Mencintaimu Adalah Pilihanku

Mencintaimu Adalah Pilihanku
56


__ADS_3

Laras tersenyum lalu berkata. "Sama, aku juga seperti itu, jika aku mengajak Nabila keluar untuk berbelanja, Nabila selalu berkata, Nabila malas Ma." Laras memperagakan cara Nabila mengucapkan dan itu membuat Ranti tertawa lebar.


Begitulah yang dikerjakan kedua Ibu, yang kini tengah menceritakan keluguan putra dan putri mereka, hingga lupa waktu kalau saat ini tengah malam. Laras pamit pulang pada Laras dan juga suaminya.


"Ranti aku pulang dulu ya, ini udah malam, kasian Nabila di rumah sendirian, karna saat ini Hartono berada di luar kota."


"Baik lah, kamu naik apa pulang?," tanya Ranti.


"Aku bawa mobil sendiri."


Laras pun berjalan keluar dari rumah di ikuti oleh Ranti dan Suaminya. Setelah Laras melajukan mobilnya, Rendi turung dari kamarnya. Lalu menghampiri kedua orang tuanya yang saat ini tengah berada di depan pintu. "Liatin apa Yah, Bu?," tanya Rendi melihat keluar. Namun tak melihat apa -apa di depan rumahnya.


"Itu, Tante Laras, baru aja pulang."


"Tante Laras, tadi ke sini Bu?, kenapa ngak ngebanguni aku, aku kan bisa ikut berbicara dengan tante Laras." Rendi sedikit kecewa dengan dirinya, karna terlalu lama tidur, Rendi tak mengetahui kalau Laras datang berkunjung di rumahnya.


Itulah Rendi, jika ia tertidur iya lupa waktu. Namun Rendi selalu rajin bangun pagi, untuk melaksanakan Sholat subuh, karna dari dulu Rendi selalu melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Pernah suatu saat Rendi, pergi mengerjakan Sholat jum'at di sebuah mesjid. Rendi mengenakan pakaian lengkap, ke mesjid. Namun setelah selesai Sholat Jum'at berjamaah. Rendi keluar dari mesjid, dan melihat seorang bapak tua yang mengenakan pakaian compang -campin. Bapak tua itu terlihat sangat lusuh dan juga kelaparan. Hati Rendi terketuk ingin menolong bapak tua tersebut.

__ADS_1


Rendi pun jalan menhampiri bapak tua itu, yang tengah duduk di tangga mesjid. Rendi pun duduk lalu berkata. "Bapak, menunggu siapa?. tanya Rendi pelan.


Bapak tua itu melihat ke arah Rendi sejenak, lalu berkata. "Aku sedang menunggu putraku yang tak pulang." Bapak tua itu menatap ke arah depan dengan pandangan mata sayu.


"Putra Bapak kemana?." tanya Rendi ingin tau.


"Aku juga tak tau nak, kemana putraku saat ini berada, aku hanya seorang diri di kota ini, aku datang kemari mencari putraku, karna aku mendengar ucapan para tetanggaku di kampun, kalau saat ini putra bekerja di kota ini. Rumah kami kebakaran di kampun, dan istriku yang menjadi korban atas kebakaran itu." Bapak tua itu menjelaskan dengan pandangan kesedihan. Dan Rendi bisa melihat kesedihan yang terpancar di mata Bapak tua itu.


"Sekarang bapak tinggal dimana?" Rendi kembali bertanya pada Bapak tua itu.


"Kemana saja, aku bisa menginap, terkadang di depan tokoh orang, terkadang di bawah jembatang, dan semalam aku menginap di dalam mesjid ini. Dimana pun aku bisa menginap asal tak kehujanan. Aku tak memiliki cukup uang, untuk menyewah kamar kecil di kota ini."


Rendi memegan bahu Bapak tua tersebut. lalu berkata "Bapak sudah makan?."


Bapak tua itu melihat ke arah Rendi yang tengah menatapnya. "Aku akan makan jika malam, untuk menghemat uang yang aku punya saat ini." Bapak tua itu mengambil topi kopiah yang iya pakai, lalu memperlihatkan sisa uang yang iya punya.


Hati Rendi kembali sakit melihat sisa uang yang bapak tua itu.Rendi hanya melihat uang sepulu ribuan beberapa lembar dan juga uang dua ribu bahkan ada beberapa uang koin.


"Ya, Allah, begitu berharga uang yang tak seberapa itu, bagi Bapak tua ini, aku bahkan, menyimpan di se**mbarangan tempat uang sekecil itu. Namun bagi Bapak tua ini, uang sekcil itu sangatlah berharga baginya. Ampuni aku ya Allah, karna aku tak pernah bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini." Rendi kembali mengatakan itu dalam hati.

__ADS_1


Rendi pun mengambil topi kopiah Bapak tersebut, lalu menggantinya dengan topi kopiah yang iya kenakan. Bapak tua itu agak sedikit terkejut ketika Rendi mengambil topinya beserta dengan uangnya. Namun keterkejutanya itu hilang ketika Rendi memakaikan topi kopiah yang iya kenakan.


Bahkan saat ini Rendi memberikan baju muslim yang ia kenakan kepada Bapak tua tersebut. Lalu mengajaknya ke rumahnya.


"Sekarang Bapak ikut saya, nanti aku akan membantu mencari putra Bapak." Randi pun berdiri. Namun bapak itu enggan untuk mengikuti Rendi.


Melihat Bapak tua itu tak berangjak dari tempat duduknya. Rendi kembali duduk, lalu menatap ke wajah bapak tua tersebut. "Bapak kenapa?, apa Bapak takut atau ragu dengan saya?, bapak tak perlu takut dengan saya, anggap saja aku adalah hamba Allah yang dikirim untuk menolong bapak." Rendi kembali menepuk bahu Bapak tua tersebut, lalu berdiri. Kali ini Bapak tua tersebut ikut berdiri.


Randi pun berjalan ke arah mobilnya di ikuti oleh Bapak tua itu di belakannya. Rendi membukakan pintu mobil untuk bapak tua tersebut, Bapak tua itu pun masuk, Rendi pun menutup pintu mobilnya, kemudian ikut masuk ke dalam mobilnya lalu melajukannya menuju arah rumahnya.


Setelah sampai di depan rumahnya. Rendi turun dari mobilnya, lalu berjalan ke arah pintu mobil yang satunya, untuk membuka pintu mobil tersebut untuk bapak tua itu. Bapak tua itu pun turun dari mobil Rendi, lalu melihat rumah mewah yang berdiri di hadapannya.


"Ini, rumah anda Tuan?." tanya Bapak tua tersebut.


Rendi tersenyum, melihat ke arah Bapak tua itu, lalu berkata "Ini bukan rumah saya Pak, ini rumah orang tua saya, dan ya, bapak jangan panggil saya Tuan, panggil saja namaku Rendi." Setelah mengatakan itu, Rendi mengajak Bapak tua itu masuk kedalam rumahnya.


Setelah sampai di dalam rumah, Rendi langsung menagajak Bapak tua itu masuk ke dalam ruangan dapur untuk makan. Rendi tau kalau bapak tua itu sangat kelaparan, karna waktu di mobil suara perut Bapak tua itu tak berenti berbunyi.


Rendi pun mempersilahkan bapak tua itu duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


"Bapak, duduklah dan kita makan bersama." Rendi menatap ke arah bapak tua tersebut dengan senyum merekah di bibirnya. dan keduanya pun mulai makan bersama.


__ADS_2