
Nabila terkejut mendengar apa yang di katakan Alia. "Apa!, Rendi membatalkan janji denganmu kemarin?" Nabila melihat ke arah Alia lalu kembali berkata. "Alia, aku sungguh minta maaf, aku tak tau kalau kalian ada janji, sungguh aku tak tau." Nabila memohon.
Alia tertawa mendengar ucapan Nabila. "Aku akan memaafkanmu asal kamu berjanji akan menjauhi Rendi, kalau perlu kamu dan Rendi tak usah saling berbicara, aku tak suka semua itu, aku benci melihatnya."Alia berteriak di hadapan wajah Nabila.
Nabila merasa takut melihat wajah Alia yang terlihat sangat marah padanya. Ya itulah Nabila jika seseorang mengeluarkan kata kasar atupun nada bentakan Nabila akan ketakutan lalu menangis. Karna sejak kecil hingga saat ini. Nabila tak pernah mendengarkan nada kasar ataupun nada bentakan keluar dari mulut kedua orang tuanya. Nabila terdidik menjadi anak yang baik dan lembut jika berbicara dengan siapa saja.
Nabila meneteskan air matanya dan itu membuat Alia dan teman -temannya mengejeknya. "Begitu aja nangis." Ejek teman Alia.
Nabila hanya diam, mengeluarkan air mata, mendengarkan ejekan teman -teman Alia.
Alia pun mendorong tubuh Nabila, hingga akhirnya Nabila terjatuh duduk di lantai.
"Aucc, sakit." Ringgis Nabila, ketika terjatuh di lantai.
Semua teman -teman Alia tertawa melihat Nabila terjatuh di lantai. Alia pun berjalan mengambil air yang telah di siapkan untuk menyiram kepala Nabila. Alia pun membuka tutup botol tersebut lalu mengarahkan ke kepala Nabila. Namun sebuah tangan kekar memegan botol yang ada di tangan Alia saat ini.
Alia terkejut melihat tangan itu, lalu berbalik melihat orang yang memliliki tangan tersebut.
"Rendi." wajah Alia pucat ketika melihat Rendi yang telah memegan botol air tersebut. Sementara Rendi menatap tajam, penuh dengan kemarahan melihat ke arah Alia. Alia dengan segera menarik botol yang di pegan oleh Rendi.
"Ren, ini semua tak seperti yang kamu fikirkan." Alia mencoba menjelaskan. Namun, Rendi tak memperdulikan ucapan Alia.
Semua teman -teman Alia yang membantunya, pergi meninggalkanya sendiri, kini hanya mereka bertiga yang ada di dalam toilet tersebut.
Rendi pun membantu Nabila untuk berdiri, lalu membuka jaket yang iya kenakan untuk menutupi baju Nabila yang kini tengah basah akibat ulah Alia.
__ADS_1
"Kamu tak apa Bila?." Tanya Rendi ke Nabila. Rendi melihat Nabila yang masih gemertar. Nabila merasa takut atau kedinginan Rendi tak tau. Yang Rendi tau saat ini, Nabila kena Buli oleh kekasihnya karna dirinya.
Nabila hanya mengangukkan kepala ketika mendengar pertanyaan Rendi. Rendi menarik nafasnya lalu membuangnya kasar, lalu melihat ke arah Alia.
"Alia, aku kecewa padamu, aku mencintaimu, namun kamu?, Alia maaf." Itulah ucapan yang keluar dari mulut Rendi lalu mengajak Nabila keluar dari dalam toilet.
"Ayo, Bila, kita keluar." Ajak Rendi.
Alia pun menahan tangan Rendi. "Ren, tunggu, aku bisa menjelaskan semuanya, semua tak seperti yang kamu fikirkan."
Rendi pun melihat ke arah Alia yang kini tengah serius melihat ke arah Rendi yang kini sangat marah padanya.
"Apa, lagi yang ingin kamu jelaskan?, kamu ingin mengatakan kalau kamu tak bersalah dengan apa yang kamu lakukan pada Sahabatku saat ini." Rendi melihat ke arah Nabila, lalu kembali lagi melanjutkan ucapannya. "Aku mendengar semua yang kamu katakan pada Nabila, dan apa!, kamu menyuruh Nabila untuk menjauhiku dan juga tak ingin melihatku bertegur sapa denganya. He -em." Rendi tersenyum sinis melihat ke arah Alia, lalu kembali melanjutka ucapannya. "kamu salah mengartikan persahabatanku dengan Nabila, andai aku bisa memilih antara kekasih dan sahabat, aku akan dengan senang hati menjawab aku memilih sahabatku." Setelah mengatakan itu, Rendi berjalan keluar dari toilet bersama Nabila.
Alia berjalan mengejar Rendi.
"Rendi." Panggil Alia.
Rendi dan Nabila menhentikan langkahnya ketika mendengar panggilan Alia. Rendi berbalik di ikuti oleh Nabila, melihat ke arah Alia yang kini tengah berjalan menuju arahnya.
"Ada, apa lagi, memangilku?."
"Ren, apa maksud dengan semua ini? tolong jelaskan padaku."Alia menatap Rendi, menanti penjelasan yang akan keluar dari mulutnya.
"Kamu tak perlu pura -pura, tak tau maksud aku. Aku memilih persahabatanku dari pada kekasihku." Setelah mengatakan itu Rendi dan. Nabila berbalik arah melanjutkan perjalanannya yang tertunda.
__ADS_1
Namun, mungkin tak terima dengan apa yang Rendi katakan, Alia beteriak kencang. "Rendi, hanya karna wanita itu kamu memutuskanku, aku tak terima Ren, aku tak akan terima." Teriak Alia.
Mendengar teriakan Alia, mahasiswa, dan mahasiswi berkerumun melihat ke arah Alia yang kini seperti orang gila, Alia berteriak mempermalukan dirinya sendiri. Sementara Rendi tak memperdulikan teriakannya.
Rendi mengajak Nabila ke taman kampus. Setelah sampai di taman, Rendi menyuruh Nabila duduk di bangku yang tersedia di taman tersebut. Setelah duduk Nabila menangis. Rendi yang melihat Nabila menangis tampa mengeluarkan suara, berkata.
"Kamu kenapa nangis Bila?," tanya Rendi.
"Maaf, ya Ren." Hanya kata Maaf yang keluar dari mulut Nabila.
"Maaf, maaf untuk apa?"
"Maaf, karna aku, kamu dan Alia harus seperti ini, aku tak mau kalau kalian sampai putus atas kejadian ini, aku tak kenapa -napa Rendi, ini semua juga salah aku, karna mengantar aku pulang, kamu membatalkan janji dengan Alia."
"Apa!" Hanya kata singkat itu keluar dari mulut Rendi. Kemudian melanjutkan ucapannya lagi. "Kamu tak salah Nabila, Alia yang terlalu posesif denganku, aku juga mulai gerah dengan sikapnya itu. Iya kemarin aku meman membatalkan janji dengannya. Namun aku tak tau kalau akibatnya akan seperti ini. Dan sudahlah kita tak perlu membahas soal Alia lagi."
"Tapi, Ren, kamu kan, mencintainya" Nabila melihat ke arah wajah Rendi.
"Aku memang mencintainya. Namun, aku lebih peduli dengan sahabatku."
Rendi mengambil napasnya lalu membuanya pelan lalu berkata. "Seiring berjalanya waktu, rasa itu akan hilang dengan sendirinya, yang terpenting saat ini, sahabatku kena Buli karna diriku. Aku minta maaf atas nama Alia dan teman -temannya." Rendi mengatakan itu dengan memegan tangan Nabila.
Waktu terus berlalu, kedekatan Nabila dan Rendi membuat semua mahasiswi mengatakan kalau mereka berdua memiliki hubungan lebih daripada sahabat baik, karna perhatian Rendi ke Nabila melebihi seorang pasangan kekasih.
Namun, ketika di tanya perihal kedekatan mereka, Nabila dan Rendi selalu menjawab. "kami sahabat baik, kalau ada kata lain selain kata sahabat iya meman benar, karna aku mengangap Nabila sebagai adikku sendiri dan Nabila mengangapku kakaknya sendiri." Itulah jawaban yang akan mereka katakan jika mereka berdua di tanya.
__ADS_1