
Bahkan Ranti dan kedua orang tua Clarisa telah menentukan hari yang tepat untuk Rendi dan Clarisa menikah. Jika Rendi berhasil melamar Clarisa malam ini.
Rendi tak berenti menggendong tubuh Clarisa karna begitu sangat bahagi. Ranti dan Mama Clarisa berjalan ke arah mereka. Mereka berdua turut bahagia melihat kebahagian yang tengah di rasakan anak -anak mereka.
"Rendi, berhenti dulu." Ranti menyuruh Rendi berhenti menggendong Clarisa. "Lakukan setelah kalian menikah nanti."
Mendengar kata menikah keluar dari mulut Mamanya. Rendi pun berhenti, lalu menurungkan Clarisa dari gendongannya. Setelah itu Rendi dan Clarisa berjalan ke arah Mama mereka.
"Menikah Ma? apa ini tak terlalu cepat." Clarisa bertanya pada Mamanya dan juga pada Ranti.
Ranti tersenyum ketika mendengar ucapan dari calon menantunya, lalu Ia pun bertanya.
"Kenapa? kami berdua tengah menentukan hari pernikahan kalian, dua bulan dari sekarang kalian berdua akan segera menikah." Ranti menjelaskan.
Rendi dan Clarisa saling memangdang. Mereka berdua nampak sedikit terkejut karna acara pernikahan mereka telah di tentukan oleh orang tua mereka.
Namun setelah keterkejutan mereka berlalu. Keduanya terlihat sangat bahagia. Rendi mengajak Clarisa jalan -jalan berdua di pinggir pantai. Sementara para orang tua sibuk merencanakan pernikahan anak -anak mereka yang akan di selenggarakan dua bulan lagi.
Rendi begitu sangat bahagia begitupun dengan Clarisa. Pertemuan singkat mereka telah menbawa keduanya ke jengjang yang lebih serius.
Rendi menarik tangan Clarisa agar berjalan di sampinnya karna dari tadi Clarisa berjalan di depannya. Hingga akhirnya Clarisa masuk ke dalam pelukan Rendi.
Rendi memeluk pinggang Clarisa. Clarisa merasa sedikit malu karna ini pertama kalinya mereka bertatap wajah sedekat itu.
Rendi pun bertanya sambil melihat wajah Clarisa yang kini sangat dekat dengan wajahnya.
"Apa kamu bahagia? dengan semua ini? jika kamu tak yakin! kita bisa membatalkannya." menatap wajah Clarisa yang kini tengah menundukkan kepalanya karna malu."Aku tau, ini sangat singkat untukmu, bahkan kamu belum memberi jawaban atas ungkapan rasa cintaku padamu. Maaf, mungkin aku egois, karna aku tak memberimu sedikit waktu. Namun satu yang harus kamu tau, aku tulus melakukan semua ini, karna aku begitu sangat mencintaimu dari awal aku melihatmu." Rendi mengunkapkan rasa yang Ia rasakan.
Clarisa mengankat wajahnya lalu tersenyum melihat wajah Rendi, yang kini terlihat sedikit pias.
__ADS_1
"Ren, sebenarnya aku telah memikirkan semuanya. Bahkan malam ini aku ingin memberi jawaban atas pernyataan cintamu itu. Namun kamu telah mendahuluiku, memberi kejutan lamaran untukku." menatap wajah Rendi. "Aku sangat bahagia Ren, dan jujur aku juga sangat, sangat bahagia untuk ini, aku tak menyangka kalau kamu setulus itu mencintaiku dan ingin menjadikanku sebagai pendampin hidupmu."
Rendi penasaran dengan apa yang akan di jawab Clarisa atas pernyataan cintanya waktu itu hingga akhirnya, Ia bertanya.
"Lalu apa jawaban kamu?" Rendi tersenyum lembut ketika mengatakan itu pada Clarisa.
"Apa kamu belum mengerti. Hem?" Clarisa menemperlkan hidungnya di hidung Rendi.
"Aku belum mengerti." Rendi mendekatkan wajahnya pada wajah Clarisa, bahkan jarak antara wajahnya nyaris tak ada lagi.
Kelarisa menjawab dengan senyuman manis.
"Mencintaimu adalah pilihanku, Ren. Aku sangat senang bisa mengenal pemuda baik sepertimu. Hanya beberapa hari bersama, kamu lansung memperlihatkan ketulusan cintamu itu. Aku Clarisa menerimamu sebagai suamiku walaupun kita belum melaksanakan ijab qobul. Aku telah mengangapmu sebagai suamiku." Setelah mengatakan itu Clarisa memeluk erat tubuh Rendi, dan Rendi pun membalas pelukan Clarisa.
Rendi begitu sangat bahagia ketika mendengar semua kata yang keluar dari mulut Clarisa. Rendi melepas pukannya begitupun dengan Clarisa.
Rendi pun berkata, dengan memegan wajah Clarisa. "Apa kamu serius mengatakan semua itu?"
Clarisa hanya mengangukkan kepalanya, tersenyum manis setelah mendengarkan apa yang dikatakan Rendi.
Setelah itu Clarisa berkata.
"Iya, Ren, aku serisu mengatakan semua itu." ucap Clarisa pelan.
Rendi tersenyum senang setelah mendengar semua itu. Ia tak menyangka kalau cinta yang Ia harapkan kini telah terbalaskan.
Rendi mengecup lembut dahi Clarisa, setelah itu Rendi mengecup lembut bibir Clarisa dan Clarisa pun membalas kecupan lembut itu.
*****
__ADS_1
Setelah sampai di parkiran rumah sakit. Bella keluar dari mobilnya, lalu berjalan ke arah lif untuk segera sampai di kamar yang tengah di tempati Hamish di rawat saat ini.
Bella memelankan langkahnya, karna masih merasa sedikit kesal pada Hamish. Hingga akhirnya Ia memilih singgah duduk di kursi yang tak jauh dari pintu kamar Hamish di rawat.
Bella pun berkata dalam hati setelah Ia duduk. "Semua ini pasti akan berlalu. Setelah Hamish keluar dari rumah sakit ini. Aku tak akan pernah menemuinya lagi." Guman Bella dalam hati.
Bella masih duduk di kursi. Namun ada beberapa suster tengah berlari di hadapannya. Suster itu nampak terlihat sangat panik.
Bella pun menahan salah satu suster tersebut, lalu bertanya. "Suster ada apa?" tanya Bella pelan.
Dengan nafas terengah -engah suster itu menjawab. "Seorang pemuda di atap ingin bunuh diri di atap rumah sakit ini"
Bella terkejut mendengar apa yang di katakan suster tersebut. Tampa berkata apapun pada suster itu Bella berlari ke arah kamar perawatan Hamish. Bella membuka pintu kamar. Namun Ia tak menemukan Hamish di dalam kamar perawatannya.
Bella berjalan ke arah kamar mandi, karna Ia berfikir pasti Hamish ada di sana. Bella membuka pintu kamar mandi namun tak menemukan keberadaan Hamish saat ini. Hingga akhirnya Bella melihat beberapa bercak darah di lantai.
Jangtung Bella bergetar takut, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Hamish. Hingga akhirnya tampa berfikir pangjang Bella berlari keluar dari ruangan perawatan Hamish. Bella berlari kesana kemari mencari jalan agar Ia segera sampai keatap rumah sakit.
Hingga akhirnya Ia bertemu dengan salah satu suster, Dengan nafas terengah -engah Bella bertanya.
"Suster jalan ke arah atap rumah sakit ini dimana?" tanya Bella dengan cepat.
Suster itu pun berkat. "Anda lurus ke sana, setelah itu anda bisa menggunakan lif, setelah keluar dari lif, di sana ada tangga. Nah anda bisa menggunakan tangga itu untuk segera sampai di atap rumah sakit ini." Suster menjelaskan.
Tampa berkata terimakasih Bella langsung berlari ke arah yang di katakan suster itu. Bella masuk dalam kamar lif, lalu memencat tombol lif.
Didalam kamar lif Bella berdoa, semoga yang ada di dalam fikirannya saat ini bukanlah Hamish.
"Ya, Tuhan, semoga yang ingin bunuh diri itu bukan dirinya, semoga saja orang lain." itulah Doa yang keluar dari mulut Bella.
__ADS_1