MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Ranty vs Anindya


__ADS_3

Ranty masih mengelus perutnya yang terasa sakit. Kram. Kerena tadi terbentur sangat keras, tapi ia tidak bilang apa apa pada Bayi ia hanya takut kalau Bayi tahu pasti bakal marah sama Anindya itu yang tidak diinginkan oleh Ranty sendiri. Makanya ia lebih baik diam saja, hanya bisa mengelus untuk mengurangi rasa sakit yang mendera perut bagian bawahnya.


Biarpun sakit, Ranty berusaha membereskan buku buku dan ia juga tidak ada niatan untuk pulang. Kalau sampai ia pulang takutnya Bayu curiga pada dirinya. Sampai pulang sekolah ia bertahan di sekolah, baru ketika bel pulang terdengar ia pulang.


Di rumah ia tinggal bersama mbok Inem salah satu orang yang di suruh Bayu untuk menemani Ranty. Awalnya Ranty menolak tapi Bayu menjelaskan kalau mbok Inem juga bantu bantu kerjaan rumah. Akhirnya Ranty mengerti dan mengangguk atas apa yang Bayu bicarakan pada dirinya. Alasan Bayi membawa mbok Inem supaya Ranty tidak mengerjakan pekerjaan rumah yang berat, apalagi diri sama sekali tidak mungkin bisa membatu pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Ranty.


Sampai rumah Ranty langsung shalat dzuhur. Setelah shalat ia langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang nyaman sekali apalagi kasur yang ditiduri terasa empuk, tangannya mengusap bagian perut bagian bawah.


"Bu," panggil mbok Inem mengetuk pintu kamar Ranty.


"Ya, mbok buka saja. Nggak di kunci kok!"


Mbok Inem langsung membuka pintu kamar Ranty, ia membawa semangkuk bubur yang dibuatnya tadi. Bubur kacang ijo kesukaan Ranty.


"Ibu, sakit?" tanya mbok Inem sambil jongkok di bawah ranjang.


Belum sempat Ranty menjawab pertanyaan dari mbok Inem tiba tiba terdengar gedoran pintu depan yang sangat kuat sekali. Sampai Ranty juga bangun dari rebahan nya. Mbok Inem memandang wajah Ranty dengan rasa terkejutnya kerena siang hari siapa orang yang mengedit pintu sangat erat sekali.


Mbok Inem langsung beranjak dari duduknya lanhsung menuju depan. Ranty mengikuti dari belakang ia penasaran siapa orang yang mengedit pintu siang siang seperti ini menganggu orang yang akan istirahat saja.


"Nindy," suara Ranty tercekat saat pintu depan terbuka.


Ranty sangat terkejut melihat kedatangan Anindya yang tiba tiba sekali, gadis itu masih mengunakan baju putih dan biru. Tanpa disuruh masuk gadis itu masuk dengan tergesa gesa dan menarik baju Ranty dengan kasarnya. Melihat itu mbok Inem langsung meraih tangan Anindya tapi Anindya berhasil mendorong tubuh tua itu.


Mbok Inem terjatuh. Ranty terkejut berusaha melepaskan tangan Anindya yang memegang tanganya. Tapi Anindya berhasil menarik tubuh Ranty, intinya Ranty tidak jatuh kalau jatuh bisa fatal sekali.


"Nindy! Apa apaan!" teriak Ranty berusaha melepaskan tangan Anindya dari bajunya.

__ADS_1


"Apa apaan? Kamu yang apa apaan, merampas kebahagiaan orang tanpa punya pikiran," geram Anindya marah.


"Jangan salah takdir Nin,"


"Takdir. Kamu bilang itu kerena kamu nggak ngerasain apa yang dirasain kami. Kamu hanya ingin merampas kebahagian saja," Dengus Anindya.


"Kamu sudah sholat. Kalau belum lebih baik sholat dulu," ujar Ranty mengalihkan perhatian supaya Anindya tidak marah marah.


"Jangan sok perhatian!" cerca Anindya tidak suka.


"Bu, ibu nggak puas ya sebelum melihat kami menderita!"


"Nin, apa yang ingin kamu katakan sama ibu. Ibu nggak ngerti apa yang kau ucapkan," suara Ranty lembut.


Ia tidak ingin tersulut emosi oleh Anindya. Makanya berusaha untuk tenang dan berpikir jernih dengan ulah Anindya seperti itu. Kalau kekerasan dibalas kekerasan tidak ada habisnya sama sekali. Dan bukan membaik malah bisa memburuk keadaan. Ranty mengajak Anindya duduk di ruang tv.


Ranty meraih tangan Anindya supaya duduk di depannya. Saling berhadapan satu sama lainnya.


"Aku benci ibu, ibu merampas kebahagian," jerit Anindya menepiskan tangan Ranty dengan kasar.


Ia sama sekali tidak mau sama sekali kalau tangannya disentuh oleh Ranty. Ranty ingin memeluk tubuh Anindya tapi Anindya langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kursi. Wajahnya masih bersinar menatap wajah Ranty.


"Nin, apa ya yang ibu katakan?" desah Ranty agak bigung.


Ranty tida.mungkin menjelaskan perjalanan hidup pada Anindya. Kalau saja Anindya mau sebenarnya Ranty ingin sekali cerita semuanya tapi melihat emosi Anindya belum stabil akhirnya Ranty menatap wajah anak sambungnya dengan perasaan yang tidak bisa dilukiskan sama sekali.


Mbok Inem yang tubuhnya di dorong oleh Anindya langsung bangkit, siku tangannya lecet akibat gesekan di lantai. Ia akan langsung menuju ruangan tamu, tapi niat diurungkan kerena mendengar ketukan pintu. Mbok Inem langsung membuka pintu itu, Bayu berdiri dengan tegapnya. Wanita tua itu terkesiap saat Bayi langsung masuk menerobos ke dalam rumah.

__ADS_1


Mbok Inem tidak bisa mencegah Bayu. Mata Bayu seperti mencari sesuatu, sinar matanya terlihat gusar sekali. Laki laki itu langsung membalikan badan menatap wanita tua itu dengan tajam, sampai mbok Inem hanya terpaku melihat tatapan Bayu seperti itu. seram.


"Apa Anindya kesini," suara berat Bayi terdengar seperti gemuruh.


"Di ruang keluarga," mbok Inem terbata bata menjawab pertanyaan Bayu.


Bayu langsung ke ruang tamu. Disana ia.melihat Anindya duduk dihadapan Ranty tanpa menunggu waktu Bayu langsung melayangkan tangannya ke arah pipi Anindya. Gadis itu tidak bisa menghindar sama sekali, beberapa kali tanganya menghantam pipi Anindya.


Sampai mbok Inem dan Ranty berteriak keras melihat Bayi bertubi tubi memukul Anindya sampai gadis itu terjungkal di kursi yang ia duduki.


Mbok Inem langsung menghampiri Anindya, ia membantu Anindya untuk beranjak dari lantai kerena kursi yang dipakainya terjungkal. Anindya akhirnya beranjak dari lantai dibantu oleh mbok Inem. Mbok Inem langsung membawa Anindya ke kursi untuk duduk. Anindya mengikuti apa yang di perintahkan oleh mbok Inem.


Ranty dengan cepat dan tanggapnya langsung menghalangi tubuh Anindya dari tangan Bayu. Melihat itu Bayu geram sekali kerena ia tidak mungkin memukul Ranty.


"Mas, apa yang mas lakukan! Paus kamu melakukan itu sama Nindy!" teriak Ranty sambil mendorong tubuh suaminya.


Ranty sangat marah melihat tingkah laku Bayi pada Anindya yang tidak ada hujan dan angin langsung memukul tubuh Anindya, sampai gadis itu terduduk di lantai saking takutnya pada Bayi. Kursi yang di pakainya terbalik begitu saja kerena tidak bisa menahan beban dari tubuh Anindya yang dibabak belur oleh ayahnya.


"Biar dia merasakan pukulan yang aku berikan padanya, kerena dia telah melawan aku tadi!" teriak Bayu geram sambil melirik wajah Anindya yang ada dekat mbok Inem.


"Mas, seharusnya kamu bilang baik baik pada Nindy. Bukan seperti ini, ada apa sih!" ujar Ranty melukai lunak.


"Aku lakukan itu kerena kasihan sama mama!" bela Anindya menjawab takut takut.


"Mas,"tepis Ranty cepat.


Ranty langsung bersuara ketika melihat Bayu akan bicara. Ia tahu Bayu pasti akan membela dirinya itu yang Anindya tidak suka dari Bayu. Wajar kalau Anindya tidak suka kalau Bayu membela dirinya, mungkin Anindya hanya Bayu hanya membela mama.*

__ADS_1


__ADS_2