Mencintaimu Adalah Pilihanku

Mencintaimu Adalah Pilihanku
57


__ADS_3

Setelah selesai makan Rendi mengajak Bapak tua itu, keruangan tamu, mereka berdua pun duduk di kursi, di temani dua cangkir kopi plus kue, untuk mereka nikmati berdua. Rendi pun menyeruput kopinya begitupun dengan Bapak tua itu.


Setelah itu Rendi pun bertanya soal putra Bapak tua itu. "Oya, pak, nama putra bapak siapa?, apa bapak punya poto atau yang lainnya, yang bisa aku pakai untuk menemukan putra bapak." Rendi melihat ke arah Bapak tua itu.


Bapak tua itu pun membuka tas yang sedari tadi di bawanya. Tas itu terlihat sangat kotor dan juga butut. Bapak tua itu membuka res kantong tasnya lalu mengeluarkan sebuah kertas putih yang tak lain adalah poto putranya. "Ini poto putra saya, nak Rendi." Bapak tua itu menyerahkan poto putranya kepada Rendi.


Rendi pun meraih poto dari tangan Bapak tua tersebut lalu melihatnya. Rendi terlihat sedikit terkejut ketika melihat poto tersebut. lalu kembali melihat ke arah bapak tua itu.


"Benar ini putra bapak." tanya Rendi.


"Iya, nak itu poto putra saya, Imran namanya." Bapak tua itu menjelaskan.


"Baik lah saya tau di mana putra bapak bekerja, namun soal tempat tinggalnya aku tak tau jelasnya."


Mendengar ucapan Rendi, Bapak tua itu nampak sangat bahagia ketika mengetahui kalau Rendi tau dimana putranya bekerja saat ini. wajah yang tadinya lesu kurang semangat kini menjadi ceria dan begitu sangat bersemangat ketika Rendi mengatakan kalau ia tau di mana putranya bekerja.


"Terimah kasih nak Rendi, ternyata Allah memang mengirimmu menjadi penolongku, semoga kelak kamu bisa menemukan pendamping hidup yang sangat baik, dan semoga Allah memberikan Rezeki berlimpah untuk semua anggota keluargamu. " Itulah Doa bapak tua itu untuk Rendi


Rendi pun mengaminkan ucapan Bapak tua itu. "Amin ya, Allah semoga yang aku lakukan ini menjadi berkah untukmu dan juga berkah untukku."


Setelah itu Rendi menyuruh bapak tua itu utuk istirahat di kamar yang telah di siapkan oleh pelayan Rendi.


Keesokan harinya Rendi pamit pada Bapak tua itu, untuk pergi ke kantor sebentar, berhubung hari ini hari sabtu, Rendi tak ada jadwal kuliah, jadi ia mendatangi kantor orang tuanya, semua karyawan, dan stap -stap yang lainnya sedang libur. Namun tidak untuk para OB di kantor Rendi. OB di kantor Rendi akan libur pada hari minggu saja.

__ADS_1


Namun Rendi datang ke kantor orang tuanya ingin menemui seseorang yang tak lain adalah Imran, putra dari bapak yang telah ia tolong. Rendi juga ingin melihat sebaik apa Imran kepada orang tuanya.


Para OB, nampak terkejut melihat kedatangan putar bos mereka, datan ke kantor di hari libur. Mereka seperti bermimpi melihat kedatangan anak bos mereka di hari libur.


"Selamat pagi Pak," Ucap mereka bersamaan ketika melihat Rendi masuk ke dalam kantor.


"Hem." Rendi hanya menjawah dengan deheman saja, lalu berjalan menuju arah ruangan GM yang kini tengah kosong. Sebelum masuk ke dalam ruangan, Rendi berbalik badan melihat ke arah para OB yang kini tengah sibuk membersikan seluruh ruangan kantor.


"Imran, kamu ikut saya masuk ke dalam ruangan ini." Selesai mengatakan itu. Rendi kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan GM tersebut.


Imran merasa panik dan juga takut, karna baru kali ini bosnya memanggilnya, biasanya jika ada sesuatu, bosnya selalu memanggil kepala OB. Namun kali ini bosnya sendiri yang langsun memanggilnya.


Imran melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan GM. Imran mengetuk pintu. Setelah mendapatkan jawaban dari dalam. Imran menbuka pintu lalu masuk.


"Iya, pak, kenapa bapak memanggil saya?" ucap Imran sopan.


"Imran, saya bertanya kepadamu?" Rendi menatap tajam ke arah Imran.


"Iya, pak silahkan, bapak ingin bertanya apa?"


"Imran, apa kamu memiliki orang tua?"


Imran pun melihat sekilas ke arah bosnya lalu kembali menundukkan kepalanya. "Iya, pak saya masih memiliki bapak, kalau ibu saya telah meninggal karna kecelakaan kebakaran, di kampun rumah orang tua saya kebakaran pak, dan itu mengakibatkan ibu saya meninggal." Imran mengatakan dengan suara tangisan pelan.

__ADS_1


Rendi bisa melihat wajah kesedihan yang di ucapkan oleh imran. lalu Rendi kembali bertanya. "Lalu kemana bapak kamu?, apa iya masih hidup?" tanya Rendi.


"Bapak saya masih hidup pak. Namun aku tak tau saat ini dia ada dimana, kata tetangga di kampun, Bapakku ke kota ini untuk mencariku. Namun hingga sampai saat ini aku belum menemukannya." Air mata Imran mulai membasahi wajahnya, karna jujur sebenarnya Imran sangat menghwatirkan keadaan Bapaknya, berada di kota seorang diri tampa bekal apapun. Bapak Imran hanya memiliki sedikit uang dari hasil menjual kalung istrinya, yang uangnya hanya pas untuk sewa mobil ke kota ini. kalau di pikir Bapak Imran makan apa selama berhari -hari tinggal di kota.


Melihat Itu Randi kembali bertanya. Rendi ingin mengetahui seberapa besar cinta imram untuk bapaknya.


"Apa kamu sangat menyayangi Bapakmu?." Tanya Rendi serius.


"Tentu saja pak, aku sangat menyayanginya, lebih dari apapun di dunia ini, hanya bapak aku, satu -satunya orang yang aku punya saat ini."


"Apa kamu ingin menemuiya, jika aku mengatakan, kalau saat ini Bapak kamu ada bersamaku.


"Tentu saja Pak, aku akan sangat bersyukur jika Bapakku ada bersama dengan Bapak." Wajah Imran terlihat sangat senang begitu mendengar kalau saat ini Bapaknya ada bersama dengan bosnya.


"Baiklah kalau begitu kamu ikuti saya." Setelah mengatakan itu Rendi berangjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan keluar dari ruangan GM, di ikuti oleh Imran di belakannya.


Rendi pun mengajak Imran ke rumahnya. Setelah sampai di depan rumah bosnya. Dengan segera Imran turun dari mobil bosnya. Karna melihat Bapaknya tengah duduk bersantai di sampin rumah bosnya.


"Bapak." Panggil Imran, berlari mendekat ke arah Bapaknya.


Imran pun langsung memeluk dan menciumi seluruh wajah Bapaknya. "Bapak kemana saja?, selama bapak datang kemari aku tak pernah berenti mencari keberadaan Bapak."


Bapak Imran pun berkata. "Itu semua tak penting nak, yang terpenting saat ini, bapak telah menemukanmu.

__ADS_1


Imran pun melihat ke arah Rendi bosnya, yang tengah duduk di kursi melihat ke arah mereka berdua. Imran pun berjalan menghampiri bosnya dan langsun berlutut di hadapannya. "Terimah kasih banyak Pak, karna anda, aku kembali di pertemukan dengan bapakku. Aku berhutang budi pada Bapak."


Melihat apa yang di lakukan Imran. dengan segera Rendi berdiri. lalu berkata. "Apa yang kamu lakukan?, cepat berdiri Imran." Rendi berkata tegas kepada Imran.


__ADS_2