
"Kamu sebenarnya dari mana?" tanya Bayu ketika melihat Ranty pulang.
Ranty tidak berkutik mendapat pertanyaan dari Bayu, ya hari ini ia pulang setelah dua hari menginap di rumah orang tuanya. Ia sangat terkejut kerena Bayu ada di rumah itu. Matanya menatap dirinya dengan tajam sekali, Ranty mudur beberapa langkah ke belakang kerena Bayu yang awalnya duduk, langsung berdiri dan berjalan ke depan Ranty.
Terlihat wajah Ranty memucat seketika saat Bayu mendekati dirinya, hatinya berdebar sangat keras, ia telah salah meninggalakan rumah tanpa izin dari Bayu jadi wajah kalau sang suami baka marah.
Ranty menghentikan mundurnya kerena tubuhnya telah menyentuh dinding rumahnya. Bayu mendekati wajah Ranty, Ranty hanya menunduk sambil menghalangi wajahnya mengunakan tangan. Hatinya berdebar dengan keras apalagi sampai nafas Bayu terdengar halus dan lembut ditelinga nya.
Tangan kanan Bayu langsung menyentuh dinding sebelah kanan untuk menahan tubuhnya, sedangkan Ranty terdesak dsn menyandarkan tubuhnya. Tangan Bayu yang kiri memainkan ujung kerudung yang digunakan oleh Ranty.
Bayu sejak kemarin di rumah Ranty, ia menanyakan keberadaan Ranty tapi mbok inem hanya menggelengkan kepala. Mbok Inem tidak memberi tahu Ranty kemana, kerena ia juga tidak tidak tahu Ranty pergi kemana. Ranty tidak bilang kalau ia akan pergi ke suatu tempat.
Waktu Ranty pergi, Bayu datang ke rumah yang ditempati oleh Ranty. Tapi Ranty sudah pergi begitu saja, sorenya ia juga datang tapi Ranty tidak ada. Dihubungi juga hp Ranty tidak aktif Sam sekali. Ia sangat khawatir keadaan Ranty.
Paginya ia juga menunggu Ranty dari pagi sampai sore tapi Ranty tidak pulang, dihubungi oleh nya tidak aktif. Bayu terlihat resah sekali kerena istrinya tidak pulang, ia tidak bisa menghubungi siapa siapa kerena memang Ranty tidak punya saudara di sini.
Beberapa kali ia menatap mbok Inem yang mengerjakan segala sesuatu, Bayu tidak bisa memaksa wanita tua itu untuk menceritakan Ranty pergi kemana. Kerena Bayu sudah tahu kalau mbok Inem tidak tahu ia bakal bilang tidak tahu, kalau bilang tahu ia pasti ia tahu.
Ya Bayi menunggu Ranty sudah tiga hari. Tiga hari berturut turut Ranty pergi tanpa kabar, ia berusaha untuk sabar biarpun hatinya sebenarnya kecewa pada Ranty yang pergi begitu saja.
Pas hari ketiga, Ranty pulang. Ia tidak menduga kalau Bayu bakal menunggu di rumah.
"Kenapa nggak kamu jawab? Kamu pergi kemana?" tekan Bayu terdengar menyeramkan di telinga Ranty.
"Mas, jangan begini lah," hindar Ranty agak mendorong tubuh Bayu supaya menjauh darinya.
"Kenapa? Aku suamimu, aku berbuat apa apa juga kau adalah istriku," ketus Bayu.
Ia tidak mengubris apa yang Ranty katakan, Mala mencengkram bahu Ranty dengan keras.
"Sakit!" jerit Ranty.
__ADS_1
"Kamu dari mana?" tanya Bayu lagi.
"Aku menemui Zoya," akhirnya itu yang keluar dari mulut Ranty.
Ada sedikit kejut di wajah Bayu saat Ranty menyebut nama Zoya. Ada helaan nafas yang kasar keluar dari mulut Bayi, ditatapnya wajah Ranty dengan tajam.
"Kenapa kau temui dia?" Gelagar Bayu tiba tiba.
"Zoya sakit." dusta Ranty.
Ia tidak mungkin menceritakan kelakuan Zoya pada Bayu, apa yang dilakukan Zoya pada Riri. Ia bakal kena marah kalau sampai Bayu tahu kelakuan Zoya apalagi kelakuan Zoya menimpah Riri. Kalau saja Zoya tidak melakukan pada orang lain otomatis ia bakal cerita biarpun ia kena damprat juga.
Mata Bayi terbelalak waktu bilang kalau Zoya sakit.
"Kamu datang sendiri tapi kenapa kamu nggak hubungi aku?" tanya Bayu terlihat kesal.
"Aku nggak ngajak mas keren aku.takut mas dan Zoya bakal betengkar lalu ketemu," ujar Ranty bernafas lega.
"Aku kecewa sama kamu, biarpun aku dan Zoya bertengkar nggak mungkin kan aku marah marah sama Zoya apalagi Zoya sakit."
"Maafkan aku mas. Tahu nggak Zoya juga khawatir sama aku, ia juga menanyakan mas," dusta Ranty.
Melihat Bayu seperti tidak marah, ia mendekati Bayu. Hatinya masih berdebar kalau kalau Bayu mencium kebohongan dirinya terhadap Zoya yang sakit. Tapi bagaimana pun Ranty tidak ingin kalau Bayu tahu yang sebenarnya.
*
Malam hari Riri menelpon Bayu, menceritakan kalau ibu sambungnya datang ke kostan.
"Apa? Ateu Ranty kesana? Kapan?" tanya Bayu kaget.
"Apa?" tanya Anindya.
__ADS_1
Gadis 15 tahu kaget mendengar pertanyaan ayahnya yang sedang bicara dengan Riri. Ya tadi yang menerima telpon adalah dirinya dan Anindya sengaja loud speaker suara hpnya supaya ia mendengar apa yang dikatakan Riri kakaknya.
"Aku nggak suka dia.kesana? Buat apa sih dia kesana?" tanya Riri heran.
Riri tidak tahu kalau tujuan Ranty datang ke kosannya bukan untuk menemuinya, tapi menemui Zoya. Itu yang Riri tidak tahu dan ia juga tidak pernah menanyakan kedatangan Ranty ke kosannya.
Ia keburu pergi begitu saja. Tidak memperdulikan kehadiran Ranty. Bayu yang mendengarkan cerita Riri hanya termenung saja apalagi saat Riri mengungkapkan kalau Ranty tahu masalah gambar yang pernah ada di tangan ayahnya.
Bayu tidak menduga sama sekali kalau Ranty kesana, ia percaya kalau Ranty menjenguk adiknya ke rumah sakit, itu yang diceritakan oleh Ranty lada dirinya.
Tapi kenyataannya Ranty malah mendatangi Riri ke kosannya buat apa?
Bayu tidak tahu kalau Zoya juga kost bareng Riri, Ranty datang juga untuk mendekati adiknya itu saja, tapi kenyataannya ia disan ketemu dengan Riri. otomatis Ranty memberikan nasehat buat Riri, tapi tiri keburu pergi begitu saja tidak peduli pada Ranty.
Anindya yang mendengarkan pembicaraan ayah dan kakaknya hanya diam saja, ia tidak menyangka kalau Ranty ke kosan kakaknya. Ia menduga kalau Ranty pasti mengungkit masalah gambar itu. Gara gara gambar Riri, mamanya sampai sekarang hanya diam dan pandangan kosong sepertinya Wulan shock dan tidak menyangka kalau Riri seperti itu.
Anindya mengepalkan tangannya kecewa pada Ranty yang menurutnya selalu ikut campur dalam masalah rumah tangga keluarganya.
Anindya langsung beranjak dari kursi meninggalkan ayahnya di ruangan tamu, ia menuju teras dan mengendarai roda dua menuju rumah Ranty.
"Ibu puas telah memarahi kakak, ibu kesana hanya untuk itu?" sembur." Sembur Anindya pada Ranty yang sedang membaca di teras rumahnya.
Ranty terkejut melihat kedatangan Anindya yang tiba tiba datang dan marah marah padanya. Ia tidak menyadari kedatangan Anindya yang kini dihadapannya..
"Anindya, kapan kamu datang?" tanya Ranty ramah menyambut Anka sambungannya.
"Kamu mau minum apa, ibu ambilkan ya?" lanjut Ranty sambil beranjak dari duduknya.
"Cukup, Bu! Jangan pura pura baik!" teriak Anindya emosi.
Ia bukannya luluh mendengar ucapan lembut Ranty malah Anindya makin kasar dan tidak sopan santun sama Ranty. Ranty yang mau beranjak hanya diam saja mendengar kata kata kasar yang keluar dari Anindya dalam hatinya hanya mengucapkan Istigfar berkali kali.*
__ADS_1