MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Ranty Tahu


__ADS_3

"Kamu cari tahu keluarganya ibu Ranty kenapa?"


tanya Zahra saat ia mendengar kalau Anindya mencari tahu tentang keluarga ibu Ranty, ia sangat terkejut sekali kerena Anindya melakukan itu pada ibu Ranty. Menurutnya kalau memang Anindya ingin mencari tahu tentang ibu Ranty seharusnya tidak secara langsung.


Tapi Zahra hanya mwngelangkan kepala saja kerena apa yang dilakukan oleh Anindya membuat ia mwngelangkan kepala saja, Anindya yang menatap wajah Zahra hanya diam.


Anindya hanya menyengir saja mendapat pertanyaan seperti itu.


"Untuk apa sih?" tanya Zahra menatap wajah Anindya.


"Kak Riri menanyakan keluarga ibu Ranty, aku juga heran kenapa kakak tanya masalah keluarga ibu Ranty sedangkan menurut aku, buat apa ya kakak tanya itu?" Anindya juga merasa heran.


"Seharusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, jangan jangan kakakmu bakal melakukan kejahatan pada keluarga ibu Ranty?" tebak Zahra.


Tebakan Zahra membuat Anindya terdiam seketika juga, pikirannya traveling kemana mana.


"Benar juga sih!" gumam Anindya pelan..


Tapi masih terdengar oleh Zahra.


"Nin, maaf ya. Aku punya pikiran buruk sama kakakmu sih, aku takut kalau misal kakak kamu tahu adik adik atau keluarganya ibu Ranty, mereka dapat masalah dari kakak kamu." ujar Zahra.


"Nggak mungkin sih!" tepis Anindya..


"Nggak mungkin bagaimana ya, buktinya waktu acara LDKS kemarin." tohok Zahra menatap wajah Anindya.


"Kamu ingat peristiwa waktu di perpustakaan, entah acara apaan itu." Zahra mengingatkan Anindya.


Anindya langsung terdiam seketika mendengar uraian dari Zahra, ia masih ingat kala itu. Ia hanya menunduk kepalanya.


"Aku harap jangan sampai terulang lagi, Nin. Lebih baik kamu jangan ceritakan apa yang ibu Ranty ceritakan pada kamu." ujar Zahra mengelus bahu Anindya.


"Apa jangan jangan kamu udah cerita pada kakakmu?" tanya Zahra menatap wajah Anindya.

__ADS_1


"Aku belum cerita sama kakak masalah keluarga ibu Ranty." jawab Anindya..


"Syukurlah, aku harap kamu jangan bohong." tegas Zahra.


Anindya mengangguk. Tanpa mereka sadari Ranty menguping pembicaraan yang dilakukan oleh kedua muridnya itu, ia sebenarnya sudah menduga kearah sana, tapi langsung di tepiskan olehnya.


Ranty hanya bisa menarik nafas lalu dihembuskan begitu saja. Ada kesal dihatinya mengingat Zoya, ia bukan memihak pada Riri. Apa yang dilakukan Riri menurutnya benar sekali, kerena bukan Riri yang salah tapi adiknya yang salah pada Riri.


"Bu, Riri sebenarnya gadis yang baik tapi kerena Zoya semuanya," terhiang hiang cerita Aisyah.


Ya gadis itu tidak sungkan sungkan menceritakan tentang Zoya, ia juga cerita saat Riri rapuh bukan motivasi yang ia dapatkan tapi ejekan dan hasutan dari Zoya.


"Aku bukan menjelaskan Zoya, Bu. Tapi itu kenyataan yang harus aku lihat, maaf kalau kejujuran ku membuat ibu tidak nyaman." kata Aisyah menatap dirinya dengan serius.


Ranty hanya bisa mengangguk saja, ia tidak bisa.beekomentar apa apa, hanya saja dirinya menitipkan Zoya dan membantu Riri supaya tidak terjerumus oleh Zoya.


Aisyah hanya mengangguk saja, ia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ranty. Dan sekarang ia sendiri mendengar percakapan antara Zahra dan Anindya, kalau Riri mencari tahu keluarga Ranty.


Ranty nyakin kalau Aisyah yang menyuruhnya kerena Aisyah mengatakan itu atas perintahnya. Ya, Ranty lah yang menyuruh Aisyah bicara sama Riri untuk mencari tahu tentang Zoya dan keluarganya maupun tentang dirinya.


***


Di perpustakaan Ranty hanya termenung memikirkan apa yang dikatakan Zahra, kata kata Zahra membuat diri nya salah. Ya bukan Riri sebenarnya yang jahat pada Zoya. Jadi pantas saja kalau Riri mencari tahu tentang dirinya kerena bagaimanapun juga ia yang bertanggung jawab.


Kalau misal Anindya memberi tahukan pada Riri tentang dirinya, otomatis Ranty bakal menjadi bahan ejekan lagi oleh Riri dan Anindya.


Ia menarik nafas dalam dalam lalu di hembuskan begitu saja, seperti mengeluarkan beban di hatinya yang berat sekali. Ia juga sebenarnya tidak menyalahkan Riri sepenuhnya.


Ranty menepiskan pikiran buruk antara Zoya dan Riri, ia nyakin diantara mereka punya masalah yang tanpa ia sadari. Apalagi Zoya sampai sekarang tidak pernah mengizinkan dirinya menikah dengan Bayu.


"Jangan jangan Zoya mempengaruhi Riri untuk melakukan cara supaya aku dan mas Bayu berpisah?" tanya dalam hati.


Ya dari awal menikah memang Zoya menentang pernikahan nya dengan Bayu.

__ADS_1


"Apa ada maksud tertentu," bisik hati Ranty.


Tapi pertanyaan demi pertanyaan tidak pernah ia jawab kerena ia juga tidak tahu jawaban yang sebenarnya. sebenarnya ingin ia mencari tahu masalah apa yang terjadi antara Zoya dan Riri.


"Aku pernah denger sih! kata teman teman lain pacarnya Zoya direbut oleh Riri, tapi malah Riri men sia siakan pacarnya Zoya. Sebenarnya Zoya masih suka," suara Aisyah terhiang hiang di telinga Ranty..


'Apa mungkin gara gara itu?" gumam Ranty dalam hati.


Ia juga merasa bersalah tidak pernah ada untuk Zoya, apalagi pas Zoya kena masalah ia lebih mementingkan pribadi diri sendiri dibandingkan perhatian pada Zoya adiknya sendiri.


Beberapa kali Ranty mengenal nafas, ia meringis saat perutnya kram. Ia mengusap perut bagian bawah yang terasa sakit.


"Assalamualaikum," ujar Bayu mengetuk pintu perpustakaan.


"Walaikumsalam," jawab Ranty..


"Kamu kenapa? Perutmu sakit," Bayu menatap khawatir padaa istrinya..


"Nggak apa apa kok!" kata Ranty menarik tanganya lalu mencium tangan Bayu.


Kebiasaan di sekolah kalau ketemu guru semuanya guru guru selalu salaman tanpa kecuali. Kalau Ranty mencium tangan Bayu kerena ia merasa dulunya sebagai murid Bayu.


Ranty salaman pada Bayu sebelum menikah juga sering cium tangan Bayu. Semua guru guru di sekolah itu tahu kalau Ranty adalah murid dari Bayu pada tahun 1999. Jadi wajar kalau salaman cium tangan juga biarpun keduanya sama sama profesi guru juga.


"Kamu sakit?" tanya Bayu menatap wajah Ranty.


"Nggak apa apa kok, aku hanya mikir bagaimana supaya buku buku ada penambahan ya?" tanya Ranty mengalihkan pembicaraan dengan Bayu.


"Bikin proposal saja, nanti kamu kirim ke dinas perpustakaan. Bereskan," jawab Bayu sambil duduk di hadapan Ranty.


Anindya yang mau masuk lanhsung berdiri di ambang pintu, melihat Ranty dan ayahnya berduaan di perpustakaan, anehnya hatinya masih terasa sakit melihat keduanya.


"Anindya!" panggil Ranty menatap gadis yang berada diambang pintu menatap mereka. Bayu juga melihat kearah tatapan Ranty. Ada helaan nafas yang keluar dari mulut Bayu.

__ADS_1


"Mh! mau pinjam buku," gugup Anindya.


Untung ia bisa menguasai perasaannya. Gadis itu masih ingat apa yang Zahra katakan pada dirinya, ya tujuan Anindya sebenarnya ke perpustakaan bukan pinjam buku hanya ingin minta maaf kerena ia meminta data keluarga Ranty.*


__ADS_2