Mencintaimu Adalah Pilihanku

Mencintaimu Adalah Pilihanku
63


__ADS_3

Bastian bertanya kepada Hamish soal tiket yang satunya yang akan dia pesan.


Hamish hanya tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Bastian, "Pesankan saja, kamu tak usah banyak bertanya, nanti kamu akan tau sendiri, untuk siapa tiket itu."


"Baik lah, kalau itu maumu, aku akan memesan tiga tiket, sesuai dengan yang kamu inginkan." Setelah mengatakan itu Bastian berjalan keluar dari ruangan Hamish.


Setelah Bastian keluar dari ruanganya. Hamish tak berenti tersenyum sendiri. Memikirkan apa yang akan terjadi jika dirinya mengajak Bella menghadiri undangan tersebut.


Hari berganti dengan hari. Siang ini Hamish memanggil Bella masuk ke dalam ruangannya. Hamish pun mengambil telpon yang terhubung langsun dengan telpon yang ada di meja Bella. Setelah sambungan telponnya tersambung Hamish lalu berkata.


"Keruangan saya sekarang. Ngak pake lama." Hamish menekanka ngak pake lama kepada Bella.


Setelah sambungan telponnya terputus dengan segera Bella beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju pintu lalu mengetuknya. Setelah mengetuk pintu, Bella masuk ke dalam ruangan Bosnya.


"Iya, Pak, ada apa?" tanya Bella sopan.


Hamish melihat ke arah Bella yang kini tengah tertunduk di hadapannya.


"Bella." Panggil Hamish.


Dengan segera Bella menjawab. "Iya, Pak." Sahut Bella pelan.


"Malam ini, kamu ikut saya, ke Sydney, kita akan tinggal di sana selama beberapa hari." Hamish menatap ke arah Bella ketika mengatakan itu.


Bella terkejut mendengar apa yang di katakan Bosnya. "Saya ikut Bapak." Bella menunjuk ke arah dirinya.


"Iya." ucap singkat dan datar.

__ADS_1


Di dalam hati Bella berkata. "Untuk apa lagi Bos killer ini mengajakku ke Sydneya. Aduh, terkadang kepalaku pusing melihat tingkah aneh Bos killer ini." Bella berguman dalam hati.


"Bella, apa kamu mendengarkan apa yang aku ucapkan barusan?" Hamish mengatakan dengan nada suara datarnya.


Dan itu membuat Bella sadar dari gumanannya, Bella pun menjawab. "Iya, Pak, saya mendengar apa yang Bapak katakan."


"Pulang sekarang, dan siapkan semua, yang kamu butuhkan selama di sana." Suruh Hamish.


Hamish menatap ke arah Bella yang kini nampak bingun.


Hamish melihat ke arah Bella yang kini masih berdiri di hadapannya. "Kenapa kamu masih berdiri disini?, sana pulang." Hamish sedikit meninggikan suaranya.


Dan lagi, membuat Bella terkejut. Bella pun menatap ke arah Hamis, lalu memberanikan diri untuk bertanya. "Maaf, Pak, sebenarnya Bapak mengajak saya ke Sydney, untuk urusan apa ya?, karna biasanya, jika Bapak ingin melakukan perjalanan bisnis, biasanya Bapak akan mengajak Pak.Bastian," ucap Bella sopan.


Hamish kembali menatap ke arah wajah Bella, yang kini tengah melihat ke arahnya. Hamish beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekat ke arah Bella. Dan itu membuat Bella kembali menundukkan wajahnya. Bella tak berani menatap wajah Bosnya terlalu lama, karna ia takut melihat tatapan aneh itu.


"Apa aku harus menjelaskan semuanya padamu?, Hem, kamu hanya tinggal menuruti, dan mematuhi semua yang aku perintahkan, dan aku tak suka di bantah ataupun di tolak, mengerti?" Hamish mengatakan itu pas di hadapan Bella.


Setelah mendengarkan pidato dari Bosnya Bella pamit undur diri, untuk segera pulang ke Apartmensnya untuk mempersiapkan semua keperluannya.


Sesampai di dalam kamar Apartmensnya, Bella baru bisa mengunkapkan segala kekesalan di dalam hatinya, Bella meraih boneka beruangnya, yang tertulis nama Bos killer. lalu memukulnya, bahkan mempites -pites boneka tersebut. Itulah Bella jika ia pulang dalam keadaan marah, atau merasa kesal atas perlakuan Bosnya, ia akan pulang, lalu memukul boneka beruangnya. Karna Bella mengangap. boneka beruangnya itu adalah Hamish Bos killernya.


"Aku sangat kesal, dan kesal, kenapa sih?, punya Bos nyebelin banget, ngak tau apa kalau aku juga bisa merasa kesal dan juga marah, atas perlakuannya. Aku tau itu memang hak dia memarahi karyawannya, tapi dia tak ada hak mengerjaiku, seperti kemarin -kemarin. Ah, ingin rasanya aku mencakar wajahnya. Namun aku takut melihat pandangan matanya. Aku merasa aneh jika menatap pandangan mata itu." Bella mengatakan itu dengan sangat kesal hingga ia tak menyadari kalau boneka beruangnya telah robek tak berbentuk.


Bella pun melihat ke arah boneka beruangnya, lalu berkata. "Ya, ampun, apa yang telah aku lakukan. padamu, Bos killerku, Oh, astaga kenapa bentuk mu jadi seperti ini." Bella membayangkan dirinya mencakar dan mengacak -acak rambut Bos killernya itu, Hingga akhirnya Bella tertawa sendiri di dalam kamar Apartmensnya.


Ha, ha, ha, suara tawa Bella.

__ADS_1


Tawa Bella terhenti ketika ia mendapat panggilan nomor baru di Hapenya. Bella pun mengankatnya, lalu berkata.


"Iya, halo." jawab Bella santai.


"Apa kamu telah selesai mengepas semua pakaianmu?" Suara datar yang keluar dar sambungan telpon Bella saat ini.


Dan, Bella tau, suara siapa yang tengah ia temani berbicara.


Dengan segera Bella menjawab pertanyaan orang dari balik telponnya. "Iya, Pak, semuanya telah siap." Bohong Bella.


"Baik lah, sekarang kamu istirahat, nanti malam aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu." Setelah mengatakan itu sambungan telpon pun terputus.


Bella kembali mendengus kesal Ketika sambungan telponnya terputus dari Bosnya. "Dasar, Bos, killer." Setelah mengatakan itu,


Bella pun berangjak dari tempat ia duduk, lalu berjalan ke arah lemari untuk mengepak semua pakaian yang akan ia bawa ke Sydney.


Setelah selesai mengepak semua pakaiannya. Bella berjalan ke arah tempat tidur, untuk merebahkan diri sejenak. Namun tampa ia sadari Bella terlelap hingg malam hari.


Di dalam tidur Bella bermimpi, bertemu dengan seseorang, orang itu hanya membelakangi Bella, jadi Bella tak dapat melihat wajah pemuda itu. Bella hanya mengetahui orang itu pemuda karna orang itu mengenakan sebuah jas yang begitu sangat rapi.


Di dalam mimpi Bella melihat dirinya mengenakan gaun yang sangat cantik dan pastinya gaun itu sangatlah mahal. Bella di bawa oleh beberapa pengawal menuju ke sebuah istana yang sangat mewah. Namun setelah masuk, ke dalam istana tersebut, Bella menjadi seorang Raju. Ratu yang hanya tinggal di dalam sangkar emas.


Di dalam mimpi Bella juga mendengar suara seseorang yang berkata. "Jangan pernah biarkan Ratuku keluar dari istana ini, kalau ia sampai keluar nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya."


Di dunia nyata, Bella tertidur dalam keadaan berkeringat karna takut mendengar apa yang dikatakan pemuda yang ada di dalam mimpinya.


Setelah beberapa saat seseorang menepuk sedikit keras wajah Bella.

__ADS_1


"Bangun."


Bella membuka pelan matanya melihat ke arah orang yang kini tengah melihat ke arahnya.


__ADS_2