Mencintaimu Adalah Pilihanku

Mencintaimu Adalah Pilihanku
71


__ADS_3

Hamish, mengeleng -gelengkan kepalanya. Hamish merasa sangat berterimah kasih atas kedatangan ayah Bella di kantornya. Pucuk di cinta wulan pun tiba, itulah kata pepatah yang tepat untuk Hamish saat ini.


"Selangkah lagi kamu akan segera menjadi wanitaku." Hamish menyunggingkan seyum merekah di bibirnya setelah mengatakan itu.


Setelah sampai di rumahnya. Henra mulai memikirkan cara, bagaimana agar Bella setuju dengan apa yang di inginkan Bosnya itu. Henra menatap ke arah cek kosong yang kini tengah ia pegan, lalu menatap ke arah pintu kamar Bella yang masih tertutup.


Henra berjalan menjauh dari pintu kamar Bella. Namun, tiba -tiba Bella memanggilnya.


"Ayah." panggil Bella.


Henra terkejut ketika mendengar suara Bella memanggilnya. Dengan segera Henra menyembunyikan cek kosong yang tengah ia pegan, lalu berbalik melihat ke arah Bella.


"Iya, ada apa?" Henra gugup menjawab panggilan putrinya.


Bella mendekat ke arah Henra lalu bertanya. "Ayah, kenapa?, apa ayah memiliki masalah?" Bella menatap ke arah ayahnya.


Henra berjalan ke arah kursi yang berada di ruangan tamunya. Henra duduk lalu memulai aktingnya. Dengan memasang wajah yang sedih Henra mulai menceritakan kebohongan pada Bella.


"Bella, apakah aku boleh minta tolong padamu?" Henra menatap ke arah Bella.


Dengan segera Bella menjawab. "Minta tolong apa ayah?" Bella menatap bingun ke arah Henra.


Henra mulai mengeluarkan air mata palsunya, lalu berkata. "Ayah punya hutang, pada rentenir, jika ayah tak segera melunasinya, ayah akan di penjarakan olehnya." Henra menundukkan wajahnya sedih, padahal di dalam hati Henra berkata."Demi mendapatkan uang yang banyak, aku harus melakukan ini pada putriku, Maafkan ayah Bella." Henra tersenyum dalam hati ketika mengatakan itu.

__ADS_1


Bella terkejut dan syok mendengar apa yang di katakan ayahnya, Bella lalu berkata. "Apa!, ayah punya hutang pada rentenir?" Bella berdiri dari duduknya ketika mendengarkan kata itu dari mulut ayahnya.


"Iya, Bella, sebenarnya Ayah telah lama mengambil uang itu, jauh sebelum kamu mencicil sebuah Apartmens."


Bella kembali terkejut mendengar apa yang Henra katakan. "Apa!, selama itu?, berapa uang yang ayah pinjam dari rentenir itu?" Bella bertanya dengan memegan dahinya yang terasa sangat pusing. Belum masalahnya terselesaikan dengan baik, malah saat ini ayahnya tengah di lilit hutang.


"Seratus juta, uang yang ayah pinjam, belum dengan bunganya, kalau semuanya di hitung mungkin sekitar tiga ratus lima puluh juta."


Bella kembali terkejut dan syok, hingga tak menyadari kalau dirinya tersungkur ke lantai, Bella menatap nanar mendengar apa yang barusan ayahnya katakan.


"Bella, kamu tak papa?" Henra berjalan ke arah Bella, lalu membantunya untuk berdiri, lalu membawanya untuk duduk di kursi.


Bella duduk di kursi, tampa berkata apapun. Bella hanya terdiam memikirkan darimana ia akan mendapat uang sebanyak itu. Karna tak mungkin juga Bella membiarkan ayahnya di penjara.


Henra mengelus lengan Bella lalu berkata. "Sudahlah, kamu tak perlu memikirkannya, soal hutang Ayah biar Ayah yang memikirkannya, walaupun nantinya Ayah akan di penjara Ayah rela." Henra terdengar pasra ketika mengatakan itu pada Bella.


"Tapi, ayah, aku tak mau kalau ayah sampai di penjara." Bella menarik kepalanya dari lengan Henra, lalu melihat ke arah Henra ketika mengatakan itu.


"Sudahlah, kamu tak perlu memikirkanya." Setelah mengatakan itu, Henra berlalu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Bella yang masih duduk sendiri di ruangan tamu.


Bella berangjak dari tempat duduknya. Lalu berjalan keluar dari rumahnya. Bella berjalan ke arah taman yang tak jauh dari rumahnya.


Bella ingin menenangkan hati dan fikirannya. Di tengah ke galauan yang Bella alami saat ini, mungcul ide yang kurang baik dari dalam fikirannya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan ya?, apakah aku harus menjual diri?, aku dengar -dengar dari orang, jika menjual keperawanan, kita akan mendapatkan uang yang banyak. Oh,astaga apa yang tengah aku fikirkan saat ini?, kenapa aku bisa berfikir sejauh ini?, padahal aku selalu menjungjung tinggi nama baik keluaragaku dan juga martabatku." Bella bertengkar dengan dirinya sendiri.


Cukup lama Bella berdiam diri di taman tersebut hingga akhirnya ia memilih pulang ke rumah Ayahnya. Bella berjalan masuk ke dalam ruangan tamu, lalu mendapati Ayahnya tengah duduk dengan memegan kepalanya dengan keduan tangannya.


Bella hanya terdiam, berlalu melangkah masuk ke dalam kamarnya. Setelah sampai di dalam kmar Bella duduk di pinggir jendela kamarnya, dan tak lama setelah itu, Henra ikut berdiri di sampin putrinya Bella.


Henra menarik napasnya lalu membuangnya pelan. Lalu berkata.


"Bella, apa kamu tak bisa meminta tolong pada Bosmu, kamu kan bekerja di kantornya sebagai secretaris, gaji kamu juga lumayan besar, kamu bisa meminta potongan gajimu tiap bulan.?" pertanyaan itu bagaikan sambaran petir di siang hari bagi Bella. Jangan kan meminta tolong, memikirkannya saja Bella tak sudi.


Bella beralih menatap ke arah ayahnya lalu berkata. "Apa!, Ayah, aku harus meminta tolong pada Bos killer itu?, tidak Ayah, aku tak akan mungkin melakukan itu." Bella menolak dengan apa yang di sarankan Henra.


Henra hanya terdiam ketika mendengar apa yang di katakan putrinya saat ini. Henra Berlalu lalu keluar dari kamar Bella.


Melihat Ayahnya keluar dari kamarnya, Bella mulai memikirkan apa yang barusan Ayahnya katakan padanya. "Ide yang baik. Namun pada Bos killer itu? Apakah dia akan memimjamkanku uang sebanyak itu?." Pertanyaan Bella untuk dirinya sendiri.


Setelah cukup lama melawan fikirannya sendiri. Bella akhirnya memutuskan akan kembali bekerja esok hari di kantornya. Karna hanya itu pilihan yang Bella punya saat ini.


Seperti yang Bella rencanakan semalam. Ia akan kembali bekerja hari ini sebagai secretaris.


Bella berjalan ke arah meja kerjanya, untuk memulai mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Bella mulai mengerjakan semuanya. Namun tiba -tiba suara telpon yang ada di atas mejanya berdering. Dan telpon itu berasal dari ruangan Bosnya. Cukup lama Bella menatap ke arah telpon tersebut hingga akhirnya ia menjawab.


"Iya, Pak." Jawab Bella sopan.

__ADS_1


"Bawakan aku kopi ke ruanganku?" Setelah mengatakan itu sambungan telponnya terputus.


__ADS_2