
Setelah Doni masuk ke dalam kamarnya, Mira pun turun ke lantai bawah. Hingga pagi pun tiba, Doni terbangun duluan. Doni memperhatikan wajah cantik Nabila dengan senyum indah di bibirnya. Doni lalu mengusap lembut wajah istrinya dan itu membuat Nabila terbangun dari tidurnya.
"Pagi sayang," Ucap Doni lembut sambil mengecup kening Nabila.
"Pagi Mas," Ucap Nabila dengan suara seraknya.
Nabila pun bangun lalu duduk di atas tempat tidur. Nabila mulai memperhatikan sekeliling kamar, lalu bertanya pada Doni.
"Kita di mana Mas?."
"Kita di kamar aku, di rumah Mama."
"Kenapa kita tak langsung pulang ke Apartmens saja." Berkata sambil melihat ke arah Doni.
"Kenapa?, apa kamu tak suka tinggal di sini?."
"Siapa bilang aku tak suka, yang ada aku senang banget bisa dekat terus dengan Mama dan Papa,Mas aku ini ngak punya orang tua, Mama dan Papa kamu sudah aku anggap sebagai orang tua aku sendiri. Berkata lembut dengan senyuman bahagia.
Arman dan Mira yang mendengar semua yang di ucapkan Nabila dari balik pintu kamar Doni pun merasa senang dan bahagia, Mira begitu sangat terharu mendengar apa yang di ucapkan Nabila. Mira kemudian mengetuk pintu kamar Doni.
Tok, tok, tok, Suara pintu di ketuk.
Mendengar suara ketukan pintu kamarnya, Doni lalu berkata.
__ADS_1
"Masuk."
Setelah di persilahkan masuk, Mira dan Arman pun masuk ke dalam kamar Doni. Mira tersenyum senang melihat ke arah Nabila.
"Kalian sudah bangun?,bagaimana keadaan kamu sayang?," Ucap Mira sambil berjalan ke arah Nabila dan langsung memeluknya.
"Baik Ma." Berkata sambil tersenyum.
"Sekarang kalian mandi, lalu turun ke bawa kita sarapan bersama, oya bagaimana kabar calon cucu Mama."
Berkata sambil mengelus lembut perut Nabila yang sudah kelihatan sedikit membuncit.
"Kabarnya baik Mah."
Setelah selesai mandi Doni dan Nabila turun ke lantai dasar di mana Mira sedang menunggunya. Doni mengandeng pinggul Nabila lalu berjalan turun hingga dua anak tangga lagi Nabila hampir terjatuh.
Mira yang melihat itu, tak berenti mengomeli Doni.
"Kamu itu bisa ngak sih jaga putri Mama?."
Mendengar omelan Mamanya Doni hanya terdiam. Doni juga merasa sangat terkejut bahkan sampai saat ini tangan Doni masih gemetar. Doni hampir saja membuat istri dan calon anaknya celaka. Nabila pun menangis dan itu membuat semua yang ada di dalam ruangan itu panik.
"Kamu kenap sayang?, apa ada yang sakit?, sekarang kita ke rumah sakit ya," Ucap Doni panik sambil memeluk Nabila.
__ADS_1
"Papa keluarkan mobil sekarang." kata Arman.
"Ngak usah Pa."
"Kenapa nak?."
"Aku tak kenapa -napa." Berkata lembut pada Arman.
Mendengar ucapan Nabila, Doni melepaskan pelukannya kemudian bertanya pada Nabila.
"Lalu kenapa kamu menangis?."
"Aku terharu, melihat cinta kalian begitu besar padaku, bahkan Mama mengangapku sebagai putri kandung Mama sendiri, aku sangat bersyukur memiliki suami dan mertua seperti kalian, Ma, Pa jangan pernah berubah menyayangiku seperti ini."
Berkata sambil meneteskan air mata.
"Iya sayang Mama tak akan pernah berubah menyayangimu,sekarang ayo kita makan."
"Ayo," Ucap mereka bertiga.
Mereka berempat pun berjalan ke arah meja makan. Namun sebelum makan Nabila berkata.
"Ma, akhir -akhir ini nafsu makan aku bertambah, aku sekarang makan lebih banyak dari pada sebelumnya."
__ADS_1
Mendengar ucapan Nabila,Doni tertawa kecil. Fufffff, tawa kecil Doni. lalu berkata.
"Pantas badan kamu sedikit berisi."