MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Curhatan Anindya 1


__ADS_3

Anindya hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh Ranty. Cerita gurunya sama persis seperti apa yang di ceritakan oleh mamanya Wulan. Sebenarnya Anindya sudah mendengarkan cerita dari Wulan sebelum Ranty dan Bayu menikah.


Ya Anindya mendengarnya ketika ia pertama bertemu dengan Ranty. Waktu itu Wulan bertemu pertama kali dengan Ranty di sekolah, Anindya ingat itu. Wulan datang hanya untuk melakukan.legalisir ijazah. Dan mereka berbincang bincang ada saat itu.


Anindya yang melihat itu, langsung menanyakan tentang Ranty pada Wulan sewaktu ia pulang dari sekolah. Anindya hanya mengangguk angguk kepala saja waktu Wulan memuji kreativitas yang dimiliki oleh Ranty sendiri.


"Kalau kamu ingin belajar menulis sama ibu Ranty, ia jago kok menulis novel maupun cerpen." puji Wulan waktu itu.


Sejak saat itu Anindya langsung menyukai Ranty. Entah ia juga tidak tahu sama sekali apalagi mendengar apa yang diceritakan oleh Wulan. Anindya selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan dan selalu sharing tentang cara menulis yang baik.


Tapi keakraban yang terjalin antar dirinya dan Ranty pupus kerena pernikahan ayah dan Ranty yang membuat dirinya.menarik diri dari Ranty. Ranty merasakan itu, tapi tidak bisa berbuat apa apa.


Anindya masih saja mendengarkan apa yang disampaikan oleh Ranty. Untung perpustakaan sepi kerena memang semua kelas ada gurunya kecuali kelas Anindya. Seharusnya jam pertama yang masuk adalah pak Ilham kerena pak Ilham tidak ada maka hanya mengisi waktu dengan menulis. Selesai menulis akhirnya Anindya ke perpustakaan, bertemu dan mendengarkan apa yang diceritakan Ranty.


"Bu, tapi kenapa ibu harus menikah dengan ayah?" celetuk Anindya tiba tiba.


"Kalian sahabat. Tapi kenapa harus ibu yang menikah dengan ayah," lanjut Anindya sendu.


Hatinya benar benar berontak. Dosis lain ia ingin menerima Ranty, tapi disisi lain ia tidak bisa menerima Ranty. Anindya harus memilih mana, antara guru dan ibu sambung.


Ranty langsung menatap wajah gadi itu, ia melihat gerimis yang siap tumpah menjadi hujan.


Ranty langsung menyentuh tangan Anindya tapi gadis itu dengan cepat menghindar dari tangan Ranty.


"Maafkan ibu, Nin. Ibu nggak bisa menjelaskan semuanya, mungkin sudah takdirnya ibu harus masuk kedalam kehidupan kamu dan keluargamu," gumam Ranty.


Ranty secara reflek mengusap bagian perutnya yang semakin sakit, kram. Tapi ia berusaha menahan rasa sakit itu.


"Ibu mengakui kok! Semuanya salah ibu," ujar Ranty beranjak dari duduknya menuju ruang guru.


Tapi sebelum Ranty menuju ruang guru Anindya langsung mengejar Ranty yang telah sampai di luar perpustakaan.

__ADS_1


"Bu, kenapa harus ibu yang hamil. Kenapa bukan mama yang hamil," getir suara Anindya.


"Maksud kamu?" tanya Ranty heran.


"Mama tiga tahun yang lalu pernah keguguran, dan vonis itu yang membuat mama tidak bisa hamil dan lahiran lagi," cerita Anindya.


"Nin, cerita kamu bohong kan?" guncang tangan Ranty mengguncang bahu Anindya dengan kerasnya.


Ranty tidak percaya apa yang diucapkan oleh Anindya tentang Wulan, ya Ranty baru mendengar sekarang kalau Wulan pernah keguguran itu adiknya Anindya.


"Iya, Bu. Kenapa aku benci ibu sekarang. Kerena ibu nggak pantas jadi istri ayah dan manjadi ibu bayi itu! Kenapa nggak mama saja," Isak Anindya.


Ranty langsung memeluk tubuh Anindya dengan cepat sekali. Ranty yang awalnya akan ke ruang guru, akhirnya mengurungkan niatnya. Ia melepaskan pelukan dan membawa Anindya masuk ke ruangan perpustakaan, Anindya duduk di kursi yang tadi sedangkan Ranty duduk di kursi yang semula.


Anindya masih terisak, dan mengatur nafas. Ranty melihat semuanya hanya diam saja, ia mengusap pipi Anindya kerena ada cairan bening yang mengalir dalam pelupuk matanya Anindya. Gadis itu hanya diam saja, saat tangan wanita itu menyentuh pipinya.


Pemandangan yang indah seharusnya. Tapi pandangan itu yang membuat Ranty merasakan apa yang dirasakan oleh Anindya gadis SMP yang seharusnya mendapatkan kasih sayang Kino terbagi oleh dirinya.


"Aku benci ibu! Aku benci ibu," histeris Anindya.


Ranty berusaha menenangkan Anindya yang mengamuk. Gadis remaja itu menangis sambil menatap wajah Ranty dengan tajamnya. Sejujurnya ia terluka saat mendengar wanita itu hamil dari Bayu, tapi disisi lain ia harus menerima janin itu!


"Kenapa ibu yang hamil, kenapa bukan mama saja. Kenapa vonis dokter itu ada?" Raung Anindya sambil memukul beberapa kali tubuh Ranty brutal.


Ranty berusaha untuk menenangkan Anindya. Ia langsung meraih tangan Anindya, yang memukul tangan dirinya.


"Nin, kamu tenang, kamu tenang!"


"Mau tenang bagiamana Bu? Mama nggak akan bisa bisa hamil lagi, akibat benturan yang mengenai perutnya." Isak Anindya berusaha menahan gejolak hatinya.


Ranty mengigit bagian bawah bibir. Pernyataan Anindya membuat hatinya sakit sekali.

__ADS_1


"Apalagi saat mam mendengar kalau ibu hamil, itu membuat hati mama terguncang. Ibu harus tahu itu," ujar Anindya yang mulai tenang.


Ranty tidak bisa berkata kata mendengar apa yang diceritakan oleh Anindya. Berita ini baru ia dengar dari gadis 14 tahun. Gamang. Bayu sama sekali tidak pernah menceritakan keluarganya secara detil, Bayu pun tidak pernah cerita kalau Wulan pernah keguguran itu adiknya Anindya.


Ranty menarik nafas dalam dalam, lalu menghembuskan nafasnya kembali seperti mengeluarkan beban dalam hatinya yang menghimpit.


"Ibu puas, telah membuat kami hancur seperti ini. Jujur bu, mama mendengar ibu hamil oleh ayah kecewa pada ayah. Tapi mama bisa menahannya, pantas kalau ibu dikatakan kakak sebagai iblis!"


Deg!


Kata kata Anindya langsung mengenai hati Ranty. Gadis remaja itu langsung beranjak dari duduknya dan langsung meninggalkan Ranty.


"Nindy." panggil Ranty cepat sebelum Anindya keluar.


Wanita itu dengan cepat langsung meraih tangan Anindya. Gadis remaja itu langsung diam seketika mendengar pengiklan dari Ranty ia melirik ke arah Ranty.


"Trus apa yang harus ibu lakukan demi maaf dari kamu,"


"Kalau ibu ingin maaf dari aku gampang ada satu syarat yang ibu harus lakukan," suara tegas Anindya terdengar.


Ranty terkejut mendengar seruan yang keluar dari Anindya yang tegas , dan lembut sekali. Ranty mengangguk seketika ia.ingin tahu apa yang akan dilakukan Anindya kalau memang syarat itu tidak berat untuk ia lakukan ia bakal mengikutinya, tapi kalau syarat itu terlalu berat mungkin tidak akan dijalaninya.


"Ibu jangan Ge Er saat aku mengajukan syarat itu!"


"Oke!" tantang Ranty


Sejujurnya hatinya berdebar seketika ketika mulutnya bilang oke. Ia sebenarnya takut syarat yang diajukan oleh gadis itu fatal buat dirinya, tapi bagaimana pun harus didengar paa yang akan diucapkan oleh Anindya.


"Ini jaga trus kehamilan yang ibu alami sekarang. Jangan sampai kenapa kenapa seperti mama, jangan terlalu capai dan makan yang bergizi."


Gadis itu langsung berjalan keluar ruangan perpustakaan tanpa menunggu reaksi Ranty. Anindya mengucapkan itu kerena ia juga sebenarnya masih mengharapkan kelahiran bayi yang di kandung Ranty. Biarpun ia menolak pernikahan mereka.

__ADS_1


Ranty shock mendengarkan apa yang syarat yang diucapkan oleh anak SMP itu.Tiba tiba ada embun yang menyelusup dalam hatinya mendengar apa yang Anindya katakan. Awalnya ia ingin mengatakan pada Anindya tapi gadis itu telah pergi meninggalkan dirinya.*


__ADS_2