Mencintaimu Adalah Pilihanku

Mencintaimu Adalah Pilihanku
59


__ADS_3

Bella kembali tertawa, ketika mendengar apa yang Rendi katakan.


Ha, ha, ha, tawa Bella.


"Kenapa kamu menertawakanku?, apa ada yang lucu denganku?." tanya Rendi melihat ke arah Bella.


Bella pun berenti tertawa ketika mendengar apa yang Rendi katakan.


"Enggak aku tak menertawakanmu, aku hanya menertawakan kebodohanmu."


"Kebodohan, kebodohan apa?." Rendi mengerutkan dahinya mendengar apa yang di katakan Bella.


"Kebodohanmu, karna menolak menikah dengan sahabat kamu. dan pasti, saat ini, kamu menyesalinya kan?, itu terlihat jelas di wajahmu."


Rendi menatap ke arah Bella. "Benarkah, kamu bisa tau kebodohanku itu?." tanya Rendi pelan.


"Tentu saja, aku bisa melihat itu semua, terlihat jelas di wajahmu.


Hingga akhirnya Rendi mengakuinya. "Iya, aku memang sangat bodoh, karna telah melepas sahabat sebaik dia."


Bella mendekat kedepan wajah Rendi lalu berkata. "Apa kamu mencintainya." Bella merasa penasaran denga perasaan Rendi ke sahabatnya.


"Dulu aku tak mencintainya. Namun aku menyesal. Ketika aku merasakan cinta untuknya, aku kembali untuk mengatakan padanya. Namun?..." ucapan Rendi terhenti dan itu membuat Bella semakin penasaran.


"Namun?." tanya Bella dengan menaikkan ke dua alisnya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Bella. Rendi menarik nafasnya, lalu membuangnya pelan. lalu berkata.


"Namun sekarang iya telah memiliki suami yang begitu sangat mencintainya, bahkan sebentar lagi mereka akan segera memiliki bayi."


Bella terdiam setelah mendengarkan apa yang Rendi katakan. Bella merasa bersalah dengan rasa ingin taunya, yang ingin mengetahui semua tentang Rendi dan sahabatnya.


Melihat kediaman Bella. Rendi mencairkan suasana dengan bertanya tentang pertama kali mereka bertemu. "Lalu, soal kamu, di club malam itu bagaimana? apa yang membuatmu datang ke sana? minum sampai mabuk, hingga akhirnya aku membawamu ke hotel, mabuk dengan memanggil nama seseorang yang bernama Doni kalau tak salah." Rendi mengingatkan Bella ketika malam itu.


Bella terdiam mendengar pertanyaan Rendi. Bella menundukkan wajahnya karna merasa malu, dengan apa yang terjadi malam itu di hotel. Mabuk lalu menyebut nama seseorang. Sungguh Bella tak mengingat apa -apa soal kejadian di malam itu.


"Bella, boleh aku tau, Doni itu siapa? kalau tak mau mengatakan juga tak apa, aku tak akan memaksamu." Rendi menatap ke arah Bella yang kini tengah menundukkan wajahnya.


Bella pun mengankat wajahnya lalu melihat ke arah Rendi yang kini tengah menanti jawaban atas pertanyaannya.


"Apa, kamu ingin mengetahui soal Doni?." Bella kembali bertanya pada Rendi.


Bella pun mulai berbicara. "Doni adalah mantan kekasih aku, Dulu kami saling mencintai, Namun karna kebodohan yang aku lakukan, sehari jelang pernikahan, aku meninggalkanya dan pergi dengan kekasihku yang lain. Ya, aku mengakui kalau itu memang kesalahanku, namun aku punya alasan sendiri, kenapa aku melakukannya." Bella mengambil nafas lalu melangjutkan kata -katanya. "Di lain sisi, orang tua Doni tak menyukaiku, karna tau sifat aku yang sebenarnya. Namun Doni tetap mempertahankan hubungan kami, Doni sampai rela meninggalkan orang tuanya bahkan rela di hapus dari daftar warisan orang tuanya. Hanya demi ingin hidup bersamaku. Namun, aku tak mau jika Doni harus terhapus dari daftar warisan orang tuanya, karna jika itu terjadi, Doni tak akan bisa memenuhi semua kebutuhan hidupku yang serba mewah. Namun jujur, saat ini aku sangat menyesal meninggalkan pemuda yang sangat mencintaiku, bahkan rela melakukan apa saja hanya demi hidup bersamaku. Namun, kali ini ia tengah bahagia bersama dengan istrinya. Doni sangat mencintai isrinya, bahkan sebentar lagi Doni akan segera memiliki Bayi" Bella mengatakan semuanya pada Rendi dengan menutup wajahnya, dengan kedua tangannya.


Melihat itu Rendi mengatakan. "Hem, ternyata cerita hidupmu dan cerita hidupku hampir mirip." Rendi tersenyum melihat ke arah Bella.


Bella pun membuka tangan dari wajahnya. lalu melihat ke arah Rendi yang kini tengah tersenyum melihat ke arahnya.


Bella pun membalas senyuman Rendi lalu berkata. "Apa, kamu masih ingin mengenal wanita sepertiku? aku ini tak pantas menjadi teman siapa pun."


Rendi tersenyum mendengar semua yang Bella katakan. "Setiap orang memiliki masa lalu, begitupun denganku, kamu jangan pernah merendahkan diri kamu sendiri, pantas atau tidak pantasnya hanya Allah yang bisa menilai itu semua."

__ADS_1


Setelah pertemuannya hari itu dengan Rendi, Bella merasa sangat lega, beban hati Bella terasa ringan,seperti sesuatu yang tengah mengankat beban berat, yang ada di pundaknya menghilang. Hari itu juga membuat Bella merasa seperti kehidupannya kembali lagi. Tampa harus memikirkan sesuatu yang tak mungkin lagi iya miliki.


Terkadang Bella berfikir, hidup di dunia tak lah harus memiliki, apa yang tak mungking iya miliki, Karna roda kehidupan akan selalu berputar seiring berjalannya waktu.


Sore ini Bella duduk sendiri di sebuah taman yang ada di kota iya tempati. Bella memikirkan semua, apa yang akan terjadi dengan dirinya ke depannya. Mengingat soal kekasih yang iya tinggalkan saat ini, lalu kembali mengejar cinta Doni yang ia tinggalkan dulu.


Bella tak tau apa yang akan ia lakukan jika kekasihnya, kembali mencarinya di kota yang iya tempati saat ini. Namun mengingat pertemanan yang terjalin antara dirinya Rendi, membuatnya melupakan kekasihnya yang iya tinggalkan di Sydney saat ini.


Hari berlalu dengan sangat cepat dan malam ini. Bella mendapatkan telpon dari ke kasihnya yang berasal dari Sydney.


"Iya, Halo," ucap Bella judes.


"Honey, kamu dimana?" tanyanya.


"Apa perlu kamu tau akau berada dimana?, lakukan sesukamu dan jangan pernah menhubungi aku lagi." Bella berkata ketus lalu mematikan sambungan telponnya. Namun Hapenya kembali berdering dan itu panggilan dari Rendi.


"Apa lagi, aku peringatkan ya, jangan pernah menghubungi aku lagi, aku tak mau mendengar suaramu, bahkan semua tentang dirimu, mengerti." Bella marah -marah pada orang yang sedang menelponya. Namun Bella tak tau siapa yang telah menelponnya. Karna sedari tadi orang itu terdiam mendengar semua kata -kata kasar yang ia lontarkan pada orang yang menelponnya.


"Halo, kamu Bella kan," tanya pemuda itu dari balik telpon.


Bella pun menatap ke layar Hapenya dan mendapati nama Rendi yang tertulis di sana.


Dengan segera Bella berkata. "Ya, ampun Ren, maaf aku tau kalau kamu yang tengah menelponku. Maaf ya, jangan tersinggun dengan apa yang aku katakan tadi." Bella sedikit memohon dari balik telpon.


"Tak, masalah, lagian kata -kata itu buka untuk aku, lalu untuk apa aku tersinggun. Iya kan?"

__ADS_1


"Iya, juga sih," ucap Bella dengan suara melemah dari balik telpon.


__ADS_2