MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Kekhawatiran Anindya


__ADS_3

Pagi telah jatuh. Mentari pagi muncul dengan malu-malu. Burung kecil sedang menari kesana kemari, menyambut indahnya bumi. 


Di ruang perpustakaan SMPN I Angsana. Ranty dengan lincahnya membereskan buku yang berserakan tidak beraturan. Ia, mengumpulkan bahan pustaka menurut klasifikasinya, dengan antusiasnya ia membersihkan perpustakaan dari debu dan kertas yang tercecer. 


Tiba-tiba Ranty mengusap perut bagian bawahnya yang terasa kram. Akhirnya ia duduk di bangku, untuk menghilangkan rasa sakit ia mengusap lembut bagian bawah perutnya.


Ia langsung duduk untuk mengurangi rasa sakit di bawah perutnya. Tapi matanya menatap seluruh ruangan perpustakaan dengan melihat buku buku yang tersusun dengan rapih.


Ia hanya mendesah saat ingatan dirinya pada Anindya, menurut dirinya Anindya mulai baik ya biarpun tidak sepenuhnya menerima dirinya tapi ia jujur mereka bahagia sekali dengan perubahan Anindya.


Tapi ia tidak pernah meminta lebih dari semuanya yang gadis itu miliki, ia hanya bersyukur masih bisa mendampingi gadis itu ya biarpun harus menempuh jalan seperti ini.


Ya waktu itu kejadian yang tidak pernah ia lupakan dan membuat Anindya agak berubah menurutnya biarpun tidak drastis juga. Ia menghela nafas panjang mengingat kejadian itu.


Kalau tidak salah itu waktu Senin, setelah upacara selesai. Ia meneruskan buku yang tercecer begitu saja, membuat pekerjaan dirinya full, waktu itu gadis 15 tahun datang wajahnya di tekuk begitu saja, Ranty tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu!


Tapi ia diam saja waktu Anindya datang ke perpustakaan.


“Assalamualaikum,”ucap seseorang mengucapkan salam. 


“Walaikumsalam,”jawab Ranty tersenyum melihat kedatangan Anindya. 


Sebenarnya Anindya malas mendatangi perpustakaan, apalagi harus bertemu dengan Ranty. Tapi tujuan ia ke perpustakaan bukan bertemu dengan Ranty, tapi ia butuh buku yang di minta ayahnya. Ya, biarpun Bayu kapsek di SMP, kalau tidak ada guru pasti ayahnya masuk kelas daripada ada siswa yang main di luar lebih baik ayahnya mengisi waktu bersama siswanya. 


Anindya, menuju buku yang di pinta oleh ayahnya, yaitu buku IPA yang berada di sebelah kiri. Anindya mengambil satu buku dan langsung ke meja pustakawan, Ranty masih duduk disana. 


“Nin, boleh bicara sebentar?”


“Bicara apa,bu?”tatap Anindya heran. 


“Kita bicara sebagai guru dan murid,”kata ranty. 

__ADS_1


Akhirnya Anindya duduk dihadapan ranty. Hanya yang memisahkan meja saja. 


“Boleh ibu tahu? Apa maksudmu atas kata-katamu kemarin’kenapa bukan mama yang hamil? Apa yang terjadi pada mamamu?” kata ranty menatap wajah bersih itu. Wajah Anindya bagai pinang dibelah dua dengan ibunya, Widya. 


“Apa perlu aku cerita pada ibu tentang mama? Seharusnya kalau ibu sahabat mama, ibu tahu masalahnya?” Anindya sinis. 


“kalau kamu nggak mau bilang juga nggak kenapa-kenapa kok! Nin, biarpun kami pernah bersahabat, nggak semua diceritakan,”  kata Ranty lembut. 


Anindya akhirnya beranjak dari duduk.  Ranty berdiri dan  langsung menyentuh tangan Anindya. Gadis itu menepiskan tangan Ranty dengan kasar, ranty tidak menghindar akhirnya ia terjatuh dan pungungnya terbentur kursi. Anindya shock melihat itu! Apalagi dengan mata Anindya melihat Ranty meringis kesakitan, tangan Ranti memegang perutnya. 


“Ibu,”teriak Anindya spontan. 


Anindya langsung menyentuh bahu Ranti dengan lembut. Ranty menatap wajah Anindya, ia mengelengkan kepala. 


“Bu, maaf.”


“Ibu nggak kenapa-kenapa,kok! Tadi juga perut ibu sakit. Udah kamu ke kelas saja, ibu nggak kenapa-kenapa.” Pinta Ranty menyuruh Anindya pergi. 


“Ibu bener nggak apa-apa?”tatap Anindya. 


“Udah sana pergi. O,ya. Jam siapa?”Tanya Ranty sambil menyentuh bahu Anindya. 


“Pak Ageng, tapi beliau nggak datang.”kata Anindya sambil meninggalkan perpustakaan. 


Ranty mengigit bibir bagian bawah. Setelah Anindya hilang dari pandangan, Ranty duduk di bangku sambil menahan sakit di perutnya. Pungungnya terbentur. Perut bagian bawah terasa sakit. Ranty berusaha menahan sakit sebisanya. Untung perpustakaan sepi, tidak ada siswa yang ada disana. 


Semua siswa ada di kelas masing-masing. Ranty merebahkan tubuhnya di bawah mejanya. Untung ada tikar, untuk digunakan untuk tiduran. 


Dikelas 9E, perasaan Anindya tidak tenang. Gelisah. Hatinya masih tertinggal di ruangan pustaka, awalnya Anindya ingin izin, tapi niatnya diurungkan. takut ayahnya selaku kapsek di sekolah tahu. Selama pelajaran IPA yang diberikan Bayu, Anindya tidak bias menangkap ilmu yang disampaikan Bayu. Sebenarnya matanya melirik jam yang ada di atas papan tulis, jam seperti berhenti untuk Anindya. Gadis itu tidak ingin apa yang terjadi pada mamanya terjadi juga pada Ranty. 


PLONG!

__ADS_1


Hati Anindya bersorak. Bel pergantian pelajaran berbunyi. Bayu pamit pada siswa di kelas 9E. 


Anindya langsung ke perpustakaan melihat apa yang terjadi. Tapi, saat ia masuk ke perpustakaan gadis manis itu, melihat Ranty sedang membereskan buku yang berserakan. Ada lega dalam hatinya. Tapi, untuk mendekati gadis 14 tahun tidak berani. 


“Nindy,”panggil Ranty, saat melihat Anindya. 


“Aku Mau mengembalikan buku,”Alasan Anindya. 


Ranty tersenyum. Anindya berjalan menuju meja, menyimpan buku diatas meja yang digunakan Ranty. Pustakawan itu mendesah halus, melihat Anindya yang terlihat kikuk dihadapannya. 


“Sekarang jam siapa?” Tanya ranty, mendekati mejanya. 


“MP,bu.”. 


“Kok, kamu nggak ngajak teman-teman kamu membaca disini?”


“Emang boleh ya bu?”


“Kenapa nggak, kan jadwal baca buku di perpustakaan?”


“kan, takut ibu perutnya sakit lagi.”Anindya menunduk. 


Deg!


Hati Ranty bergetar saat mendengar kata-kata Anindya. Tapi perasaan keibuan untuk Anindya di tepiskan begitu saja. mungkin Anindya khawatir pada Ranty kerena Ranty adalah guru di sekolahnya bukan khawatir anak pada ibunya! Hibur hati Ranty. Pustakawan itu hanya menelan ludah dan mendekati Anindya, dengan lembutnya meraih tangan Anindya. 


“Anindya, ini pekerjaan ibu sebagai pustakawan. Ibu juga nggak kenapa-kenapa kok,”


“Oke!”


Anindya berlari keluar dan memanggil teman-teman untuk membaca buku di perpustakaan. Ruangan yang sepi, kini penuh dengan anak-anak yang membaca, ada juga anak yang mengobrol, diskusi.

__ADS_1


__ADS_2