
"Aku cuma heran sama kak Riri deh!" Ujar Anindya pas waktu istirahat tiba.
Zahra yang mendengar nama Riri di sebut hanya mengkerutkan wajahnya. Ditatap wajah sahabatnya itu dengan tajamnya, ia menunggu apa yang akan Anindya bicarakan. Zahra nyakin kalau ada hubungan dengan Anindya yang tadi melamun.
"Perubahan kak Riri terhadap ibu Ranty," lanjut Anindya.
Kerena Zahra hanya diam saja maka Anindya diam saja maka ia melanjutkan kata-katanya..
"Maksudnya? Kak Riri berubah apanya?" Zahra belum konek dengan apa yang dibicarakan oleh Anindya.
"Ya heran saja, waktu ayah bilang mau nikah dengan ibu Ranty, kakak hanya diam saja seperti setuju kaya gitu,"
"Trus, yang berubahnya apa?" Tanya Zahra lagi.
"Tapi kenapa dia berubah sekarang, malah terkesan ya memusuhi ibu Ranty?"
Zahra hanya diam sajaendengarkan apa yang diceritakan oleh Anindya, ia sebenarnya tidak memperhatikan dengan jelas sih sebenarnya antara Riri dan Anindya. Ia hanya tahu kalau Riri dsn Anindya tidak begitu senang mendengar ayahnya menikah lagi dengan Ranty, apalagi Ranty adalah gurunya Anindya..
Tapi Zahra tidak menduga kalau Anindya menceritakan perubahan Riri, ya menurut Anindya Riri awalnya menerima ayahnya menikah tapi sekarang malah Riri seperti menantang pernikahan antara Ranty dsn ayahnya.
Zahra tidak memperhatikan sejauh mana Riri menerima Ranty sebagai ibu sambungnya. Ia hanya melihat kalau Riri dsn Anindya sama sama tidak suka pada ibu gurunya.
Zahra langsung menatap wajah Anindya yang menatap balik, Zahra hanya menghela nafas mendengar apa yang dikatakan Anindya barusan. Seolah olah ada satu rahasia diantara Riri dsn Ranty, hanya terkoyak oleh sebuah keadaan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
"Ra, apa mungkin mereka menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Anindya.
Zahra hanya diam saja, ia tidak merespon apa yang dikatakan oleh Anidnya. Ia hanya berpikir bagaimana Riri bisa menerima pernikahan ayahnya diwaktu awal, tapi di pertengahan ya malah Riri menjadi bumerang. Itu juga yang dipikirkan oleh Anindya sebenarnya.
__ADS_1
Kalau Anindya lanhsung ingat kata kata Rabty kerena wanita itu telah menceritakan tentang Zoya pada dirinya. Anindya hampir saja menceritakan apa yang diceritakan oleh Ranty, untungnya ia masih sadar dan tidak melakukan apapun juga.
"Bisa jadi sih! Tapi apa yang kamu katakan benar nggak kalau kakakmu pada awalnya diam saja waktu ayahmu menikah lagi?" Brondong Zahra.
Ia bukan mengungkit kesakitan hati Anindya dan Riri kerena harus melihat dan merasakan ayahnya menikah dengan wanita lain. Bukan, ia hanya menanyakan apa yang diceritakan oleh Anindya pada dirinya.
"Iya, kakak dan mama hanya diam. Aku yang berontak melawan pernikahan ayah dan ibu Ranty, tapi sekarang malah terbalik," gumam Anindya heran.
Biarpun Anindya bergumam tapi suaranya masih terdengar di telinga Zahra. Zahra hanya garuk garuk tangan saat mendengar gumaman kecil Anindya. Ia juga tidak bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Anindya.
Belum sempat Zahra bicara. Bel masuk berdering dengan keras menyuruh anak anak untuk masuk ke dalam kelas, akhirnya pembicaraan mereka terpotong lagi.
Keduanya masuk kedalam kelas, kerena gitu mapel telah datang, ada kekecewaan diwajah Anindya, kerena hari itu tidak ada jam kosong. Hati itu full belajar.
Sedangkan Riri yang masih bermalasan di kamarnya tidak menghiraukan makanan yang telah tersedia di kamarnya mamanya yang selalu menyuruh dirinya untuk segera makan.
Ya dari tadi ia tidak mau sarapan apa apa, ia tudks kuat untuk makan. Setiap makanan yang masuk selalu dimuntahkan saja. Paling ia hanya bisa minum air saja.
Kalau Wulan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Riri, kerena ia juga pernah merasakan hamil. Melihat Riri tudkammau makan dsn minum, ia hanya ingT dirinya yang tidak mau makan waktu hamil Riri dan Anidnya. Parah.
Dan yang paling parah kalau mencium bau masakan, ia muntah, bau minyak wangi muntah, bau goreng bawang muntah, mungkin bagi sebagian orang terlihat aneh tapi bagi dirinya tidak aneh kerena Wulan merasakan semuanya itu.
Jadi waktu melihat Riri tidak menyentuh makanan yang ia sendiri sediakan. Wulan hanya bisa menghela nafas saja. Dan tidak memaksa Riri makan, sedangkan Bayu menyuruh Riri makan ya ujung ujungny mereka bertengkar hebat gara gara memengang perinsip masing masing.
"Kalau kamu nggak makan bagaimana bayi kamu bisa makan!" Suara Bayu mengema di dalam kamar.
Saat ia melihat Riri hanya meringkuk di dalam selimut sambil menutupi kepalanya. Riri hanya diam saja mendengar suara Bayu yang terdengar di telinganya. Wulan menarik Bayu ketika ia melihat suaminya akan bicara lagi, kerena tangannya di tarik oleh istrinya. Bayu mengurungkan niatnya untuk berbicara lagi, kerena Wulan menarik keluar kamar Riri.
__ADS_1
"Mas, sudahlah!"
"Sudah bagaiamana? Anak nggak mau makan malah dibiarkan saja, bagaimana bayi itu makan?" Sembur Bayu ketus.
"Mas itu kaya nggak belum pernah punya istri hamil saja," decak Wulan gemas.
Bayu lanhsung terdiam mendengar Wulan bicara seperti itu, ia hanya menghela nafas panjang. Ya ia masih ingat waktu Wulan hamil tiga kali hamil muntah muntah terus, begitu juga dengan Ranty.
Tiba tiba pikiran Bayu tertuju pada wanita itu! Sebenarnya tadi sore ia akan berniat bermalam di rumah Ranty tapi kerena ada Riri merajuk akhirnya ia tidak pergi dari rumah.
"Iya iya aku ngerti sekarang," Hela Bayu tersenyum.
Sedangkan orang yang di pikirkan oleh Bayu, pagi tadi sudah sampai di sekolah. Ranty hanya melihat tumpukan buku yang masih tercecer di perpustakaan, dari tadi pagi ia tidak mengerjakan apa apa itu..
"Bu, udah kalau tidak enak badan jangan sekolah dulu," terdengar suara mbok Inem terngiang di telinganya.
Tatapan mata wanita setengah baya itu begitu menghaturkan majikannya, ya dari tadi malam ia menunggui Ranty yang tiba tiba merasakan perutnya sakit. Awalnya mbok inem mau menelpon Bayu tapi dilarang oleh Ranty.
Dan paginya Ranty malah pergi sekolah, mbok inem sudah melarangnya berkali kali tapi wanita muda itu hanya mwngelangkan kepala saja.
Ranty menghela nafas. Ingat mbok Inem. Ya sebenarnya sekarang badannya kurang fit, perut bagian bawah terasa kram, tapi ia berusaha menahan rasa sakitnya.
Kalau ia merasa sakit ia berusaha jalan jalan untuk mengurangi rasa sakit yang ada di badannya. Tapi kalau diajak jalan sakitnya agak menghilang ia langsung duduk.
"Bu, jangan jangan udah waktunya lahiran," ujar mbok Inem sewaktu ia belum berangkat ke sekolah.
Ranty hanya mwngelangkan kepala saja, ia juga tidak nyakin omongan mbok Inem. Masalahnya tanggal HPL masih dua mingguan lagi. Tiba tiba ada ketakutan yang hadir dalam hatinya, kalau apa yang dikatakan oleh mbok Inem terjadi. Ia tidak bisa membayangkan kalau ia bakal lahiran sedangkan? Tiba tiba Ranty menepis perasaan yang menyelinap dalam hatinya.*
__ADS_1