
Setelah memikirkan makanan apa yang akan Belli bellikan untuk bosnya, Bella berjalan ke luar dari kantor. Setelah sampai di depan kantor, namun tiba -tiba Bella melihat penjual ketoprak lewat.
"Ah, mendingan aku membelikan ketoprak itu saja, makanan itu kan mengandung banyak sayur." Bella tersenyum sendiri ketika mengatakan itu.
Bella pun memanggil penjual ketoprak. "Bang, sini, aku mau nanya ni, Bang?, ketoprak Abang enak ngak?" Tanya Bella pada Abang -Abang penjual ketoprak.
"Wes, jangan di tanya atu, Neng, ketoprak Abang, di jamin enak dan lezat, kalau tak enak, besok Eneng tunggu Abang, biar Abang kasi kembalikan uangnya." Kata penjual ketoprak.
Bella pun tersenyum melihat ke arah penjual ketoprak, lalu berkata. "Sebenarnya sih, Bang, bukan aku yang mau makan, tapi Bos aku. Aku tak tau seperti apa seleranya." Bella menarik napasnya, lalu menhembuskannya pelan.
"Di coba aja dulu, Neng, barangkali suka," ucap Abang ketoprak.
"Baik, deh, Bang, aku pesan dua bungkus ya, yang satunya, rasanya di enakin ya Bang, yang satunya lagi biasa aja, karna itu untuk aku."
"Sip, Neng, Abang bikin dulu ya."
Setalah pesanan Bella selesai, Abang ketoprak, tersenyum melihat ke arah Bella yang kini nampak bingun. "Ini, Neng pesanannya, Abang jamin, Bos, Eneng akan menyukainya. Senyum atu, Neng jangan pasang wajah seperti itu, nanti cantiknya hilang."
Setelah mendengar ucapan Abang ketoprak. Bella pun tersenyum manis padanya.
"Nah, gitu atu, senyum seperti itukan terlihat lebih cantik."
Setelah membayar ketoprak. Bella berjalan masuk ke dalam kantornya. Bella menggunakan tangga lif, agar segera sampai, di lantai di mana letak ruangan kerja Bosnya.
Setelah sampai di lantai atas, Bella berjalan ke arah pentri untuk menyiapkan makan siang untuk bosnya. Ketoprak untuk Bosnya ia simpan di piring, sementara ketoprak untuk dirinya iya simpan di lemari pentri. Karna setelah memberi makan pada Bosnya. Iya akan juga.
Selesai menyiapkan, Bella berjalan ke arah pintu ruangan Bosnya. Bella mengetuk pintu.
Tok, tok, tok, suara pintu Bella ketuk.
"Masuk." sahut orang dari dalam ruangan."
Bella pun mendorong knop pintu, lalu masuk. Bella berjalan ke arah tempat kerja Bosnya.
__ADS_1
"Pak, ini makanan ya, saya letakkan dimana?" Bella mengatakan itu dengan wajah tertunduk melihat ke arah ketoprak yang ia bawa.
"Bawa kesini," ucap datar Hamish.
Bella pun melangkah ke arah tempat duduk Bosnya. Setelah itu, Bella meletakkan nampan, berisi ketoprak dan segelas air minum di hadapan Bosnya.
Hamish pun menatap ke arah makanan yang Bella bawa. Hamis melihat makanan itu terlihat aneh.
"Ini, bisa di makan?." Hamish mengaduk makanan yang ada di hadapannya.
Dengan segera Bella menjawab. "Iya, Pak, sesuai yang Bapak inginkan, makanan yang banyak mengandung sayur, dan nama makanan itu ketoprak." Bella menjelaskan pada Hamis.
Di dalam hati Bella mengutuki dirinya karna telah membelikan makanan seperti itu pada Bosnya. Seharusnya ia tau, kalau Bosnya itu tak pernah memakan makanan seperti itu.
"Mati aku, kalau sampai Bos, tak menyukainya," ucap Bella dalam hati.
Bella mengankat wajahnya sedikit, lalu melihat ke arah tangan Bosnya, yang sibuk mengaduk ketoprak yang ada di depannya.
"Em, makanannya enak juga." Hamish kembali memasukkan suapan ke duanya dalam mulutnya.
Bella yang melihat itu merasa lega. Karna Bosnya menyukai makanan yang ia bawa.
"Syukurlah." Bella mengelus dadanya dengan sangat pelan.
Setelah Bosnya selesai makan. Bella membersikan meja kerja, lalu mengambil bekas makanan Bosnya keluar dari ruangan. Sesampai di luar ruangan Bella menarik napasnya, lalu membuangnya dengan pelan.
Setelah itu, ia melangkah ke pentri, untuk menaruh nampan yang telah di gunakan Bosnya. Bella pun membuka lemari pentri lalu mengambil ketopraknya, kemudian memakannya.
Bella pun mulai memakan ketopraknya. "Em, rasanya benar -benar enak, pantas saja Bos killer itu tak mengajukan protes, ternyata rasa ketopraknya seenak, dan selezat ini." Bella memakan semua ketopraknya hingga habis.
Selesai makan Bella kembali melangjutkan pekerjaanya. Namun sebelum Bella duduk di tempat duduknya. Telpon di mejanya berdering. Dan pastinya telpon itu berasal dari ruangan Bosnya. Karna telpon itu khusus dari Bosnya.
Dengan segera Bella mengankat telpon. "Iya, Pak, ada apa?," ucap Bella sopan.
__ADS_1
"Keruangan saya sekarang!." Setelah mengatakan itu, sambungan telponnya terputus.
Bella pun mendengus kesal, ketika mendengar nada datar itu keluar dari sambungan telpnnya. Bella pun berjalan melangkah ke arah pintu ruangan bosnya. Setelah mengetuk pintu Bella berjalan masuk.
"Maaf, Pa, ada yang perlu saya kerjakan?" Berkata sopan.
Hamish pun melihat ke arah Bella. "Mha, iya, coba kamu kemari, dan periksa semua data -data itu." Hamish menunjuk ke arah layar komputernya.
Bella pun melangkah ke arah Hamish dan tepatnya, Bella berdiri di sampin Hamish, yang kini tengah duduk santai melihat ke arah Bella yang kini tengah sibuk melihat ke arah layar komputernya.
Bella memeriksa semuanya. Namun Bella tak menemukan kesalahan apapun dari data yang ia periksa.
"Maaf, Pak, sepertinya semuanya baik -baik saja, tak ada masalah sedikit pun." Bella melihat ke arah sampin, dimana saat ini Hamish tengah bertopang dagu melihat ke arahnya.
Bella merasa gugup, sekaligus takut, karna wajahnya dan wajah Hamis berdekatan, sangat dekat. Dengan segera Bella menarik wajahnya lalu kembali melihat ke arah layar komputer.
Jangtun Bella berdetak tak karuan, karna ini pertama kali ia, bertatap muka langsung dengan seorang pemuda yaitu dengan Bosnya sendiri.
Di dalam hati Bella berkata. "Kenapa mesti melihat ke arahnya si, kan jadi seperti ini hasilnya," ucap Bella dalam hati.
Selesai memeriksa apa yang di suruhkan Bosnya. Bella isin pamit keluar.
"Pak, pekerjaan saya di sini telah selesai, saya pamit, untuk melanjutkan pekerjaan saya." Bella pun berjalan ke luar dari ruangan Hamish.
Setelah Bella keluar dari ruanganya. Hamish menyungginkan seyum di bibirnya. Sebenarnya Hamish sengaja memanggil Bella masuk ke dalam ruangannya. Dengan alasan ada masalah pada pekerjaan yang Bella telah selesaikan. Namun sebenarnya ia ingin menatap wajah Bella dari jarak yang sangat dekat.
"Benar -benar cantik dan manis." itulah kata yang selalu di ucapkan Hamish ketika selesai melihat wajah Bella.
Bella yang keluar dari ruangan Bosnya. Merasa sedikit aneh, dengan tingkah laku Bosnya, karna ini tak seperti hari biasa Bosnya melakukan itu. "Ada apa dengan Bos killer itu?"
Ini Visual Hamish Daud Willie.
__ADS_1