MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Bayu tahu 1


__ADS_3

PLAK


Sebuah tamparan mendarat di pipi Riri dengan kerasnya. Wanita itu tidak menduga sama sekali, langsung terpekik kesakitan dan memegang pipinya yang terasa panas sekali.


Riri menatap orang yang memukulnya. Bayu berdiri di hadapannya dengan wajah yang merah menahan emosi yang siap keluar.


"Ayah!" jerit Riri.


"Sakit! Atau mau nambah lagi, biar kamu merasakan kesakitan seperti Zahra dan ibumu." teriak Bayu yang hampir saja memukul wajah Riri..


Tapi tangan Bayu hanya melayang di udara, kerena Wulan menahan. Wulan dengan kasar langsung menepiskan tangan Bayu.


"Kenapa? datang datang malah main keributan seperti ini!" teriak Wulan tidak suka.


Matanya menatap wajah Bayu nanar sekali. Sedangkan Riri menangis kerena pipinya terasa sakit, yang lebih sakit lagi ia harus dipukul tapi tidak tahu masalah apa yang GB terjadi.


"Tanya anak kamu itu, kemarin dia melakukan apa sana Ranty dan Zahra!"


Wulan langsung menatap wajah Riri ingin ada penjelasan dari putrinya sedangkan Anindya yang ada di tempat itu diam saja. Gadis itu hanya menelan ludah tanpa terasa haus mendengar keributan di pagi hari, ia hanya mengambil nafas dalam dalam melihat semuanya.


"Aku bakal bilang sama pak Bayu," suara Zahra terhiang hiang di telinga nya.


Anindya tidak bisa melarang Zahra kalau ia mau bilang sama ayah. Ia sama sekali menyalahkan kakaknya yang telah berani datang ke sekolah hanya untuk bertengkar dengan Ranty. Gadis itu tidak tahu kronologi awalnya sampai Zahra dan Riri sampai bergumul seperti itu.


Ia hanya tahunya, saat matanya melihat Ranty yang sedang duduk di lantai sambil tanganya memegang perutnya. Jadi untuk sementara ini ia sama sekali tidak menceritakan pada ayah dan Wulan apa yang terjadi.


Ketika kegiatan Pramuka juga Zahra ditanya nggak menjawab malah menghindar dari dirinya. Anindya sebenarnya tidak sepenuhnya menyalahkan Zahra, ia mendekati Zahra hanya ingin mencari tahu kejadian awalnya. Kerena ia Sam sekali tidak menduga kalau Ranty jam segitu masih ada di perpustakaan.


Anindya mengakui kalau sejak peristiwa kaca perpustakaan pecah, ia sama sekali belum menginjakan kaki ke perpustakaan itu lagi. Ia baru menginjakan kaki ke sana ketika melihat kakaknya Riri dan Zahra bergumul dan Ranty duduk tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


Anindya awalnya mau menduga duga peristiwa di perpustakaan tapi ia takut salah saja. Sebenarnya ia punya cerita tentang peristiwa itu sendiri, mungkin Ranty sedang membereskan perpustakaan lalu Riri datang dan membuat onar terus kejadian itu dilihat oleh Zahra.


"Apa yang terjadi dengan mereka berdua?" tanya Wulan pada Bayu.


"Tanya saja sama orangnya, kalau aku jawab takutnya kamu nggak percaya."


"Ri, apa yang terjadi. Apa kamu memukul Zahra dan Ranty?" tanya Wulan melihat Riri yang menundukkan kepalanya..


"Aku datang ke perpustakaan, aku ingin melarang dia mendekati ayah." cerita Riri akhirnya.


"Lalu!"


"Aku dorong wanita itu sampai jatuh, dan Zahra yang ada di perpustakaan malah menolongnya. Aku marah melihat Zahra menolong wanita itu lalu aku pukul dirinya dengan kuat." jelas Riri sambil menunduk..


Ia sama sekali tidak berani memandang sorot mata kdua orang tuanya yang pasti menuju kearah dirinya.


"Tadi malam orang tua Zahra telpon sama ayah kalau Zahra pulang dari.lramuka langsung sakit. Dan kamu tahu keadaan Ranty sekarang!" sembur Bayu kembali.


Laki laki itu benar benar ingin rasanya melumatkan Riri di dalam blender. Kalau saja ia berani, tapi ia tidak ada keberanian.


"Kamu ayah tunggu di rumah Zahra dan Ranty, ajak juga adikmu." teriak Bayu sambil meninggalkan Riri.


Bayu langsung pergi meninggalkan Riri, Bayu hanya mendesah saat itu juga. Tadi malam kira kira bakdza Isya orang tua nya Zahra menelpon dirinya dan mengatakan kalau Zahra dipukul oleh Riri di perpustakaan. Bayu benar benar shock mendengar pengaduan dari orang tua muridnya.


Akhirnya ia.menvati tahu pada Ranty. akhirnya Ranty menceritakan kronologi kejadiannya yaitu Riri ingin mencelakai dirinya tapi Zahra yang jadi korban, Ranty juga cerita kalau Riri mendorong tubuhnya sampai jatuh, waktu itu Zahra menolong Ranty tapi Riri dengan kuatnya menarik tubuh Zahra untuk menjauhi Ranty.


Kerena Ranty melihat Zahra dipukul dan tidak bis menolong kerena perutnya sakit, akhirnya ia berteriak sampai Ryan yang ada di sekolah menolongnya..


Bayu hanya bisa menggelengkan kepala mendengar semuanya, mungkin kalau orang tua Zahra tidak telpon Ranty juga tidak akan bilang apa apa pada dirinya, sejak tahu orang tua Zahra telpon dan memberi tahu keadaan anaknya Bayu langsung ke rumah Zahra. dan membawa Zahra ke puskesmas terdekat.

__ADS_1


Awalnya Bayi mengajak Ranty tapi wanita itu menolak nya kerena perutnya sakit. Alasan Ranty tidak ikut ke rumah Zahra kerena memang ia juga tidak enak badan sama sekali, apalagi malam hari kesana nya. Jadi Ranty berpikir dua kali.


Setelah melihat keadaan Zahra Bayi pulang ke rumah Ranty, malam ini ia ingin menemani Ranty istirahat. Sebenarnya Bayu juga menghawatirkan Ranty yang tadi mengeluh sakit.


Apa yang ditakutkan Bayu terjadi, jam 02.00 ia dibangunkan dari tidurnya. Ranty lah yang membangunkannya, wanita itu memegang perutnya kesakitan.


Sambil mengeluh dan menangis.Bayu yang melihat itu tidak tega, ia juga membangunkan mbok Inem untuk mempersiapkan segala yang di butuhkan Ranty. Malam itu juga Ranty dibawa oleh Bayu ke Alinda untuk pemeriksaan. Dan Bayu juga shock ketika ia melihat darah mengalir di kaki Ranty.


Untung dokter mengatakan kalau Ranty tidak kenapa kenapa hanya kecapean dan butuh istirahat yang cukup. Kandungan Ranty kuat kata dokter lagi, Bayu hanya mengangguk.


Pagi itu! Bayu langsung menghampiri Riri yang asyik main hp di kamarnya sambil memeluk guling. Tanpa pikir panjang Bayu langsung menampar pipi Riri beberapa kali, sampai Wulan datang dan hanya bisa mendesah melihat kelakuan putrinya.


"Ayah, jadi Zahra sekarang sakit?" tanya Anindya menghampiri ayahnya.


Bayu mengangguk mengiyakan omongan Bayu.


"Kamu ajak kakakmu ke rumah Zahra untuk minta maaf dan jangan lupa sepulang kamu sekolah kamu tengok ibu Ranty di Alinda," lanjut Bayu langsung meninggalkan Anindya tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.


Anindya hanya bisa manatap kepergian ayahnya dengan ribuan perasan yang tidak biasa diucapkan sama sekali oleh dirinya sendiri.


"Kak, sebenarnya apa sih yang kakak lakukan pada Zahra dan ibu Ranty? Kak, itu bahaya. Bisa ke jalur hukum," bentak Anindya.


"Tahu apa kau anak ingusan! Kamu nggak bakal tahu kalau sebenarnya wanita itu selingkuh dengan laki lak lain." teriak Riri keras sambil melotot matanya ke arah adiknya.


"Bagus kan kalau dia selingkuh. Kita bisa memiliki ayah secara utuh tidak terbagi lagi. Kenapa sih kakak harus marah sama wanita itu? Apa jangan jangan kakak setuju ya kalau ayah menikah dan punya anak dengan wanita itu?" sudut Anindya.


Riri tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Anindya. Ia baru paham kalau misal Ranty selingkuh dengan laki laki itu kemungkinan besar ayah bisa meninggalakan Ranty, tapi kenapa ia harus marah. Ia baru memahami kesalahannya.


Anindya sebenarnya mengatakan itu juga sambil menyindir dirinya sendiri. Kalau dipikir lagi sih sebenarnya kenapa ia dan kakaknya marah dan malah menyalahkan Ranty ketika mereka melihat Ranty berduaan dengan laki laki itu?*

__ADS_1


__ADS_2