
Setelah mendengar ucapan Ranti yang ingin menjodohkan Nabila dan Randi putranya. Laras pun berkata.
"Apa mereka berdua mau?, jika kita menjodohkan mereka berdua?"
"Tentu saja, lihatlah kedekatan mereka berdua, mereka berdua seperti memiliki hubungan yang dekat lebih daripada sahabat dekat." Ranti kembali melihat ke arah ke arah Nabila dan Rendi yang kini tengah tertawa bersama.
Setelah pertemuan di malam itu, Ranti selalu mendatangi rumah Laras. Terkadang Ranti menginap, dan juga mengajak Randi putranya menginap bersamanya di rumah sahabatnya itu. Malam itu ketika jam makan malam, Ranti mengambil sebuah piring besar lalu mengisinya dengan berbagai makanan di atasnya. Rendi yang melihat tingkah Ibunya merasa aneh, karna ini peetama kalinya Rendi melihat ibuny melakukan hal seperti itu.
"Ibu, mau ngapain?." Tanya Rendi heran melihat kelakuan ibunya.
Namun, Laras dan Hartono, tau apa yang akan di lakukan Ranti dengan makanan sebanyak itu.
Mendengar pertanyaan putranya. Ranti hanya tersenyum lalu berkata. "Nanti kamu juga akan tau," ucap Ranti santai.
Ranti pun membawa makanan tersebut ke lantai yang telah ia alasi dengan karper lalu duduk bersila. Tak lama kemudian Hartono dan Laras ikut duduk bersama Ranti di lantai.
Namun kali ini. Nabila yang bertanya. "Mama, dan Papa, mau ngapain duduk di lantai." Nabila bingun melihat ketiga orang tua tersebut duduk di lantai.
Mendengar pertanyaan putrinya Hartono dan Laras berkata bersamaan. "Makan." ucap keduanya singkat.
"Makan, kenapa mesti makan di lantai, kan ada meje makan."
"Makan bersama sahabat di atas satu piring yang sama, rasanya akan. terasa lebih nikmat dan juga lezat, di bandingkan dengan makan di atas meja makan." Ranti menjelaskan semuanya kepada Nabila.
"Benarkah?, kalau begitu ayao kita makan sepiring bersama Bila," Ajak Rendi pada Nabila.
__ADS_1
Nabila hanya mengangukkan kepalanya menyetujui apa yang ingin Rendi lakukan. "Baik lah kalau begitu, ayo kita coba, siapa tau benar apa yang di katakan orang tua kita."
Nabila pun berjalan masuk ke arah dapur mengambil pirin yang sama, di gunakan Ranti untuk makan bersama dengan orang tuanya. Setelah mengambil pirin, Nabila kembali ke meja makan untuk mengisi pirinnya dengan makanan, setelah terisi, Nabila berjalan ke arah samping tempat duduk Mamanya.
Nabila duduk lalu memanggil Rendi.
"Ren, ayo kita coba apa yang di lakukan orang tua kita."
Mendengar panggilan Nabila. Rendi tersenyum, berangjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Nabila yang kini tengah duduk di lantai bersama orang tuanya.
Mereka berlima pun mulai makan. Rendi dan Nabila makan dengan cara yang sama dengan orangtuanya, yang itu makan, hanya mengenakan tangan bukan sendok. Rendi dan Nabila merasa sedikit aneh makan dengan cara sepeti itu, karna ini pertama buat mereka berdua. Sesekali Nabila menertawai Rendi, yang makan dengan cara belepotan, banyak makanan yang tersisa di bibirnya. Namun Nabila tak menyadari kalau dia juga makan dengan cata yang belepotan juga.
Rendi mengambil tissue untuk membersikan sisa makanan yang tersisa di mulut Nabila. "Kalau makan yang benar." Rendi membersikan bibir Nabila dengan tissue.
Melihat itu Ranti mengedipkan matanya kepada Hartono dan juga Laras. Laras yang melihat itu mengerti dengan kedipan mata Ranti. Namun tidak dengan Hartono.
Hartono tak tau apa maksud dari kedipan mata tersebut. lalu berkata.
"Ran, mata kamu kenapa?," tanya Hartono
Rendi melihat ke arah Ranti, ketika mendengar pertanyaan Hartono. "Bu, mata ibu kenapa," tanya Rendi juga.
"Ah, mataku tak kenapa -napa, hanya kelilipan, kemasuka debu." Ranti mengelak dari pertanyaan Hartono dan juga Rendi putranya.
Setelah hari malam itu, Ranti semakin ingin menjadikan Nabila sebagai menantunya. Ranti juga selalu mencari alasan agar Rendi menbawa Nabila datang ke rumahnya. Agar hubungan Rendi dan Nabila semakin dekat.
__ADS_1
Hingga suatu hari Ranti mencoba menanyakn perihal soal kejelasan hubungan Rendi dan Nabila. Seperti sore ini Randi melihat Rendi baru pulang dari kampus.
"Ren, Rendi." Ranti memanggil putaranya yang kini baru saja masuk ke dalam rumah.
"Iya, Bu, ada apa?." Rendi berjalan mendekat ke arah Ibunya yang kini tengah duduk santai di ruangan tamu menikmati secangkir teh yang tengah di siapkan oleh pelayan rumahnya.
Rendi pun duduk di sampin ibunya dengan meletakkan tasnya di pangkuannya. "Ada apa Bu, manggil Rendi?." Rendi bertanya melihat ke arah Ranti yang kini tengah menikmati tehnya.
Ranti pun tersenyum mendengar pertanyaan putranya. Ranti mengelus lembut wajah putranya lalu merebahkan, kepala Rendi di pangkuannya. "Putraku sekarang telah dewasa, sebentar lagi aku akan segara memiliki menantu, dan jika Allah menghendaki aku juga akan segera menimang cucu, iya kan Ren?" Ranti tersenyum melihat ke arah wajah Rendi yang kini tengah melihat ke arahnya.
Rendi tersenyum melihat ke arah Ranti yang kini sedang mengelus lembut rambutnya. Randi mengerti dengan apa maksud, dari perkataan Ibunya. Rendi pun bangun lalu menatap ke arah Ranti yang kini tengah tersenyum padanya.
"Ibu, aku belum memikirkan ke arah itu, aku masih ingin melanjutkan kuliahku, agar nanti aku bisa membagakan Ibu dan juga Ayah. Rendi tau kalau Ibu menginginkan. aku cepat menikah, tapi maaf Bu, Rendi belum siap untuk itu, lagian Rendi belum memiliki pacar." Rendi berangjak dari tempat duduknya ketika mengatakan itu pada Ranti Ibunya.
Ranti pun mengikuti langkah kaki putranya. Karna Ranti merasa ini adalah saat yang tepat, untuk mengatakan pada Rendi kalau Nabila adalah gadis yang pantas untuk ia jadikan istri. Namun belum lama Ranti mengikuti langkah kaki Rendi pintu rumahnya berbunyi.
Ranti berbalik arah, melangkah menuju arah pintu utama, untuk membuka pintunya. Setelah pintu rumahnya iya buka.
"Ranti, apa kabar?, baru saat ini aku bisa datang berkunjung ke rumah kamu." Laras tersenyum kepada Ranti.
"Iya, tak apa Ras. Namun, aku kaget, kamu datang kemari tak memberi kabar dulu, ayo masuk." Ranti mengandeng tangan Laras masuk ke dalam rumahnya.
Ranti pun mempersilahkan Laras duduk di kursi ruang tamu. Laras pun melihat sekelilin rumah Ranti yang nampak sepi. "Semuanya kemana Ran?, kenapa rumah kamu sepi banget." Tanya Laras.
Ranti tersenyum mendengar pertanyaan Laras. lalu berkata. "Ya, setiap hari, seperti ini lah keadaan rumahku, selalu sepi, jika papa Rendi belum pulan, cuman makan dan nonton tivi yang aku kerjakan, terkadang juga aku keluar berbelanja. Namun belanja sendiri itu tidak menyenankan, membuat bosan," ucap Ranti.
__ADS_1