
Mendengar ucapan Nabila barusan,Mira merasa sangat syok, Mira lalu berkata.
"Apa?,wanita itu mengatakan kalau dia masih mencintai Doni?,"
"Iya, Ma, aku mendengarnya dengan sangat jelas," Ucap Nabila dalam tangisnya.
Mira lalu berfikir sejenak dan berkata dalam hati.
"Apakah wanita jalan itu kembali lagi?, oh,tidak,semoga saja bukan wanita jalan itu, tapi kalau bukan dia siapa lagi?, selama ini Doni tak pernah mengjalin hubungan dengan wanita lain selain dia." Berkata dalam hati.
"Kamu tenang ya sayang, saat ini kamu pasti hanya salah faham." Menenangkan Nabila.
"Apa kamu sakit?, kenapa wajah kamu pucat seperti ini?," Tanya Mira lembut sambil membelai rambut Nabila.
"Engak Ma, mungking aku hanya kelelahan saja."
Namun di dalam hati Nabila berkata.
"Maafkan aku Ma, karna tidak jujur pada Mama kalau saat ini aku sedang mengandung cucu Mama."
"Ma, Nabila pulang dulu ya," Ucap Nabila sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Iya,sayang kamu hati -hati ya, kamu bawa mobilnya pelan -pelan."
Sepulang dari rumah orang tua Doni, Nabila mampir di depan kantor Atm, Nabila ingin menarik sejumlah uang untuk keperluannya nanti, karna Nabila berencana ingin pergi menenangkang dirinya sendiri, dia tak mau kalau keberadaanya sampai di ketahui oleh Doni. Setelah selesai melakukan penarikan Nabila kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya pulang ke Apartmensnya.
Sesampai di dalam Apartmensnya, Nabila bergegas naik ke lantai atas lalu masuk ke dalam kamarnya. Nabila mulai mengemas beberapa pakaiannya lalu memasukkannya ke dalam koper, setelah selesai berkemas Nabila turun ke lantai dasar untuk menemui Lastri.
__ADS_1
"Bi, Lastri." Panggil Nabila.
"Iya, Non, ada apa?, mau kemana?." Tanya Lastri.
Mendengar pertanyaan Lastri, Nabila berjalan ke arah Lastri,dan langsung memeluknya, Nabila lalu berkata sambil meneteskan air mata.
"Aku pergi ya bi, tolong jaga mas Doni." Berkata lalu berjalan ke luar dari Apartmensnya.
"Nona muda kenapa?, tidak biasanya dia seperti ini?."
Lastri kemudian berjalan masuk ke arah dapur untuk mengambil hapenya lalu mencoba menghubungi nomor Doni majikannya. Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Doni namun tetap tidak ada jawaban.
Sesampai di depan Apartmens,Nabila langsung memangil taxi yang kebetulan lewat di depan Apartmensnya.
"Taxi." Teriak Nabila.
"Maafkan aku mas, aku belum siap ketemu denganmu, aku belum bisa memaafkan apa yang aku lihat dan aku dengar tadi." Berkata dalam hati sambil meneteskan air mata.
Di dalam taxi Nabila kemudian berfikir sejenak.
"Kemana aku harus pergi?, aku tak memiliki siapa -siapa di sini."
Berkata dalam hati.
Setelah beberapa waktu, supir taxi menyadarkan Nabila dari dalam lamunannya.
"Nona,anda mau ke mana?." Tanya supir taxi.
__ADS_1
"Berenti di depan halte itu saja." Menunjuk halte sambil menghapus air matanya.
Setelah taxi berenti,Nabila pun turun sambil membawa kopernya, Nabila kemudian berjalan ke arah bangku yang ada di halte itu. Nabila lalu duduk sambil memegan perutnya.
"Maafkan Mama ya nak, karna saat ini Mama telah menjauhkanmu dari ayahmu, Mama janji tampa ayah, Mama akan menjagamu dengan sangat baik." Berkata. sambil mengelus lembut perutnya yang masih rata.
Dan tampa Nabila sadari dari seberang jalan seorang pemuda memperhatikannya, pemuda itu baru saja keluar dari Restorand.Pemuda itu memperhatikan Nabila lalu berkata di tempat.
"Nabila,sedang apa dia ada di sini?,dia membawa koper, suaminya kemana?."
Dan tampa berfikir pangjang pemuda itu melajukan mobilnya ke arah halte seberanga jalan. Setelah sampai di depan halte, pemuda itu turun dari mobilnya lalu mendekat ke arah Nabila.
"Sedang apa kamu di sini?."
Mendengar ucapan pemuda itu, Nabila sangat terkejut Nabila kemudian mendongakkan kepalanya lalu melihat ke arah datangnya suara itu.
"Rendi?."
"Iya, sedang apa kamu di sini dan suami kamu mana?." Tanya Rendi ke Nabila.
Mendengar pertanyaan Rendi,Nabila hanya terdiam.dan tampa Nabila sadari air matanya tumpah begitu saja. Melihat Nabila menangis Rendi merasa sangat bingun di dalam hati Rendi berkata.
"Apa yang terjadi denganmu Nabila?."
-
-
__ADS_1
-