
Selesai makan di warung dekat dari Apartmensnya, Bella pulan. Namun sebelum ia pulang ke Apartmensnya, Bella mampir ke Minimarket untuk membeli perlengkapan dapur sampai ia gajian. Ya, itupun kalau ia ngak di pecat oleh Bos killernya itu.
Setelah selesai membeli semua keperluannya, Bella berjalan pulang menuju arah ke Apartmensnya. Bella masuk lalu mengunci kamar Apartmensya. Setelah itu Bella istirahat di dalam kamarnya.
Hingga pagi, Bella terbangun lebih awal, karna hari ini ia ingin kembali masuk ke kantor seperti biasanya.
Pelan -pelan Bella membuka matanya, melihat sekelilin kamarnya. "Hia, aku berada dalam kamarku saat ini." Itulah kata yang keluar dari mulut Bella sebelum berangjak dari tempat tidurnya.
Bella pun bangun, lalu berangjak dari tempat tidur, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi, untuk mandi, selesai dengan ritual mandinya, Bella keluar, lalu bersiap seperti biasa, setelah selesai bersiap Bella berjalan ke arah dapur, untuk sarapan, selesai sarapan Bella berangkat ke kantor.
"Hari yang indah," ucap Bella ketika sampai di halaman kantor.
Bella memasuki lobi kantor, seperti biasa Bella selalu menyapa teman kantornya. Itulah Bella, gadis yang sangat ramah dan baik, Bella tak pernah memilih -milih teman. Yampentin bagi Bella, orangnya baik.
Bella mengunakan tangga Lif, untuk segera sampai di lantai atas di mana ia bekerja. Ketika sampai di lantai atas di mana ia bekerja. Bella tiba -tiba merinding, rasa takut mulai menhampirinya, takut jika saat ini Bosnya telah sampai lalu masuk kantor.
Namun rasa takut Bella sirna ketika mengintip masuk ke dalam ruangan Bosnya yang kosong.
"Syukurlah, dia belum kembali." Bella memegan dadanya, lalu berjalan kembali ke arah tempat duduknya.
Bella mulai memeriksa semua dokumen, yang sempat ia tunda karna perjalanannya ke Sydney. Hingga pulang kantor, Bella masih setia duduk di tempat kerjanya. Bella memeriksa semua yang ia kerjakan hari ini, hingga selesai.
Setelah selesai Bella mengambil tasnya untuk segera kembali. Bella melangkah ke arah Lif. Namun langkah Bella terhenti ketika melihat sosok yang ia takuti.
"Pak. Hamish." Bella menatap Bosnya yang kini tengah berdiri menatap tajam ke arahnya. Bella menundukkan wajahnya takut. Di tambah Hamish berjalan melangkah ke arahnya.
"Ikut masuk ke ruangan saya." kata datar yang keluar dari mulut Hamish membuat seluruh tubuh Bella gemetaran.
__ADS_1
"Bagaimana ini?." Guman Bella dalam hati.
Bella berjalan mengikuti langkah Hamish masuk ke dalam ruangannya, Setelah sampai di dalam ruangannya, Hamish melangkah ke kursi kebesarannya lalu duduk. Hamish mengetuk -ngetuk jarinya di atas meja, dengan melihat ke arah Bella saat ini.
Bella tambah merinding setelah mendengar ketukan jari Hamish di meja. Bella merasa saat ini dirinya tengah menonton flem horor, yang menbuatnya begitu sangat ketakutan, hingga mengeluarkan keringat dingin.
"Bella, kenapa kamu pulang tampa memberi tahukanku?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Hamish, membuat Bella begidik ngeri.
Bella tak menjawab apa yang di tanyakan Hamish padanya. Dan Lagi Hamish kembali bertanya padanya.
"Bella, aku bertanya padamu, kenapa kamu hanya diam? aku, menanti jawaban dari mulutmu."
Mendengar pertanyaan ke dua Bella masih terdiam, karna ia tak tau, harus menjawab apa.
Hamish berangjak dari tempat duduknya, lalu berjalan ke arah Bella, setelah sampai di hadapan Bella.
Hamish berkata. "Duduk." perintahnya, dengan menatap tajam ke arah Bella.
Di dalam hati Bella berguman. "Apa yang akan di lakukan Bos killer ini?, apakah dia akan menjadikanku santapan hewan peliharaannya?. Oh tidak," Bella merasa ngeri mengingat Binatan buas yang ada di rumah Hamish di Sydney.
Bella mengankat wajahnya lalu mengatakan. "Maaf, Pak." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Bella, selebihnya Bella mengatakan dalam hati. "bagaimana aku t**ak kembali, dengan perlakuan kamu yang Berengsek itu, apa kamu berfikir dengan semua kekayaanmu bisa membeli harga diriku?, cih, dasar Bos killer." umpat kesal Bella dalam hatinya.
Hamish mendekatkan wajahnya ke arah wajah Bella, membuat Bella merasa sangat ketakutan, tampah sadar Bella mendorong tubuh Hamish agar menjauh darinya. Hamish mundur dan hampir jatuh terkena dorongan Bella.
"Maaf, Pak, bukan maksud saya, ingin mendorong Bapak, saya kaget dan itu membuat tangan saya refleks mendorong anda, sekali lagi saya minta maaf." Setelah mengatakan itu Bella berjalan ingin keluar dari ruangan Hamish.
Namun belum beberapa langkah Bella melangkahkan kakinya, Hamish menarik tangan Bella lalu menariknya masuk ke dalam pelukannya, lalu mencium Bibir Bella begitu sangat kasar.
__ADS_1
Bella meronta di dalam pelukan Hamish. Namun apa daya Bella kekuatan Hamish jauh lebih kuat darinya. Di dalam ciuman Hamish yang kasar Bella mengeluarkan air matanya. Namun Hamish tak peduli dengan itu. Yang Hamish perlukan saat ini, hanya meluapkan emosinya dengan mencium bibir Bella dengan sangat kasar.
Setelah merasa kehabisan nafas Hamish melepaskan bibirnya dari bibir Bella. Hamish melihat bibir Bella mengeluarkan darah. Belum sempat Hamish menyentuh bibir Bella dengan tangannya. Sebuah tamparan mendarat di wajahnya.
PLak...
Bella menampar wajah Hamish lalu berlari keluar dari ruangannya. Bella berlari dalam keadaan menangis keluar dari kantor, menuju jalan poros untuk menunggu taxi.
Setelah mendapatka taxi, Bella masuk ke dalam taxi, lalu menyuruh supirnya mengantarnya ke alamat orang tuanya.
Sesampai di rumah orang tuanya. Bella mendapatkan pertanyaan bertubi -tubi dari ayahnya.
"Bella, kamu kenapa?, bibir kamu kenapa berdarah?, dan matamu kenapa bengkak seperti itu?, apa yang terjadi denganmu?" Tanya Henra ayah Bella.
Bella pun menjawab. "Aduh, ayah, aku tak kenapa -napa." Setelah mengatakan itu Bella melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.
Bella masuk ke dalam kamarnya, lalu melemparkan tasnya di sembarangan tempat, Bella merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bella meraih bantalnya lalu menutup wajahnya kemudian menangis sejadi -jadinya.
Hiks, hiks, hiks.
Suara tangis Bella yang sempat Henra dengar. Mendengar suara tangisan putrinya Henra masuk ke dalam kamar Bella, lalu bertanya.
"Bella, kamu kenapa?, apa sesuatu terjadi padamu?" Henra duduk di tepi tempat tidur Bella.
Bella pun melihat ke arah Henra lalu berkata. "Aku tidak apa -apa ayah."
"Tidak apa -apa bagaimana?, kalau kamu tak memiliki masalah kamu tak mungkin menangis seperti itu." Henra tak percaya dengan apa yang Bella katakan.
__ADS_1
Bella bangun lalu duduk di atas tempat tidur, dengan memeluk bantalnya. kemudian menatap ke arah Henra yang kini tengah menatapnya juga.
"Ayah, aku mendapatkan perlakuan yang buruk di kantor, Bos aku telah melakukan sesuatu yang tak aku sukai."