
Setelah selesai membaca surat Yusuf dan Maryam, Ranty langsung membereskan mushola yang telah ia gunakan untuk sholat dan membaca Alqur'an biarpun tidak tiap waktu tapi ia mengunakan membaca Alqur'an di waktu subuh dan magrib saja.
"Bu, ada telpon!" panggil mbok Inem sambil memberikan hpnya.
Ranty mengangguk dan melihat siapa orang yang menelpon dirinya sepagi itu, Zoya. Ranty langsung mengangkat sambungan Zoya..
📱Assalamualaikum, dek.
Setelah sambungan telponnya Ranty lanhsung mengucapakan salam pada adiknya.
📱Bagaimana? Rasanya punya anak yang hamil diluar nikah, apa anugrah atau bencana.
Zoya tidak menjawab salam dari kakaknya, ia malah tidak peduli sama sekali dengan salam kebaikan dari kakaknya. Malah ia ber cicit masalah kehamilan Riri.
Ranty hanya mengelus dada mendengar suara Zoya seperti itu, beberapa kali Istigfar dalam hatinya mendengar apa yang Zoya lakukan pada Riri.
📱Dek! Istigfar, apa yang kamu lakukan bakal Allah balas dengan setimpal dek.
Nasehat Rabty pada adiknya, ia hanya ingin kalau adiknya menyadari kesalahan dsn kekeliruan pada Riri.
Dan kesalahan terbesar ia pada keluarga Bayu menyembunyikan kesalahan Zoya. Ia sama sekali tidak berani mengungkapkan jujur pada Riri dan Bayu kalau Zoya adiknya bersalah.
📱Kak, aku pindah kost. Kakak jangan cari aku ya. Aku ingin kita jangan ada hubungan kerena jalan yang kita tempuh berbeda.
Jangan cari aku, aku juga nggak pernah bakal mencari kakak, hubungan saudara kita sampai disini.
Kata Zoya mengatakan kalau ia pindah kost bukan dari kost yang lama, Ranty hanya menghela nafas panjang. Tapi sebelum Rabty menjawabnya Zoya telah menentukannya sambungan hpnya. Ranty merasa perih saat Zoya mengatakan pemutusan saudara dengan dirinya, Ranty tidak menyangka kalau Zoya bakal melakukan itu lada dirinya.
Ranty menghubungi Zoya kembali tapi nomor yang Zoya mati tidak bisa di telpon lagi. Ia hanya ingin menasehati Zoya, tapi tidak bisa lagi di hubungi.
Hatinya sakit saat mendengar Zoya mengatakan jangan pernah mencari dirinya.
'Dek, kamu tetap adik kakak. Hubungan darah tidak akan bisa begitu putus!" bisik Ranty dalam hati.
__ADS_1
Ranty terpaku ditempat semua, ia tidak menyangka kalau Zoya bakal tega mengatakan itu pada dirinya, ia hanya mengusut cairan yang keluar dari matanya yang mengalir begitu saja.
"Bu, kenapa?" tanya mbok Inem yang melihat majikannya termenung.
"Nggak apa apa kok, mbok!" kata Ranty langsung tersenyum.
"Benar nggak ada apa Bu?" tanya mbok Inem menatap wajah majikannya dengan perasaan bertanya tanya.
"Nggak mbok." senyum Ranty lembut.
"Ya udah laku ibu nggak apa apa, lebih baik ibu minum susu yang udah mbok siapkan, ada pisang gorengnya juga." kata mbok Inem sambil menunjukan satu gelas susu dan satu piring pisang goreng yang telah siap di meja.
"Makasih ya mbok," ucap Ranty.
Ranty membawa satu gelas susu itu ke ruangan tamu berserta goreng pisang yang telah mbok Inem sediakan untuknya. Pisang kepok goreng Krispy kesukaan dirinya, dan setiap pagi mbok inem sellau menyediakan goreng pisang, kadang ubi jalar, ubi kayu, atau makanan lainnya yang dibuat oleh mbok Inem.
Sambil minum susu, Ranty langsung mengambil laptop ke ruangan tamu. Ia mau membuat katalog mengunakan aplikasi SLiMS yang telah ia dowload penggunakan laptopnya.
Pagi itu ia ke sekolah dengan mengunakan roda dua, cuaca benar benar cerah sekali, ia langsung masuk ke perpustakaan. Sebelum Ranty duduk datanglah Wulan dengan tergesa gesa sekali.
"Ran, bantu aku. Riri!" kata Wulan the point saja.
"Apa jangan jangan penelpon gelap itu adalah suruhan keluargamu y?" lanjut Wulan menatap wajah Ranty.
Ranty yang baru datang dan belum melakukan apa apa, hanya diam termangu mencerna apa yang Wulan ceritakan. Ia benar belum konek hanya diam saja mendengarkan Wulan menceritakan tentang Riri, Ranty terkejut sekali kerena Wulan datang ke perpustakaan hanya ingin membawa Ranty ke rumahnya.
Tapi Ranty menolak kerena ia masih ada kerjaan yang masih harus ia kerjakan.
Wulan datang ke perpustakaan hanya Kerena Riri di telpon oleh seseorang kalau yang melakukan kerjaan bejat itu sebenarnya orang terdekat Ranty. Wanita itu hanya termenung saat si penelpon mengatakan itu pada dirinya.
Wulan juga menerima telpon itu dari orang yang mengaku kalau adik Ranty yang melakukan semuanya akibat ia tidak menyukai anak bawaan dari suaminya.
"Apa mungkin kamu menyembunyikan apa yang kami belum tahu tentang keluargaku?" tanya Wulan.
__ADS_1
DEG hati Ranty bergetar saat Wulan mengatakan itu padanya. Kecurigaannya Wulan beralasan mereka ia mendapat teror itu dari sang pemilik telepon..
Ranty tercekat mendengar apa yang diceritakan oleh Wulan. Di tatapnya wajah Wulan dengan tajam, ia mencari kesungguhan cerita dari Wulan sendiri.
"Siap yang telpon Riri," akhirnya Ranty bertanya.
"Aku nyakin kalau Riri seperti ini ada hubungan dengan kamu Ran,"
"Kok aku sih!" Tanya Ranty heran.
"Aku nyakin kamu melakukan ini sama keluarga aku kerena Riri pernah melakukan yang telah melukai kamu." tuduh Wulan.
"Kak! Aku nggak tahu apa apa masalah ini,?" ujar Ranty. 'Ri, ada apa lagi sama kamu?" ratu dalam hati.
"Lebih jelasnya kamu bisa ke rumah. Ran, kasihan Riri kalau di teror itu lagi, kamu sih nggak ngerasain apa yang dirasakan oleh Riri," pojok Wulan tajam.
Tanpa sepengetahuan dari ranty sebenarnya Zoya telah lama mengendus keberadaan Riri dan keluarganya. Ia juga telah tahu nomor hp Wulan dengan mencari nomor Wulan di hpnya Riri begitu juga dengan hp Bayu..
Tanpa diketahui oleh orang lain, Zoya tadi menelpon sesudah telpon kakaknya sesudah subuh. Zoya menelpon Wulan dan yang menerimanya juga Wulan.
Zoya mengatakan kalau Riri hamil kerena ayahnya yang telah menikah dengan wanita seperti Ranty. Wulan beberapa kali bertanya pada si penelpon siapa sebenarnya dirinya, tapi Zoya tidak mengatakan apa ala pada Wulan sampai Wulan pendaran pada sang penelpon
Ranty menghela nafas, lalu dikeluarkan begitu saja. Hatinya langsung menduga kalau Zoya pelakunya, siapa lagi yang meneror keluarga Bayu kalau bukan Zoya, kalau orang lain mustahil melakukannya.
"Kak, kakak tenang ya jangan pikirkan itu. Kakak bilang saja sama mas pak Bayu, " kata Ranty lembut.
Ia sengaja memanggil Bayu dengan sebutan pak Bayu, kerena ia menghargai Wulan. Tapi kadang ia juga sering menyebut pak Bayi kalau dimanapun juga, kecuali di rumah Ranty baru menyebut mas.
"Mas Bayu belum tahu, sebenarnya aku.mau.ke rumahmu tapi aku lihat kamu kesini ya udah aku ikuti kami?" ujar Wulan
"Aku takut kalau Riri melakukan apa apa pada dirinya apa lagi sekarang Riri sendirian di rumah," lanjut Wulan.
Ranty hanya menelan ludah mendengar lanjutan Wulan. Ya dibandingkan dengan keluarga Wulan, ia masih beruntung kerena menikah dengan Bayu langsung punya art di rumahnya. sedangkan Wulan tidak mengunakan art.*
__ADS_1