
Anindya yang pulang sekolah terkejut melihat rumah seperti kosong tidak berpenghuni dak sekali. Ia langsung mencari mamanya di sudut ruangan, tapi nihil mamanya tidak ada.
Akhirnya gadis 15 tahun langsung masuk ke dalam kamarnya, ia kangenelihat waulan yang duduk tapi pandangan matanya kosong, di bawah ranjang ayahnya duduk dengan wajah yang kusut.
Tatapan mata gadis itu menatap kearah kedua orang tuanya. Ia langsung menghampirinya, dsn duduk di samping Wulan.
"Ma, ada apa?" Tanya Anindya menatap wajah mamanya.
Tatapan matanya juga berlatih pada ayahnya, tapi kedua orangnya hanya diam membisu. Tidak merespon sama sekali, kedatangan Anindya seperti tidak pernah dipedulikan lagi oleh keduanya.
"Ma," guncang Anindyaengincang tangan mamanya.
Lalu ia menghampiri ayahnya. Dan mengincang tubuh ayahnya. Tatapannya heran sekali, kerena baru kali ini ia menemukan kedua orang tuanya seperti ini.
Tiba tiba ia melihat beberapa gambar yang tercecer di hadapannya, Anindya langsung menghampiri ceceran gambar itu. Saat ia melihat gambar itu ia beberapa kali melebarkan pandangannya. Ia mengucek kedua matanya.
Shock, frustasi, itu yang dirasakan gadis ABG itu. Hatinya tidak karuan sama sekali melihat gambar itu.
"Pasti perbuatan wanita itu!" Bisik nya sambil mengepalkan tanganya.
Ia nyakin kalau Ranty yang melakukannya, kerena Ranty ingin balas dendam pada Riri kerena telah mencelakakan Ranty. It ia dugaan Anindya.
Tanpa pikir panjang lagi Anindya langsung pergi begitu saja, sedangkan ayah dan mamanya hanya diam saja melihat anindya pergi. Tanpa mereka duga kalau kepergian Anindya hanya untuk menemui Ranty.
Sampai di rumah Ranty, Anindya langsung menggedor pintu sangat kuat sekali sampai mbok Ijah inem membuka pintu dengan teegopoh ngopoh sekali.
"Non Nindya, ada apa?" Tanya mbok inem kaget.
Melihat kedatangan Anindya dengan rusuhnya.
"Wanita itu ada?" Tanya Anindya tanpa menyebutkan nama Ranty.
Belum sampet mbok Inem menjawab, Ranty keburu datang ke rumahnya. Ia heran melihat Anindya dengan pakaian sekolah ke rumahnya.
Setelah parkir motor, akhirnya Ranty menghampiri Anindya.
__ADS_1
"Bu, jangan mengelak ya. Ibu kan yang melakukan ini sama kakak. Kenal ibu lakukan ini sama kakak, apa ibu dendam sama apa yang kakak lakukan?" Berondong Anindya.
"Maksud kamu apa?" Tanya Ranty tidak fokus apa yang dikatakan oleh Anindya.
"Alah Bu, jangan ngeles ya. Ibu yang lakukan pada kakak,kan?" Tanya Anindya emosi sambil melemparkan bwbrOa gambar yang ia temukan di kamar orang tuanya.
Ranty tidak menduga sama sekali kalau Anindya bakal melakukan itu padanya, ia berusaha menahan diri supaya ia bisa menguasai emosinya. Ia melirik gambar yang dibuang oleh Anindya, ia hanya menarik nafas panjang lalu di keluarkan kembali.
"Nindy! Kalau ngomong yang sopan sedikit dong! Kamu bicara sama siapa? Aku ini guru kamu bukan teman kamu." Suara Ranty terdengar tegas sambil menatap wajah Anindya tajam.
"Kamu jangan asal tuduh, tanya baik baik." Lanjut Ranty tajam.
"Oh, kami tersinggung dengan apa yang aku lakukan pada kamu, makanya jangan sok belagu. Perebut suami orang!'' teriak Anindya sengit.
"Cukup, Nindy." Kamu kaya orang yang nggak pernah di diidk saja sama orang tuamu ya!" Bentak Ranty menahan emosi yang tiba tiba naik begitu saja.
Ia ingin sekali merobek mulut Anindya dengan tanganya, atau memukul mulut yang tidak bisa bicara baik baik. Tapi ia berusaha untuk tidak marah pada Anindya tapi kerena gadis di hadapannya selalu membuat emosi nya naik turun.
PLAK!
Anindya yangbtidak menduga langsung terpeking dengan kerasnya kerena merasakan pipinya seperti terbakar dan sakit sekali..
Mbok Inem yang melihatnya juga terkejut sekali, kerena wanita itu tudks.menduga kalau majikannya bakal memukul anak dari Bayu. Mbok Inem yang melihat langsung pergi begitu saja, ia tidak ingin ikut campur apa yang terjadi pada anaka majaikannya.
"Itu dari anak yang tudks tahu sopan santun sama orang yang lebih tua, kalau kamu ingin dihargai hargai dulu orang lain!" Ujar Ranty merasa gemas.
"Satu kali lagi kamu lakukan pada saya, saya nggak akan segan segan memukul kamu lagi," lanjut Ranty.
Ranty lanhsung pergi meninggalakan Anindya tapi gadis itu lanhsungnmanatik tangan Ranty, Ranty akhirnya berhenti kerena ia ditahan oleh Anindya.
"Apa yang kau ingin tahu dari fhoto itu!" Lirih Ranty melirik Anindya.
"Kamu menuduh ibu, ibu nggak pernah ada perasan benci pada kamu. Itu bukan perbuatan ibu," lanjut Ranty.
"Lalu perbuatan siapa kalau ibu bukan pelakunya?" Tanya Anindya masih menahan tangan Ranty.
__ADS_1
Anindya melepaskan tangan Ranty, ia membalikan badannya menghadap Ranty supaya ia bisa mencari tahu apa yang terjadi.
"Tanya ayahmu saja, ibu nggak mau cerita takut kamu salah paham lagi," tekan Ranty.
"Jadi ibu tahu pelakunya? Apa ini asli kakak aku atau rekayasa?" Tanya Anindya..
"Entah ibu nggak tahu."
"Bu, please!" Anindya memohon pada Ranty.
Ranty menghindar dari tatapan gadis 15 tahun itu, ia tidak bakal membuka kalau adiknya sendiri yang melakukan nya. Kalau Anindya tahu pasti gadis itu makin membenci dirinya, apalagi kalau tahu yang melakukannya adalah adik dirinya. Dan itu tidak mungkin ia ceritakan pada Anindya, sama saja kalau ia cerita menyeret Anindya membenci dirinya.
"Ibu nggak tahu." Ranty masih mengelak.
"Tanya kakakmu saja, itu lebih baik lagi," Ranty lanhsung pergi meninggalakan Anindya tanpa menawarkan pada gadis itu untuk duduk dulu.
"Lebih baik kau pulang, cari tahu apa yang terjadi," perintah Ranty sebelum mengunci pintunya.
Ranty tidak menyuruh Anindya untuk masuk, ia segaja melakuakan itu keren arabty tidak ingin diantara dirinya dan Anindya ada komunikasi lagi.
Ranty sudah lelah untuk melayani semuanya. Jadi ia langsung masuk dan ke kamar sambil tiduran di kasurnya yang empuk.
Melihat itu Anindya pun akhirnya pulang ke rumah, sebenarnya ia belum sholat Dzuhur kerena langsung ke rumah Ranty. Ia bertanya tanya pada dirinya sendiri siapa pelaku yang menyebarkan gambar kakaknya? Tidur dengan laki laki yang tidak dikenal dirinya.
"Aku nyakin ayah dan mama udah tahu ini," gumam Anindya pelan.
Tanpa menunggu waktu lagi, akhirnya Anindya meninggalkan rumah Ranty.
Ranty hanya menghela nafas panjang, ia melihat tangan kanannya yang telah menampar pipi Anindya. Dalam hati ia menyesal telah menampar muka Anindya, tapi kalau ia tidak.melakuakan.iyu ia takut Anindya melakukan perbuatan lagi pada dirinya.
Ia hanya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nafasnya kembali, seperti mengeluarkan beban di hatimu yang menghimpit.
Tiba tiba pikirannya tertuju sama Zoya. Ia nyakin kalau Riri dan Zoya saling mengenal dan ia sama sekali tidak mengetahuinya. Ia menyesal tidak tanya pada Zoya tentang kuliahnya, malah menanyakan keadaan Riri.
'Apa aku telpon Riri? Untuk menanyakan kebenaran gambar itu, atau aku hanya diam saja,' bisik hati Ranty bimbang.
__ADS_1
Akhirnya ia memilih untuk diam saja, kerena tahu kalau misal ia mennayakan pada Riri otomatis gadis itu bakal semakin membenci dirinya.*