
Di ruangan perpustakaan, Ranty hanya tersenyum getir mengingat perkataan adiknya. Adik bungsunya Zoya. Ya sesampainya ia di sekolah, Zoya telpon bakal melakukan sesuatu pada orang yang terdekat Bayu.
Ranty tidak tahu sama sekali orang yang terdekat dengan suaminya, ia juga sebenarnya ingin tahu apa yang bakal zoya lakukan pada orang yang terdekat dengan Bayu.
Sedangkan Zoya dengan wajah yang sinis, mengancam Ranty untuk tetap hati hati kerena ia juga bakalan melakukan apa yang akan dilakukan pada orang yang terdekat dengan Bayu.
Awalnya Ranty tidak pernah mengubris segala ancaman adiknya, tapi mendengar keseriusan adiknya Ranty merinding mendengar ancaman dari adik bungsunya. Ia tidak menyangka Zoya akan melakukan sesuatu pada orang yang terdekat dengan Bayu.
"Aku nggak main main kak, apa yang aku ucapkan bakal ke bukti. Kamu jangan menyesal apa yang akan pernah aku lakukan. padanya." telpon Zoya pada Ranty..
Ranty gemetar sekali mendengar kata kata yang keluar dari mulut Zoya, ia merinding akan niat yang bakal zoya lakukan..
"Zoya maksud kamu apa? Jangan main main dengan perkataan yang kamu katakan!" teriak Ranty ingin tahu.
Ia benar benar emosi, kaku saja Zoya ada dihadapannya ia ingin sekali menampar muka adiknya dengan keras, tangannya terkepal menhan emosi yang telah sampai ubun ubun nya.
"Aku nggak pernah main main kak, apa yang aku katakan akan aku buktikan!" suara Zoya penuh dengan kebencian.
Zoya mengatakan itu kembali, di wajah Zoya terlihat riang sekali kerena telah membuat hati kakaknya ketakutan. Zoya ingin kalau Ranty menyerah menjadi istri Bayu. Kalau saja kakaknya mau berhenti jadi istri Bayu mungkin ia tidak bakal melakukan sesuatu pada orang yang telah menjadi target dirinya.
Zoya benar benar tertawa, tawa yang terdengar oleh Ranty seperti tawa orang gila saja. Tapi Ranty berusaha mendengar kan apa yang di bicarakan oleh Zoya..
"Zoya apa yang akan kamu lakukan pada siapa?" tanya Ranty ingin tahu.
Akhirnya kata kata yang keluar dari mulut Ranty, sebenarnya ia ingin tahu sasaran Zoya siapa jadi ia bisa dengan mudah menolong Target Zoya. Tapi Zoya dengan renyahnya tertawa dengan nyaringnya membuat hati Ranty merinding seketika juga.
"Tunggu saja, kamu nggak bakal menyangka kalau aku yang melakukan ya ha ha ha," tawa Zoya sambil menutup telponnya.
Zoya puas membuat hati kakaknya ketar ketir khawatir. ia nyakin kalau sekarang kakaknya bakal mencari tahu siapa target yang bakalan ia targetkan.
__ADS_1
"Zoya!" panggil Ranty shock. Tapi teriakan Ranty tidak pernah digubris adiknya
Wajah Ranty pucat seketika juga kerena ia tidak menyangka kalau Zoya mengatakan itu padanya, ia hanya takut kalau kata kata Zoya terbukti.
Hati Ranty teriris iris mendengar Zoya yang penuh dengan kebencian pada dirinya, masalah sepele kerena ia menikah dengan Bayu. Ranty tudks tahu kenapa Zoya sangat membenci Bayu, Ranty tidak tahu apa yang pernah terjadi pada Zoya dsn Bayu, kalau ia mencari tahu pada Bayu pasti suaminya bakal marah dan menuduh dirinya membela keluarganya.
Ranty sebenarnya sudah lelah dalam keadaan seperti ini, apalagi akhir akhirnya Bayu sering tersinggung, kalau ia salah bicara atau salah bertindak dihadapannya.
Ranty berusaha menghubungi Zoya tapi hp sang adik sepertinya dimatikan begitu saja. Ranty hanya bisa pasrah dan akan mengikuti skenario adiknya.
"ya Allah apa yang aku harus lakukan," bisik Ranty dalam hati.
Ia nyakin kalau Zoya bakal melakukan apa yang ia katakan masalahnya Ranty tahu Zoya itu seperti apa.
Zoya yang dipikirkan oleh kakaknya sedang berada di kampus negeri di daerah Banten. Sebuah kampus yang tidak jauh dari sebuah terminal. Ia sedang duduk dengan kedua temannya tapi bukan Rara yang ada disana.
"Jangan gegabah Zoya, aku hanya takut ketahuan," cegah gadis rambut panjang menatap wajah Zoya.
"Eh! itu sadis sih menurutku, aku punya ide buat membuat dia jera." ujar rambut pendek.
Si rambut pendek lanhsung berbisik ke telinga nya Zoya, mata Zoya berbinar saat mendengar apa yang dibisikkan oleh teman rambut pendek itu. Zoya mengangguk angguk setuju apa yang dikatakan oleh temannya tadi, sedangkan si rambut panjang menatap bigung apa yang mereka katakan sama sekali tidak kedengaran.
Akhirnya Zoya memberi tahukan rencana rambut pendek ke rambut panjang. si rambut panjang mengangguk saat ia tahu apa yang bakal dilakukan oleh Zoya.
"Aku setuju, dan kamu bakal menyimpan dimana hasilnya?" tanya Si pendek menatap Zoya.
"Aku bakal datang ke sekolah kakakku dan menyimpannya di bawah." kata Zoya tersenyum.
"Sekarang juga aku dan dia sebenarnya ada janji sih ketemu dengan om Burhan," kata Zoya jujur.
__ADS_1
Zoya tanpa permisi lagi langsung meninggalakan dua temannya menuju dalam kampus. Kerena ia sudah janjian sama temannya lagi, ada senyum yang menghiasi wajah Zoya.
"Zoya! kita jadikan pergi?" tanya Riri menghampiri Zoya yang berjalan.
"Jadi dong! Bagaiamana kalau kita pergi sekarang," kata Zoya.
Riri langsung mengangguk setuju kerena ia diajak jalan oleh Zoya tanpa tahu apa yang bakal Zoya lakukan pada dirinya. Zoya mengambil hp dsn menelpon seseorang untuk datang ke kampus dirinya.
Hanya tiga puluh menit. Sebuah Fortuna hitam datang menghampiri kedua remaja itu, keduanya langsung naik ke dalam Fortuna dengan perasaan senang dan riang sekali.
Berbeda dengan Riri. Zoya senang kerena ingin memperlihatkan kalau omongan pada Ranty bakal terjadi dan dibuktikan pada malam ini. Sedangkan Riri senangnya kerena ia bakal bersuka suka di pantai yang telah dijanjikan oleh Zoya.
Ya Riri gadis yang tidak tahu siapa Zoya, dan malah menjadikan Zoya sahabat akrabnya.
Setelah memakan waktu beberapa menit mereka turun dari mobil menuju sebuah hotel di Anyer. Ya malam itu mereka.berdua bakal menginap kerena Zoya ada janji dengan om Burhan untuk bertemu di hotel pada malam hari.
Sebelum Burhan datang Zoya mengajak Riri untuk makan dan bersenang senang dulu, kerena hotel yang Zoya pesan terdapat di pinggir pantai yang indah sekali, apalagi deburan ombak sampai terdengar ditelinga.
"Zoya , tahu nggak aku senang sekali kamu ajak ke hotel. Seumur hidupku nggak pernah ke hotel seperti ini, apalagi menginap," kata Riri polos.
Apa yang dikatakan oleh Riri itu yang sebenarnya, ia menyadari kalau penghasilan ayahnya tidak mungkin untuk bisa tidur di hotel setiap malam.
Zoya yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Riri hayang mengangguk angguk saja, ia puas sekali mendengar apa yang Riri katakan padanya. Dan Zoya membanyangkan wajah kakaknya yang panik dan shock melihat apa yang ia lakukan.
Malam telah tiba. Burhan laki laki umur 45 tahun datang sendirian tubuhnya bongsor, perutnya ke depan seperti wanita hamil waktunya lahiran.
Wajahnya putih bersih, suaranya lembut. Zoya dengan senang hati menyambut Burhan dengan hangatnya. Zoya juga mengenalkan Riri pada Burhan, ia memberi kode pada laki laki itu kalau gadis yang ada di depannya adalah gadis yang dibawa untuknya.
Ada senyum tipis di wajah Burhan saat tahu ada mangsa yang sangat mengiurkan dihadapan nya mata laki laki itu berkeliaran menatap tubuh Riri.*
__ADS_1