
Mendengar kata tegas keluar dari mulut putra bosnya dengan segera Imran bangun dan berdiri.
Melihat sifat bosnya Imran sangat bersyukur, selain baik ternyata putra bosnya memiliki hati yang mulia. Imran tak pernah menyangka kalau Rendi putra dari bosnya di kantornya, telah rela memungut bapak tua yang sangat lusuh di pinggir jalan dan membawanya pulang ke rumah mewahnya. Imran sangat bersyukur pada Allah, jika di dunia ini masih ada orang yang baik seperti Rendi dan keluarga.
*****
Seiring berjalannya waktu, kedekatan Nabila dan Rendi semakin membuat Ranti dan Laras, merencanakan akan mengatakan semua tentang maksud mereka, yang ingin meresmikan hubungan mereka berdua.
Ranti dan Laras merencanakan makan malam bersama, sekaligus mengatakan ke inginan mereka pada Randi dan Nabila.
"Nabila, cepat nak, ini udah sangat terlamba, ngak enak kan sama tante Ranti dan keluarganya kalau kita datang terlambat ke restoran." Laras memanggil Nabila agar segera turun dari kamarnya. Karna saat ini Nabila masih bersiap dikamarnya.
"Iya, Ma, bentar." Nabila berlari -lari kecil menurungi anak tangga.
"Jangan, lari -lari seperti itu nanti kamu jatuh." Ranti menegur Nabila yang kini tengah berlari di tangga, yang turun dari lantai atas.
Nabila pun tersenyum ke arah Laras yang kini tengah menantinya bersama Hartono ayahnya.
Setelah itu mereka bertiga berangkat ke restorand. Setelah sampai di restorand Laras celingak -celinguk mencari keberadaan Ranti beserta keluarganya.
"Laras." Panggil Ranti, Ranti melambaikan tangannya pada Laras yang kini tengah mencari keberadaanya.
Laras pun tersenyum lalu berjalan menghampiri Ranti. "Uda lama Ran," tanya Laras dengan memeluk Ranti.
Ranti melepas pelukannya lalu berkata. "Enggak juga, baru berapa menit kami sampainya.
Setelah saling menyapa Ranti mengajak sahabatnya duduk, "Duduk, Ran, Har, Nabila." Ranti tersenyum senang melihat Nabila yang kini nampak cantik dengan balutan dres selutut yang berwarna nafi. "Wah, Nabila kamu nampak cantik malam ini."
__ADS_1
Nabila pun tersenyum malu -malu mendengar pujian Ranti padanya. "Ah, tante bisa saja."
Randi pun ikut berkata. "Benar Bila, malam ini kamu terlihat sangat cantik daripada biasanya."
Nabila menatap ke arah Randi yang kini tengah duduk di sampinnya. "Jadi selama ini, kamu mengangapku jelek?" Nabila memanyunkan bibirnya ketika mengatakan itu pada Rendi.
Mendengar ucapan Nabila, semua yang ada di meja tersebut tertawa melihat tingkah lucu Nabila.
Namun Rendi kembali berkata. "Lihatlah tante bibir Nabila kelihatan seperti pantat angsa." Rendi mengatakan itu pada Laras, dan itu membuat semua orang yang ada di meja tersebut kembali tertawa.
Di dalam hati Ranti berkata. "Aduh bahagianya jika Nabila bisa menjadi menantuku, keluargaku akan terasa lengkap dan bahagia."
Setelah pesanan mereka tersaji mereka pun menikamati makan malam bersama, berkumbul bersama sahabat beserta keluarga membuat Ranti tak berenti tersenyum begitu dengan Laras.
Setelah selesai menikmati makan malam Ranti memulai pembicaraan.
Nabila dan Rendi pun melihat ke arah Ranti bersamaan.
Lalu Nabila bertanya. "Mendengar apa tante?" Nabila tersenyum manis melihat ke arah Ranti yang kini tengah menatapnya.
Sementara Randi hanya terdiam, bingun, dengan apa maksud dari Mamanya.
Ranti pun kembali melanjutkan ucapannya. "Maksud tante dan juga Mana kamu, kami berdua berencana ingin menjodohkan kalian, dan apa kalian berdua setuju."
Mendengar ucapan Ranti, Rendi dan Nabila saling menatap lalu mengatakan bersamaan.
"Apa!" Rendi nampak terkejut, begitupun denga Nabila.
__ADS_1
"Mama, aku dan Nabila itu hanya sahabat baik, aku telah mengangap Nabila, sebagai adik aku sendiri tak lebih." Rendi menolak.
"Iya, tante, aku dan Rendi itu hanya sebatas sahabat, aku sangat dekat dengan Rendi karna akau mengagapnya sebagai kakak aku sendiri tak lebih." Timpal Nabila.
Laras dan Ranti pun saling memandang. Laras dan Ranti hanya bisa pasrah mendengar keputusan putra dan putri mereka. Mereka juga tak ingin memaksakan kehendak yang mereka inginkan kepada anak -anak mereka. Sementara Hartono dan Ayah Rendi hanya terdiam mendengar apa yang di katakan putra dan putri mereka.
Ranti nampak kecewa mendengar kata yang keluar dari mulut Rendi dan Nabila, begitupun yang Laras rasakan. Laras kecewa, karna tak dapat menjadi besan dari sahabat kecilnya. Setelah makan malam itu Ranti dan Laras tak pernah lagi membahas soal ingin menjodohkan anak -anak mereka.
Namun persahabatan Rendi dan Nabila masih terjaga dengan baik, mereka tak mengangap apa yang orang tua mereka katakan malam itu.
Hingga suatu hari, setelah pulang dari kampus. Rendi mampir ke rumah Nabila. Dan saat itu kedua orang tua Nabila sedang ke luar Negri, untuk melakukan perjalanan bisnis. Rendi masuk lalu menyuruh Nabila memasakkannya sesuatu yang bisa ia makan. Namun Rendi lupa kalau sahabatnya itu tak tau masak.
Waktu terus berus berlalu dengan sangat cepat. Hingga suatu hari Rendi beserta keluarganya harus pindah ke kota seblah. Karna Ayah Rendi harus menangani perusahaannya yang di sana. Dan itulah hari terakhir Rendi bertemu dengan Nabila. Begitu juga dengan Ranti, itulah saat terakhir iya bertemu dengan sahabatnya ketika Laras dan Hartono mengantar kepergiannya ke bandara.
Waktu terus berlalu, Rendi dan Nabila tak pernah bertemu lagi, telpon juga hanya sekali -kali, apalagi ketika Rendi kehilangan Hape, Rendi tak pernah lagi menghubungi Nabila, karna hilangnya Hape Rendi, hilangnya kontak Nabila.
Kembali ke cerita awal.
Bella tertawa lepas mendengar semua cerita Rendi. Sesekali Bella mengejeknya soal perjodohan yang iya tolak.
"Kamu, bodoh banget si Ren, mau di jodohin dengan sahabat sendiri di tolak." Bella tertawa lalu melanjutkan kembali kata -katanya. "Seandainya, ni, ya, aku pribadi ada di posisi kamu, aku pasti dengan senang hati akan menerima perjodohan itu, karna apa aku menerimanya?, karna kamu telah mengetahui semua sipat baik dan buruknya sahabat kamu itu."
Rendi terdiam setelah mendengarkan apa yang Bella katakan. Karna sejujurnya semua yang Bella katakan itu benar adanya. Hingga sekarang Rendi masih menyesali penolakan yang pernah iya katakan pada ke dua orang tuanya dan juga orang tua Nabila. Rendi menyesali kenapa waktu ia menolak, dan seandainya iya menerima, pasti Nabila akan menerimanya juga. Namun kini semuanya telah berlalu, Nabila saat ini tengah bahagia bersama dengan keluarganya bahkan sebentar lagi Nabila akan segera menjadi seorang ibu.
"Rendi," Panggil Bella dengan melambikan tangannya di wajah Rendi, lalu Bella kembali berkata. "apa kamu mendengarkanku?," Tanya Bella ketika melihat Rendi sedang memikirkan sesuatu.
Dengan segera Rendi menjawab pertanyaan Bella. "Iya, ada apa?, kamu mengatakan sesuatu padaku?" Rendi melihat ke arah Bella yang kini tengah melihat ke arahnya.
__ADS_1