
Anindya hanya termanggu saja saat sambungan hpnya terputus. Ia manarik nafas dalam dalam lalu di hembuskan, ia sebenarnya ragu untukmmwnnyakan pada gurunya itu.
Tapi hatinya Pedamaran juga untuk menyakan pertanyaan yang diberikan oleh kakaknya.
'Apa aku harus menyakan pada ibu Ranty ya?'tanya hati Anindya ragu.
'Kira kita alasan apa yang aku lontarkan pada ibu Ranty? Ada ada saja sih kak Riri, kenapa harus nanya tentang keluarga ibu Ranty?' pertanyan hati Anindya merasa heran.
Ya Anindya tidak tahu apa yang dipikirkan kakaknya.
'Kalau memang kakak butuh informasi ibu Ranty kenapa harus nanya sama aku tapi kenapa bukan ke ayah. Ayah yang berhak menjawab pertanyaan itu,' hati Anindya terus menerus bertanya tanya.
'Apa yang ahrus aku lakukan, apa aku harus nnwnya pada ibu Ranty? Masih untung kalau ada jawaban tapi kalau nggak di jawab bagaiamana?'
Anindya langsung keluar dari kamarnya menuju teras rumahnya. Udara sore hari begitu nyaman sekali, apalagi sinar raja siang yang ganas kini terganti oleh sinar yang lembut sekali.
Angin sore juga begitu sejuk dirasakan oleh Anindya.
*
Mentari pagi muncul dengan malu malu kucing, burung burung kecil bernyanyi dengan suara yang merdu menambah indahnya pagi hari.
Embun pagi begitu berkilau saat sinar mentari pagi menyentuh dedaunan. Ibarat intan yang berkilau.
Anindya sudah sejak tadi sampai sekolah, matanya menatap pada pintu perpustakaan yang terbuka, hatinya ragu untuk menuju ke perpustakaan..
Di ruang perpustakaan Ranty terbiasa membersihkan ruangan perpustakaan, setelah disapu lalu di pel serta buku buku langsung disimpan ke rak buku.
Setalah semuanya beres dan rapi, ia langsung duduk di kursi yang ada di sana. Ranty mulai menulis di lembaran kertas yang di lipat dibagi dua lalu di gunting menjadi dua
Di atas kertas yang dipotong itu, ia menulis.
Buku ini harap dikembalikan sesuai tanggal dibawah ini, kecuali ada izin dari pustakawan
Tanggal Pinjam Tanggal Kembali
Itu yang ditulis Ranty di atas kertas yang telah di gunting. Di pinggir tulisan di kasih garis sesuai dengan tulisan.
Sesudah menulis di kertas simpan pinjam, Ranty menulis di karton dengan ukuran panjang 12,5 cm dsn lebar 7,5 cm ia sedang membuat katalog kartu.
Contoh katalog kartu;
899.221.3
__ADS_1
Han Hanum Anindya/ Biar Ia Hidup
B Biar Ia hidup/ noveltoon 2022, ilus; -, 230 halaman, ISBN; 393976-798-9776-07.
I.Fiksi Ill.Anindya Hanum
Il.Dewasa
Itu yang ditulis Ranty, ya di perpustakaan yang ia kerjakan belum semua buku diberi katalog kartu, katalog kartu untuk mempermudah pemustaka untuk mencari bahan pustaka yang dicarinya.
Nantinya katalog kartu ini di simpan di lemari katalog oleh Ranty sendiri, lemari katalog sudah dipersiapkan. Bukan itu saja Ranty juga mengerjakan katalog judul maupun katalog subjek.
Bukan itu saja Ranty juga merevisi nomor ddc yang ada di punggung buku, ditambah lagi diatas ddc terdapat nama instansinya
Contohnya;
Perpustakaan
SMP Negeri 1 Angsana
—----------------------------------------------------.
899.221.3
B
Ranty dengan teliti menempel beberapa sticker yang siap digunakan setelah menulis nama instansi, nomor ddc, tiga huruf penulis, dan satu huruf judul dari buku itu.
"O, pantes nggak mendengar ada dalam jadi nggak balas salam orang yang kasih salam," ketus Anindya yang tiba tiba datang tanpa Ranty duga sama sekali.
"Maksudnya," Ranty memicingkan matanya tidak mengerti.
Ia sama sekali tidak menyadari kedatangan Anindya ke ruangan perpustakaan kerena ia asyik sekali dengan pekerjaan yang ia kerjakan sampai kedatangan Anindya sama sekali tidak diperlukan oleh Ranty.
"Nggak, nggak ada siaran ulang lagi, ibu asyik ya kerja sampai salam orang juga nggak dibalas, dosa lho nggak membalas salam orang," celetuk Anindya polos.
Ranty tersenyum." Ya udah Kaskus gitu, walaikumsalam," tatap Ranty penuh kasih sayang pada Anindya.
Anindya langsung duduk dihadapan Ranty hanya meja yang jadi pemisah diantara mereka, mata gadis 15 tahun itu menatap kertas kertas ditulis oleh Ranty.
Sebenarnya Anindya datang ke perpustakaan hanya ingn menanyakan sesuatu tapi hatinya ragu sekali, untuk mengorek keterangan tentang wanita yang ada dihadapannya.
"Bu, aku nggak pernah melihat ibu dengan keluarga ibu, misal adik, kakak, Memangnya keluarga ibu kemana?" Tanya Anindya tiba tiba sekali..
__ADS_1
Gadis itu juga terkejut saat menyadari kalau kata kata itu ia ucapkan di hadapan Ranty yang sedang menulis di sticker. Ranty lanhsung menatap wajah Anindya, ia sedikit terkejut atas pertanyaan Anindya pada dirinya.
Tapi ia berusaha untuk tenaga, sebenarnya hatinya seperti tersengat listrik oleh pertanyaan yang meluncur di bibir Anindya. Ranty lanhsung menatap gadis yang ada dihadapannya dengan lembut sekali.
"Tumben kamu nanya tentang keluarga ibu?" Tanya Ranty mengkerutkan wajahnya merasa heran atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Anindya.
Ranty benar benar tidak menyangka kalau Anindya bakal menanyakan tentang identitas dirinya, ditatap wajah anak ABG yang ada di hadapannya.
"Ya udah kalau ibu nggak mau jawab nggak apa apa, tapi kan setiap manusia pasti punya orang tua, kakak dan adik. Ya kecuali nabi Adam, Siti Hawa yang diciptakan tanpa orang tua," ujar Anindya pura pura pasrah.
Sebenarnya ia mengatakan itu hanya untuk memancing Ranty untuk cerita pada dirinya, ia juga penasaran dengan percakapan dengan kakaknya.
Riri malah menanyakan pada dirinya tentang keluarga Ranty, sedangkan ia sendiri juga tidak tahu apa apa. Tapi Anindya punya pikiran mungkin Riri malu menanyakan pada Ranty kerena selalu memusuhi Ranty.
Pikiran Anindya benar belakang, Riri sebenarnya ingin menanyakan pada Ranty tapi ia masih ragu kerena Riri masih ingat apa yang terjadi pada Ranty oleh keluarkan dirinya. Jadi Riri sebenarnya menghindar dari Ranty, ya biarpun melalui kuliah.
Itu yang tidak diketahui oleh siapa pun juga, tapi Riri yang berniat menghindar dari masalah malah membuat masalah baru dengan bertemunya dengan Zoya adik kandung dari Ranty.
Itu yang tidak diketahui sama sekali. Ranty hanya menghela nafas ia merasa heran atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Anindya. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Anindya.
"Untuk apa kamu ingin tahu keluarga ibu?" Tanya Ranty akhirnya.
"Hanya ingin tahu saja, ya udah nggak apa apa kalau ibu nggak ngasih juga," ujar Anindya langsung begitu saja.
"Nindy!" Panggil Ranty spontan.
Gadis itu langsung menghentikan langkahnya, ia.membalikan badannya melihat Ranty yang masih duduk di kursinya.
"Untuk apa kamu nanya tentang keluarga ibu? Adakah sesuatu yang perlu kamu tahu dari ibu," tatap Ranty lembut sekali.
"Ayah dan ibunya ibu sudah meninggal, ibu ber saudara tiga orang. Adik ibu dua, cukup!" Lanjut Ranty lembut tanpa ada emosi.
"Siapa nama adik ibu, apa perlu aku tahu?"
Anindya antusias menanyakan tentang kedua adiknya Ranty, ia yang tadinya akan bergi langsung mendekati Ranty dan menghampirinya.dambil duduk di depan Ranty.
Ranty hanya tersenyum. Ia meraba raba apa yang dibicarakan Anindya.
"Kamu seperti ingin tahu, apa ada yang tanya sama kamu tentang ibu?" Tanya Ranty.
Anindya gelagapan mendengar apa yang terlontar dari mulut Ranty, ia tidak menyangka kalau Ranty bakalan melemparkan kata katanya.
Anindya mengangguk seketika, melihat anggukan Anindya, Ranty hanya menghela nafas panjang.*
__ADS_1