
"Nin, please jangan seperti itu," cegah Zahra.
Zahra mencegah Anindya kerena gadis itu curhat ia menyangka kalau Ranty yang melakukan penyebaran gambar Riri kakaknya.
"Ra, aku nyakin kalau di pelakunya!" teriak Anindya gusar. .
"Kamu nggak ada bukti apa apa Nin, kalau nggak ada bukti itu fitnah ujung ujungnya," Zahra berusaha untuk mencegah Anindya.
"Kamu bisa saja bilang seperti itu kerena kamu nggak ada diposisi aku!" ketus Anindya sambil melepaskan tangan Zahra yang memengang tangannya.
Anindya langsung berlari mencari Ranty yang pagi itu seharusnya telah tiba ke sekolah, tapi saat Anindya melihat pintu perpustakaan masih tutup mata gadis itu hanya menatap kosong.
Dibelakangnya Zahra yang mengejar juga berhenti menatap pintu perpustakaan tertutup rapat. Anindya hanya terduduk lemas melihat pintu perpustakaan yang tertutup, ya seharusnya lagi itu Ranty telah membuka pintu perpustakaan tapi sekarang entah tidak tahu.
"Seharusnya dia pagi ini udah datang," lirih Anindya menunduk.
"Kamu senang kan kalau ibu Ranty nggak ada seperti ini? Percuma ada juga kerena kau selalu memusuhi beliau!" sembur Zahra mengeluarkan kata kata ketusnya lada Anindya.
Gadis itu langsung meninggalkan Anindya yang masih terduduk di belakang WC siswa, ada sesuatu yang hilang saat Ranty tidak masuk sekolah, ada rasa kehilangan yang menyeruak dalam hatinya.
'Bu, kenapa kita seperti ini? Sebenarnya aku kangen ibu, aku ingin ibu dan aku seperti dulu lagi, aku jahat ya Bu," bisik Anindya dalam hati..
Gadis itu tiba tiba dengan reflek mengusap matanya yang tiba tiba ada cairan yang keluar, ia hanya menghela nafas dan pergi dari tempat itu.
Di kelas ia benar benar tidak fokus belajar, saat guru mapel IPA menjelaskan tentang alat reproduksi, Anindya memang memperhatikan tapi pikiran nya tertuju ke Ranty yang pagi ini tidak datang.
Zahra yang melihat, langsung menyikut tangan Anindya tapi gadis yang di sikutnya seperti tidak memperdulikan. Akhirnya Zahra membiarkan Anindya terdiam, ia juga heran kenapa sikap Anindya berubah seperti itu.
Guru mapel IPA melontarkan pertanyaan pada Anindya tapi gadis itu tidak bisa menjawab dengan tepat.
__ADS_1
"Kamu ada masalah Anindya?" tanya guru mapel IPA menatap wajah Anindya lembut.
"Nggak ada kok Bu,"
"Kamu selesai ini ke ruangan ini!" perintahnya lada Anindya. Gadis itu hanya mengangguk saja.
Setelah istirahat Anindya langsung ke ruangan guru, disana banyak guru guru yang sedang bercanda, Mein hp, mengunakan laptop dll.
Anindya menuju bangku guru mapel IPA, mereka akhirnya menuju ruangan yang kosong. Hati gadis itu berdebar dengan keras sekali, saat gitu mapel itu menyuruh dirinya duduk. Anindya akhirnya duduk dan gurunya juga duduk, hanya meja yang jadi pemisah diantara mereka.
Pintu pun di tutup rapat rapat supaya tidak ada orang yang masuk.
"Ceritakan apa yang kamu pikirkan?" tanya gitu itu manatap wajah Anindya tajam.
Anindya tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh gurunya, ia hanya menghela nafas dan menunduk kepala, Anindya tidak ingin semuanya tahu tentang hatinya.
"Kaku mau cerita cerita lah, jangan sampai masalah yang kamu hadapi itu merusak belajar kamu, apalagi prestasi kamu ya," nasehat guru itu tersenyum.
"Syukurlah kalau nggak ada masalah apa apa, jangan sungkan cerita ya." kata guru itu sambil.menyentuh tangan Anindya lembut.
Anindya menarik tanganya, ia hanya mengangguk saja. Kerena tidak ada pembicaraan lagi guru mapel menyuruh Anindya keluar dari ruangan itu, sedangkan dirinya tidak.
Guru mapel hanya menatap kepergian Anindya, ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat semua yang ia lihat dari Anindya semuanya kacau.
Akhirnya ia pergi juga di ruangan itu, lanhsung menuju ruang guru. Sedangkan Anindya hanya memandangi pintu perpustakaan yang tertutup, Zahra yang melihat Anindya ke ruangan perpustakaan langsung menghampiri sahabatnya.
"Sepi ya nggak ada ibu Ranty, aku kan pengen baca buku," ujar Zahra.
Gadis itu seperti memancing reaksi dari apa yang ia bicarakan, matanya juga melirik wajah Anindya yang hanya menatap dedaunan yan yang tertiup angin sepoi Sepoi yang mempermainkan kerudung yang dipakainya.
__ADS_1
Aninda hanya diam saj mendengar apa yang keluar dari mulutnya Zahra ia sama sekali tidak bereaksi. Hanya matanya menatap wajah Zahra kalau tatapan matanya dialihkan ke tempat parkiran yang tidak jauh dari ruang perpustakaan.
"Udah 2 Minggu ini Ranty nggak sekolah, kamu pernah nanya nggak sama ayah kamu?" tanya Zahra hati hati.
"Nggak aku nggak pernah bicara sama ayah sejak,," gumam Anindya tidak meneruskan kata katanya.
Tapi biarpun Anindya hanya bergumam Zahra mendengar dengan jelas apa yang Anindya bicarakan, waktu Anindya tidak melanjutkan bicaranya Zahra langsung menghujamkan matanya kearah mata Anindya.
Gadis itu hanya membuang muka saat tatapan mata Zahra mengarah pada dirinya.
"Kenapa? Seharusnya kamu cari tahu ibu Ranty?" hujan Zahra.
"Buat apa?"
"Bagaimana pun juga ibu Ranty bawahan pak Bayu, ya sebagai kepala sekolah yang baik seharusnya tegur ini Ranty, kalau alasan tepat ya udah," kata Zahra menjelaskan apa yang ia ingin bicarakan.
Anindya langsung terdiam mendengar penjelasan Zahra, apa yang dikatakan Zahra sebenarnya benar sih, kalau ia tidak egois. Ya hati Anindya masih tidak menerima Ranty sebagai ibu sambungnya itu saja, ia juga sebenarnya tidak ingin kalau mereka bersama.
"Kalau kamu bisa turunkan ego kamu pada ibu Ranty, jadi bedakan antara pribadi dan sekolah." nasehat Zahra.
Anindya hanya mendengus mendengar apa yang Zahra katakan lada dirinya, ya Zahra teman satu satunya yang sampai sekarang peduli lada dirinya. Zahra yang sering tahu masalah dirinya dengan ibu Ranty tapi Zahra malah memberikan yang terbaik buat dirinya.
"Ayah mu juga harus menegur ini Ranty bagaimana pun ibu Ranty di sini hanya sebatas tenanga pengajar, ya kalau di rumah lain lagi sih." jelas Zahra mendekati Anindya sambil menepuk bahu Anindya yang sedang duduk.
Zahra duduk di samping Anindya. Tapi Anindya langsung meninggalakan Zahra begitu saja, Zahra menatap kepergian Anindya dengan herannya.
Anindya langsung masuk kelas dan mengambil tas lalu pulang begitu saja, Zahra diam saja melihat Anindya seperti itu.
'ya Allah buka hati Anindya untuk menerima ibu Ranty, ya biarpun ibu Ranty salah tapi mungkin ada alasan yang mengharuskan ia menjadi istri kedua," bisik hati Zahra.
__ADS_1
Ia ingin sekali melihat keakraban Anindya dengan ibu Ranty kembali, ya Zahra jadi saksi sebelum ibu Ranty menikah dengan pak Bayu, keakraban mereka selalu diacungi jempol, ya keakraban Anindya dan ibu Ranty..
Anindya tidak peduli pada Zahra biarpun Zahra masih ada di perpustakaan. Ia pergi membawa motor yang ia bawa, ia langsung pulang ke rumahnya. Rumah terlihat sepi sekali, ia menuju kamar dan duduk di dekat lemari bajunya.*