat membuka mukena dulu kerena agak bergegas menuju pintu.
Ketika pintu terbuka, terlihat Bayu dengan senyuman manis. Ranty tidak semangat melihat Bayu datang, ia langsung melangkahkan kakinya lagi masuk kedalam. Bayu meraih tangan Ranty. Ranty hanya tersenyum. Dan mengajak Bayu masuk ke dalam rumah.
"Mas, tumben magrib magrib datang, ada apa?" tanya Ranty heran melihat Bayu datang ke rumah itu.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kamu pulang dalam keadaan sakit." serang Bayu ketika ia melihat Ranty yang membukakan pintu.
"Maksud, mas?" tanya Ranty heran.
Matanya melihat ke Bayu yang berjalan menuju kursi dan menghempaskan tubuhnya diatas kursi ruang tamu. Dan membuang kunci motor sembarangan terlihat wajah yang kusut.
Ranty langsung menutupkan pintu lagi, setelah itu menghampiri Bayu, duduk disamping suamianya yang menyandarkan pungungnya.
Wanita itu duduk dengan berhadap dengan suaminya, dan mengambil bantal untuk disimpan dipangkuan ya sedangkan kakinya bersila. Ia juga membuka atasan mukena yang lupa dibuka tadi. Sedangkan mukena bawah tidak di buka.
__ADS_1
Hati Ranty bertanya tanya, kedatangan dan sikap Bayu padanya seperti itu.
"Tadi kamu pulang dari sekolah jam berapa!" teriak Bayu kesal.
Ketika Ranty telah duduk di sampingnya. Matanya menatap wajah Ranty tajam sekali.
"Aku pulang jam 14.00, emangnya ada apa mas. Aku tadi beresin buku." jelas Ranty akhirnya.
"Terus kamu pulang dalam keadaan perut sakit. Kenapa nggak minta tolong sama aku, malah pulang sendiri!" suara Bayu masih tinggi.
Deg!
Hati Ranty berdetak keras. Bayu telah tahu semuanya, tapi siapa yang bilang?
Ranty mengusap pungung Bayu untuk meredakan amarah Bayu, pikiran Ranty akhirnya kemana mana Bayu sampai tahu keadaan dirinya dari siapa? Anindya atau mbok Inem.
Memang Anindya tahu tadi waktu ia memegang perutnya yang sakit, tapi Ranty mengelengkan kepala mustahil kalau gadis itu memberitahukan keadaannya pada Bayu. Apa mungkin mbok Inem, hatinya bertanya tanya.
"Aku nggak bilang ke kamu kerena takut kamu capai kerena tadi dari Pandeglang," alasan Ranty pada Bayu.
" Alasan klasik!" Dengus Bayu kesal.
"Mas, kamu tahu ini dari siapa?" selidik Ranty kemudian.
Bayu tidak langsung menjawab pertanyaan Ranty ia hanya mendesah mendengar pertanyaan dari Ranty. Laki laki itu bukannya menjawab tapi ia langsung beranjak dari duduknya dan mengambil sesuatu dari motornya, sebuah bungkusan dari plastik hitam disimpan di hadapan Ranty.
"Aku bawa nasi goreng kesukaanmu," kata Bayu langsung duduk kembali ditempat tadi.
Bayu juga mengambil sendok untuk Ranty. Bukan itu saja ia juga membawakan air putih untuk minum istrinya. Sedangkan Ranty duduk di kursi saja, awalnya ia akan mengambil sendok tapi Bayu melarang Ranty mengambilnya. Bayu yang mengambilnya.
__ADS_1
Ranty hanya diam saja, melihat Bayu seperti itu. Ya itulah Bayu biarpun sedang marah sama Ranty slalu saja memperhatikan Ranty.
Waktu Bayu ke dapur, ia menyuruh mbok Inem membuatkan teh anget dan goreng pisang kerena tadi pagi Bayu beli pisang buat di goreng. Mbok Inem mengangguk mengiyakan perintah majikannya.
"Aku datang kesini, ingin memastikan kamu baik baik saja. Tadi aku telpon kamu, tapi yang mengangkat mbok Inem. Mbok Inem cerita kamu pulang sekolah nggak enak badan? Kamu sakit?" kata Bayu menjelaskan keheranan Ranty.
Ranty hanya tersenyum tipis. Dugaannya tidak meleset, ya kedatangan Bayu hanya ingin tahu keadaan dirinya. Itu kerena mbok Inem cerita kalau dirinya sakit.
Dihati paling kecil Ranty mengakui kalau mbok Inem sebenarnya sayang sama dirinya. Wanita itu sebenarnya menurut sama dirinya, tapi lalu masalah dirinya sakit, biarpun dilarang memberitahukan pada Bayu. Wanita itu pasti ngeyel. Tidak pernah menurut. Ranty mendesah mendengar pengakuan Bayu dihadapannya.
"Mbok Inem," gerutu Ranty agak kesal.
"Kenapa sih harus kasih tahu kamu." Dengus Ranty.
"Berarti mbok Inem itu sayang dan perhatian sama kita," bela Bayu menang.
Mbok Inem muncul dari dapur sambil bawa dua minuman teh anget buat Bayu dan Ranty. Mbok Inem juga menyediakan pisang goreng yang tadi habis sholat ia menggorengnya.
"Mbok, apa yang mbok bilang sama bapak?" tanya Ranty saat melihat mbok Inem datang menyuguhi minuman dan goreng pisang.
"Ran, sudah jangan dibahas." sanggah Bayu.
Mbok Inem awalnya ingin cerita tapi Bayu menyuruh mbok Inem untuk untuk ke kamarnya. Mbok Inem akhirnya mengikuti apa yang di perintahkan oleh Bayu, sedangkan Ranty hanya melihat mbok Inem dengan ekor matanya saja.
"Gimana kalau kita ke Alinda buat periksa kandungan," ajak Bayu kemudian.
Hatinya ketar ketir ketika mbok Inem memberitahukan kalau Ranty sakit, awalnya ia ingin lanhsung ke rumah tapi kerena ia masih di perjalanan maka perasaan itu ditahan saja. Sebenarnya kalau mau jujur Bayu merasa lelah tapi mendengar Ranty sakit rasa lelah itu hilang kemana, ia lebih memperhatikan Ranty dibandingkan dirinya.
"Besok lagi aja, jangan sekarang udah malam." tolak Ranty.
__ADS_1
Ia menolak ajakan Bayu untuk periksa kandungan. Bukan apa apa, Ranty tahu kalau Bayu pasti lelah menempuh perjalanan Pandeglang ke rumah, apalagi mendengar dirinya seperti ini.
Ranty tidak ingin Bayu kecapaian lalu sakit. Jadi lebih baik ia menolak ajakan Bayu. Apalagi perjalanan dari rumah ke Alinda satu jam naik motor*