
Hari berganti hari, kelakuan Hamish pada Bella semakin menjadi. Hamish sering kali membuat Bella merasa kesal. Dan Hamish senang melihat wajah kesal itu. Seperti siang ini, Hamish menyuruh Bella membuatkanya kopi. Hamish pun mulai menghubungi Bella dari telpon yang ada di ruanganya.
"Bella bawakan saya kopi, yang tak terlalu manis, tak terlalu pahit, tak terlalu dingin, suhu panasnya biasa saja, segera bawakan, aku tak mau menunggu lama." Setelah mengatan itu Hamish menutup sambungan telponnya dengan senyum tipis di bibirnya.
Bella mendapat telpon seperti itu dari bosnya dengan segera ia berangjak dari tempat duduknya,menuju arah pentri lalu, membuat kopi sesuai dengan apa yang di perintahkan Bosnya. Setelah selesai membuat kopi, Bella berjalan ke arah pintu ruangan Bosnya.
Setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk. Bella pun masuk dengan membawa secangkir kopi yang bosnya pesan.
"Ini, Pak, kopinya." Bella menaruh kopi di meja kerja Hamish.
Hamish pun mengambil kopinya lalu menyeruputnya. "Pueh, kopi apaan ni, aku kan bilang suhu air panasnya jangan terlalu panas seperti ini." Hamish meletakkan kembali kopinya setelah meminum sedikit. Padahal kopi yang Bella bawa sesuai dengan pesanannya.
Melihat Bosnya terlihat sedikit marah dengan segera Bella berkata."Maaf, Pak, saya akan membuatkan, anda kopi sesuai dengan apa yang anda inginkan." Setelah mengatakan itu Bella keluar dari ruangan Bosnya dengan membawa kopi yang iya buat, menuju arah pentri.
Setelah sampai di pentri Bella menyeruput kopi yang ia buat. "Suhu panasnya biasa saja, tak terlalu panas, tak terlalu dingin. Namun kenapa sampai segitunya ia memuntahkan kopinya, seperti mulutnya sedang terbakar?" Bella merasa bingun dengan tingkah aneh Bosnya.
Setelah membuat kopi yang baru, Bella berjalan ke arah ruangan Bosnya, Bella meletakkan secangkir kopi di meja kerja Bosnya.
"Ini, kopinya Pak," ucap Bella sopan.
Hamish pun mengambil kopi buatan Bella, lalu menyeruputnya. "Kopi apaan ini? kamu bisa ngak sih bikin kopi? tadi terlalu panas sekarang terlalu manis." Hamis mengumpat ketika selesai menyeruput kopi buatan Bella.
Bella kaget, karna ini ke dua kalinya Bosnya menolak kopi buatannya.
__ADS_1
"Maaf, Pak, saya benar -benar minta maaf, tadinya aku berfikir kalau kopi ini, sesuai denga selera bapak. Maaf banget ya Pak." Bella menundukkan wajahnya takut, lalu kembali mengambil kopi buatannya yang di tolak.
Bella keluar dari ruangan Bosnya, dengan wajah yang bingun, dengan menyeruput kopi yang kembali Bosnya tolak. "Rasanya pas, tak terlalu manis, tak terlalu panas, lantas apa yang membuatnya menolak kopi buatanku?" Bella berfikir sejenak, hingga akhirnya Bella memiliki ide untuk menyuruh salah satu karyawan kantor membawakan kopi ke dalam ruangan kantor Bosnya.
Bella kembali membuat kopi. Namun kali ini, Bella membuat kopi dengan suhu yang panas, dan juga rasa terlalu manis, tak seperti yang Bosnya pesan. Selesai membuat kopi, Bella mencari seseorang yambisa membawa kopi tersebut.
"Bastian." panggil Bella.
Bastian adalah Asisten pribadi Hamish, dia adalah orang kepercayaannya. Jika Hamish ingin melakukan perjalanan bisnis ia akan selalu bersama Bastian. Bastian dan Hamish memiliki umur yang hampir sama, postur tubuh juga bisa di bilang sama, Hobi pun sama. Namun satu yang tak sama ialah, Bastian. adalah tife pemuda yang tak suka mempermainkan hati wanita. Lain dengan Hamish yang memiliki keperibadian yang suka mempermaikan hati wanita. Bahkan. Hamish bisa di bilang seorang pemuda berengsek, yang hanya ingin memamfaatkan kepolosan seorang gadis.
"Iya." Bastian pun melihat ke arah suara yang tengah memangilnya.
Bella pun berjalan mendekat ke arah Bastian dengan membawa secangkir kopi. "Bastian tolong aku, tolong bawakan kopi ini keruangan Bos, aku udah ngak tahan kebelet ni, mau ya?" Bella memohon dengan wajah memelas di hadapan Bastian.
"Terimakasih, Bastian, karna telah menolongku."
Setelah mendengarkan ucapan Bella, Bastian berjalan masuk ke dalam ruangan Hamish, tampa mengetuk pintu, karna itu telah menjadi kebiasaannya sejak dulu.
Melihat Bastian masuk ke dalam ruangan Bosnya, Bella tersenyum senang berjalan ke arah meja kerjanya, untuk melanjutkan pekerjaanya yang sempat tertunda, karna Bos killernya ingin meminum kopi aneh, bagi Bella.
Sementara di dalam ruangan. Hamish mendengus kesal ketika melihat Bastian membawa secankir kopi masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa kamu yang membawa kopi itu?" tanya Hamish melihat ke arah kopi yang tengah Bastian bawa.
__ADS_1
Bastian tersenyum lalu meletakkan kopi di depan Hamish, tepatnya di atas meja kerja Hamish, lalu berkata. "Kata sekertarismu, dia kebelet." Setelah mengatakan itu, Bastian duduk di hadapan Hamish.
Bastian memperhatikan wajah Hamish yang kini terlihat nampak kesal. "Kamu kenapa?" tanya Bastian yang kini tengah melihat ke arahnya.
Hamish melihat ke arah Bastian sejenak, lalu kembali menatap layar komputernya, lalu berkata. "Aku tak papa. Memang kamu melihat apa di wajahku?, sehingga kamu bertanya seperti itu." Berkata datar seperti biasanya.
Bastian pun tertawa ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Hamish. "Tidak, aku tak melihat apa -apa, aku hanya melihat wajah yang kini tengah jatuh cinta."
Hamis berenti melihat ke arah layar komputernya, lalu beralih melihat ke arah Bastian yang kini tengah tertawa di hadapannya.
"Apa!, aku jatuh cinta." Hamish tertawa ketika mendengar ucapan Bastian, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Jika aku jatuh cinta, pada seorang gadis, dialah yang akan menjadi pendampin hidupku, dan juga ibu dari anak -anakku. Namun untuk saat ini, aku belum mendapatkannya." Setelah mengatakan itu Hamish kembali melihat ke arah layar komputernya.
Setelah mendengar kata itu keluar dari mulus Hamish. Bastian hanya tersenyum, tak menjawab, apa yang di katakan Hamish barusan. Karna Bastian tau, apapun yang keluar dari mulut Hamish itulah yang benar.
Setelah beberapa saat Hamish menatap ke arah Bastian, lalu bertanya. "Ada perlu apa, kamu datang ke dalam ruanganku?" Tanya Hamish.
Bastian tersenyum melihat ke arah Hamish, lalu berkata. "Kita ada undangan dari rekan bisnis di Sydney, apa kamu ingin menghadirinya?, atu tidak, dan ya, ada seseorang yang tengah menanti kedatanganmu di sana." Bastian berbicara santai ketika mengatakan itu pada Hamish.
Hamish tersenyum ketika mendengar ucapan terakhir yang Bastian katakan. Hamish tau siapa yang tengah menantinya di sana. Hingga akhirnya ia berfikir akan mengajak Bella untuk menghadiri undangan tersebut.
"Baik lah, kita akan menghadiri undangan itu. Dan, ya, kamu pesan tiga tiket, ke sana." Hamish melihat ke arah Bastian ketika mengatakan itu.
Bastian bingun, dengan apa yang di suruhkan Hamish. "Tiga tiket, kita kan cuman berdua, lalu tiket satunya untuk siapa?"
__ADS_1