
Sepulang sekolah Ranty langsung sholat dan istirahat di kamar. Ia benar benar merasa lelah hari ini, apalagi perutnya terasa kram terus menerus. Mbok Inem yang melihat Ranty yang agak pucat wajahnya langsung membuatkan teh manis buat majikannya, untung ia juga membuat bubur kacang ijo. Jadi mbok Inem membawa bubur itu ke kamarnya Ranty.
"Bu, makan dulu buburnya masih hangat." Usik mbok Inem menyimpan bibir itu di samping lemari dekat ranjang.
Ranty yang sedang baringan langsung bangun dari tidurannya dan meminta mbok Inem mengambil bibir itu. Mbok Inem langsung mendekati bubur ke hadapan Ranty.
Dengan berlahan wanita itu memakan bubur buatan mbok Inem. Wanita tua itu duduk di kursi dekat kaki Ranty, ia tanpa di suruh memijit kaki Ranty dengan lembutnya.
"Bu, apa perut ibu masih sakit?" Tanya mbok Inem menatap majikannya.
"Udah agak mendingan mbok, kalau dibandingkan dengan tadi malam," jawab Ranty menyimpan mangkuk bubur ke meja.
"Kenapa nggak dihabiskan Bu, apa buburnya nggak enak ya?" Tanya mbok Inem ketika melihat isi mangkuk masih ada setengah lagi.
"Udah kenyang mbok, tadi bacakan di sekolah," kata Ranty jujur.
Mbok Inem menatap wajah Ranty.
"Bu, kalau sakit lebih baik istirahat saja. Nanti mbok panggil bapak saja biar kalau ada apa apa nggak harus di telpon lagi," kata mbok Inem.
"Nggak apa apa kok mbok, ya saya ingin istirahat dulu. Biar fresh," ujar Ranty.
Ia merebahkan badannya di kasur, bantal guling di peluknya. Ranty akhirnya tertidur dengan pulas sekali. Mbok Inem langsung keluar kamar setelah melihat majikannya itu tertidur terlelap, ia merasa kasihan melihat Ranty. Dengan lembut ia juga menyelimuti tubuh Rabty dengan selimbut, apalagi AC di kamar Ranty sangat dingin sekali, mbok inem takut kalau majikannya sakit jadi ia menyelimutinya.
*
Badza Asyar Ranty berada di teras sambil membuat katalog yang akan di gunakan di sekolah. Tadi ia membeli karton 20 lembar, tadinya sepulang sekolah ia ingin sekali membuat katalog tapi kerena badannya agak kurang fit akhirnya ia istirahat, hanya satu jam ia istirahat tapi badannya terasa segar dan fit sekali.
Jadi ia langsung membuat katalog, dari bangunnyidur tadi. Sisanya dilanjutkan setelah sholat asyar, karton karton itu ia ukur mengunakan penggaris panjang dan lebarnya juga di ikut biar rapi. Setelah itu ia menggunting karton karton yang telah di ukur itu dengan ukuran yang sesuai.
Semua katalog ukuran sama yaitu panjang 12,5 cuma dan lebar 7,5 cm.
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Walaikumsalam," jawab Rabty sambil melihat siapa orang yang datang.
Ranty melonggo melihat kedatangan Riri, ia tidak menyangka kalau sore itu Riri dan Anindya datang ke rumahnya. Berbagai pertanyaan hadir dihatinya, tapi ia hanya menepiskan saja.
"Ayo silahkan duduk," sambut Ranty dengan ramahnya.
Ranty membereskan karton karton itu dihadapannya, lalu di bawanya karton dan kartu yabgbtelah ia buat lendalam rumah. Sedangkan Anindya dan Riri langsung duduk secara lesehan dibawah lantai, apalagi lantai rumah Ranty sangat bersih sekali.
"Eh masuk masuk," ajak Ranty ketika ia melihat kedua adik kakak beradik duduk di teras.
"Nggak apa apa kok Bu enak disini adem," kata Anidnya.
Sedangkan Riri hanya diam saja tidak bersuara apapun juga. Mata Ranty melirik wajah Riri, wajah gadis itu segar sekali tapi masih kelihatan pucat.
Ranty akhirnya duduk secara lesehan juga berhadapan dengan adik kakak yang telah duduk duluan.
"Kalian kesini ada apa?" Tanya Ranty pada Anindya. Tapi matanya melirik Riri yang menunduk.
Gadis itu menatap wajah Rabty tajam. Ranty tertegun mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Riri, sebelum menjawab ia langsung melirik Anindya. Gadis 15 tahun itu hanya nyengir saja saat matanya beradu dengan Ranty dan hanya garuk garuk kepala saja.
"Kamu yang cerita," tebak ranty pada Anindya.
Gadis itu hanya mengangguk saja."Maaf, Bu, aku ceritain semuanya sama kakak. Habis aku ketahuan melamun kakak lanhsung curiga," jawab polos Anindya.
Ranty menghela nafas kasar mendengar apa yang dibicarakan oleh Anindya."Nggak bisa menyimpan rahasia," lirihnya gemas.
"Benar Bu?" Desak Riri.
"Kalau Zoya nggak mau melihat ibu menikah dengan ayah?" Lanjut Riri.
Ranty menghela nafas kasar. Tapi ia hanya terdiam saja mendengar Riri bersuara lagi, Ranty menatap wajah Riri dengan lembut gadis itu menatap sekilas lalu mengalihkan pandangannya kearah yang lainnya.
"Iya, emangnya kenapa? Ayahmu sudah tua bangkotan doyan sama daun muda!" Tiba tiba sebuah suara terdengar dengan jelas di belakang mereka.
__ADS_1
Belum sempat Ranty menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Riri tiba tiba di belakang, mereka Zoya berdiri dengan wajah yang angkuh dan sinis menatap ketiganya.
Ketiga orang yang sedang bicara serius langsung memandang keasal suara, Zoya berada diantara mereka dengan senyuman sinisnya.
Ranty yang tidak menduga kalau adiknya bakal datang hanya terdiam saat, ia sebenarnya takut kalau mereka bertengkar apalagi saat ini Anidnya dan Riri tahu siapa Zoya.
"Kamu nggak di undang kesini? Ngapain datang!" Suara Rabty bergetar. Ia langsung berdiri menatap Zoya yang menghampirinya.
Zoya mendekati Ranty, Riri berdiri dan mengahalangi Zoya, tapi Zoya menyingkirkan begitu saja oleh Zoya.
"Aku nggak ada urusan dengan kamu!" Sembur Zoya pada Riri.
Riri yang akan memegang tangan Zoya langsung tertahan di udara kerena melihat Ranty menggelengkan kepala, ada helaan kesal di wajah Riri. Anindya beranjak dari duduknya kerena melihat Zoya menyingkirkan kakaknya.
"Kakak hanya bela dirinya saja? Kenapa harus dia yang kau bela!" Teriak Zoya kasar.
"Aku nggak pernah bela Riri maupun Anindya! Kamu perlu tahu dek kalau aku selalu menyembunyikan semua yang kau lakukan dari mereka. Tapi kenyataannya malah kamu menjadi jadi seperti ini?" Ujar Ranty.
"Kak! Aku adikmu bukan dia?" Ketus Zoya terluka..
"Adik? Adik darimana? Kalau kamu memang adik kakak, jangan sakiti dirimu dengan hal hal yang tidak ada faedahnya."
"Kak!"
Zoya menahan perasaannya. Ia tidak menyangka kalau kakaknya yang selama ini menjadi panutan malah menjauhi dirinya, ya ia merasa sekarang Ranty jauh darinya sejak menikah dengan Bayu. Zoya ingin sebenarnya memeluk kakaknya tapi ia merasa iri pada Riri yang bukan siapa siapa Ranty malah mendapatkan apa yang diinginkan.
Itu hanya perasaan Zoya saja kerena ia juga tidak tahu bagaimana Ranty berjuang untuk mendapatkan cinta kedua putri Bayu dan Wulan. Zoya juga tidak tahu apa yang dilakukan Ranty hanya untuk diterima oleh Riri, ia tidak tahu itu.
Ranty sebenarnya sudah lelah untuk mempertahankan semuanya tapi ia berusaha tegar biarpun ritindan Anindya berusaha memisahkan dirinya dengan ayahnya apalagi sekarang ia sedang hamil. Dan yang lebih berat lagi ia harus berpisah dengan Zoya, Ranty sebenarnya ingin Zoya tetap disampingnya tapi kenyataannya Zoya melah meninggalakan dirinya dan memusuhi Ranty.
Ranty yang mendengar panggilan Zoya hanya terdiam saja, ia sebenarnya ingin memeluk tubuh adiknya seperti dulu, tapi perasannya masih belum.menerimanya. Ya ia hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah, sekarang ia membiarkan Zoya menangis.
Riri dan Anindya hanya menatap Zoya tanpa bergeming sama sekali.*
__ADS_1