MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Terus harus bagaimana?


__ADS_3

Ranty hanya diam sambil memandangi wajah Anindya yang berdiri dihadapannya, sedangkan ia masih duduk tadi. Kata kata dan keputusasaan terdengar dari mulut Anindya.


"Jangan menyalahkan semuanya, ini sudah takdir ya biarpun harus ada jalan seperti ini." Kata Rabty.


Sebelum Ranty meneruskan kata kata nya tiba tiba hpnya berteriak dengan kerasnya. Akhirnya Ranty menghentikan apa yang ingin ia bicarakan, dengan cepat ia langsung mengambil hpnya.


Sebelum diangkat ia melihat siapa orang yang menelponnya.' Zoya,' bisik hati Ranty. Ia bimbang melihat situasi seperti ini, kalau singkat pasti pembicaraannya bakal terdengar oleh Anindya tapi kalau tidak diangkat ia nyakin Zoya bakal menelepon terus menerus.


Ranty menghela nafas panjang, akhirnya ia mematikan hpnya. Anindya menatap heran pada Ranty kerena hpnya dimatikan secara langsung oleh Ranty.


" Kenapa di matikan?" Anindya curiga..


"Nggak apa apa kok, hanya salah sambung." kisah Ranty.


"Kitakan nggak tahu salah sambung atau tidaknya sebelum mengangkat hpnya?" tanya Anindya.


"Udah jangan dibahas, nanti juga ditelpon lagi. paling ngajak jalan."


"Apa ada yang ibu sembunyikan dariku, dan keluargaku?" cerocos Anindya menatap tajam Ranty.


Hatinya nyakin kalau wanita yang ada dihadapannya menyembunyikan sesuatu yang tidak harus Anindya ketahui tapi ia juga tidak tahu siapa orang yang menelponnya kerena ia tidak melihat nya.


Ranty yang mendengar apanyang Anindya katakan hanya diam saja, ia tidak mungkin jujur. Ia bisa saja menyebutkan nama Zoya pada Anindya tapi, Ranty takut kalau Anindya menanyakan hubungan dirinya dengan Zoya..


Jadi daripada ia menjawab jujur lebih baik ia hanya diam saja, kerena kalau ia jujur belum tentu Anindya bisa menerima kejujuran yang ia berikan dan ini bakal terjadi kesalahpahaman pada Anindya.


"Aku nyakin kalau ibu punya masalah, tapi aku nggak tahu apa masih ibu, aku hanya curiga masalah itu ada hubungannya dengan kakak." ujar Anindya tajam.


DEG


Hati Ranty berdetak keras saat mendengar kata kata Anindya yang begitu tajam menghujam hatinya. Dalam hatinya ia menyalahkan Zoya yang telpon dirinya disaat ada Anindya tapi disisi lain ia juga tidak menyalahkan Zoya kerena Zoya juga tidak tahu kali dirumahnya ada Anindya.

__ADS_1


Apa yang dipikirkan Rabty tepat. Zoya tidak tahu kalau di rumah kakaknya ada Anindya, ia hanya ingin menelpon kakaknya supaya kakaknya jangan mencari dirinya, dan ia sebenarnya ingin mengatakan kalau ia pindah kost itu saja. Kerena ketakutan dari Ranty kerena ada Anindya maka ia tidak mengikat telpon dari Zoya.


"Apa sih yang ibu sembunyikan dari kamu, jangan jangan ayah juga nggak tahu?" tanya Anindya..


DEG!


Hati Ranty beberapa kali dihantam kata-kata Anindya. ia hanya menghela nafas panjang dan menatap wajah Anindya..


"Kamu percaya sama ibu, ibu nggak pernah menyembunyikan apa pun dari kamu Anindya." kata Ranty berdusta.


"Benarkah!" tatap Anindya masih belum percaya pada apa yang Rabty katakan pada dirinya.


Tapi Anindya masih belum puas sebenarnya, kerena ia melihat dengan jelas ibu Ranty dengan cepat mematikan hpnya dihadapannya. Kecurigaannya beralasan saat ia mengadukannya pada kakaknya apa yang terjadi kemarin.


Ya Anindya waktu pulang dengan Ranty, saat itu di rumah ayah marah kerena tahu kakaknya hamil, ia melihat jelas kalau Ranty banyak diam. Ia sebenarnya curiga melihat Ranty hanya diam saja, tapi kalau ia menyakan masalah kecurigaan dirinya dihadapan ayah pasti ayah tidak menerimanya, jadi ia hanya diam saja.


"Jangan curiga begitu sih! Ibu nggak bohong kok!" ujar Ranty.


"Aku bawa pulang saja,"kata Anindya sambil berlalu di hadapan Ranty. Ranty hanya mengangguk ia juga penasaran kenap Zoya menelpon dirinya.


Setelah Anindya pergi ia hanya menghela nafas dalam dalam lalu menghembuskan kembali dengan perasaan lega.


Sepulang dari rumah Ranty, Anindya masih penasaran dengan orang yang menelpon Rabty tapi ia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya, ia juga tidak melihat nama orang yang menelponnya.


Sedangkan Ranty hanya bisa menghela nafas panjang saat Anindya pulang, entah ia juga tidak tahu apa yang dirasakan oleh murid sekaligus putri sambungnya.


Ia langsung menghidupkan hpnya dan menelpon balik adiknya, tapi sang adik malah mematikan hpnya. Ranty hanya menghela kesal pada Zoya, ya kesalnya waktu ada Anindya, kenapa harus telpon segala. Tapi wanita berhijab itu hanya memandangi layar laptopnya.


Akhirnya ia beranjak dari tempat duduk dan membaringkan diri ke atas kasur, kerena mau meneruskan pekerjaannya juga tidak fokus daripada Pikatan kacau dipaksakan lebih baik ia menghentikan pekerjaannya.


"Kak, aku nggak bakal memaafkan suami mbak!" teriak Zoya terngiang di telinga suaranya.

__ADS_1


"Zoya, segitunya kamu sama kakak?'' tanya Ranty menatap wajah adiknya."


"Kak, kakak tahu nggak anak dari suami kakak yang bunuh pacar aku, aku nggak ikhlas!" sembur Zoya marah.


Ranty terbelalak terbelalak mendengarkan pengakuan dari adiknya. Anak Bayu telah membunuh pacar Zoya? Hati nya penuh berbagai pertanyaan, yang masih tersimpan dalam kalbunya.


"Maksudnya?" tatap Ranty tidak mengerti.


"Kakak tahu kalau pacar aku yang aku sayangi malah dekat sama anak suami kakak, Riri. Aku nggak terima kalau pacar aku malah mencintai Riri," ketus Zoya pada kakaknya.


"Zoya!"


"Kenapa kakak bilang begitu, kerena kakak lebih sayang pada dua kan bukan sayang padaku adikmu sendiri." Zoya merasa kesal saat melihat Ranty kakaknya malah membela anak sambungnya dibandingkan dirinya.


Zoya sebenarnya ingin sekali kakaknya membela dirinya satu kali ini saja tapi menurut Zoya, Rabty tudks.peenah membela dirinya dan menganggap Ranty membela anaknya Bayu.


Mendengar itu Ranty hanya diam saja, sejujurnya kalau mau jujur ia lebih membela adiknya dibandingkan anak anak Bayu. Tapi Zoya tidak pernah tahu itu, kalau memang dirinya tidak membela Zoya, mungkin ia baka cerita kalau Zoya adalah dalang dari kehamilan Riri.


"Tahu nggak Kak, gara gara anak dari suami kakak lah aku kehilangan pacarku, kerena Riri menolak pacarku untuk dijadikan pendamping hidup. Aku nggak ikhlas kak." geram Zoya menatap Ranty.


"Istigfar, Zoya! Ingat Zoya, Allah memberikan yang terbaik buat kamu. Allah tahu apa yang kau butuhkan bukan yang kamu inginkan," nasehat Ranty keluar begitu saja.


"Kakak hanya bisa bilang kaya gitu kerena kakak nggak pernah merasakan yang aku rasakan. Hidup kakak enak, nikah punya suami nggak punya masalah, sedangkan aku?" cerocos Zoya tajam.


"De, apa yang kau lihat tidak seperti yang kau katakan," uajr Ranty lembut.


Zoya langsung meninggalakan kakaknya, Ranty hampir mengejarnya tapi Zoya sudah menghilang entah kemana.


Ranty hanya menghela nafas panjang kalau mengingat itu, dan saat Zoya tadi telpon ia tidak mengangkatnya kerena ia takut kalau Anindya mendengar apa yang akan dibicarakan oleh Zoya.


"Dek, sampai kapan kakak menyembunyikan keberadaan kamu dari keluarga suami kakak?" bisik hati Rabty bertanya.*

__ADS_1


__ADS_2