Mencintaimu Adalah Pilihanku

Mencintaimu Adalah Pilihanku
97


__ADS_3

Orang itu begitu sangat kesal ketika ia melihat Bella tengah tertawa bahagia bersama Rendi di teras rumahnya. Ia melihat Bella begitu sangat dekat dengan Rendi dan sesekali keduanya tertawa bersama.


Orang itu mendengus kesal, mengkram stir mobilnya, melihat Bella begitu sangat bahagia dengan Rendi.


"Apakah kamu begitu sangat bahagia, tampaku?" Kembali melihat ke arah Bella. "Aku fikir kamu mencintaiku. Namun ternyata kamu lebih bahagia dengan orang lain." Setelah mengatakan itu. Ia melajukan mobilnya menuju arah rumahnya.


Sementara Rendi dan Bella terlihat sangat bahagia. Sesekali Bella mengoda Rendi.


"Ren, bagaimana dengan gadis cantik di Restorand itu? Apa uda ada perubahan? atau kamu masih diam kaku seperti kemarin malam?" Bella tertawa mengejek. "Jangan kelamaan Ren, nanti keburu di ambil orang. Apa kamau mau?" Setelah mengatakan itu Bella kembali tertawa.


Rendi melihat ke arah Bella, lalu ia berkata. "Belum ada perubahan, masih sementara usaha. Kalau menurut kamu apa gadis itu cocok denganku." Rendi bertanya. "Jujur aku sangat menyukainya. Dari awal bertemu dengannya seperti ada sesuatu yang berdetak kencang di sini." Menunjuk arah jangtungnya.


Bella tersenyum melihat ke arah Rendi yang kini tengah menunjuk arah jantungnya. "Ren, itu namanya kamu ada perasaan dan bisa di katakan, kamu jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Benar itu?" tanya Rendi senang.


"Iya, makanya buruan kejar, jangan sampai di ambil orang. Kan nyesal akhirnya."


Setelah mendengarkan apa yang di katakan Bella. Rendi balik mengoda Bella. "Kalau aku tak mendapatkannya. Kana ada kamu yang bisa menggantikannya." Setelah mengatakan itu Rendi tertawa dan itu membuat Bella merasa grogi.


"Apaan sih Ren." Bella mencubit lengan Rendi. "Aku itu hanya mengangap kamu sebagai teman aku tak lebih. Jadi jangan terlalu berharap ya." Setelah mengatakan itu Bella tertawa sedikit besar.


"Beneran loh Bel, kalau aku tak bisa mendapatkan gadis itu, kamu bisa mengantikannya." Rendi kembali tertawa setelah mengatakan itu.


"Uda, ah, kamu tak usah membahas soal itu. Dan yang sekarang yang harus kamu lakukan adalah, mengejar cinta orang yang tengah membuatmu penasaran." Setelah mengatakan itu Bella berjalan masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Rendi sendiri di teras rumahnya.


Rendi tersenyum dengan memimum jus yang tengah ia pegan. Setelah meneguk jusnya. Rendi berkata.


"Benar kata Bella, aku harus berusaha agar tak keduluan dengan orang lain.


Malam semakin larut. Rendi pamit kepada Bella dan Henra untuk pulang kerumahnya. Setelah itu ia melajukan mobilnya membelah kota yang ia tempati.

__ADS_1


Namun di perjalanan pulang Rendi melihat mobil yang kini tengah parkir di bahu jalan. Pelan -pelan Rendi melajukan mobilnya dan melihat seorang gadis yang kini tengah memeriksa keadaan mobilnya. Rendi melihat ke kiri dan ke kanan, jalanan yang begitu sangat sepi mungkin karna larut malam membuat daerah tempat itu terlihat begitu sangat sepi, membuat Rendi ingin menolong gadis itu.


Rendi memarkir mobilnya lalu turun dari mobil, setelah itu Ia berjalan ke arah mobil yang kini tengah terparkir di bahu jalan. Setelah sampai di belakan gadis yang kini tengah sibuk memeriksa mobilnya, Rendi berkata.


"Maaf, permisi, ada yang bisa aku bantu?"


Mungkin karna terkejut gadis itu langsung berbalik melihat ke arah Rendi. Namun kepalanya kepentok dengan penutup mesin mobilnya.


"Auu."


Gadis itu meringgis kesakitan, dengan memegan kepalanya yang tengah kepentok. Rendi membulatkan matanya ketika melihat wajah gadis itu telah terkena dengan oli. Karna dialah gadis yang kini tengah membuatnya begitu sangat penasaran.


Rendi merasa begitu sangat senang ketika melihat wajah gadis itu. Karna Rendi begitu sangat penasaran dengan gadis itu.


"Maaf, apa ada yang bisa aku bantu." Tanya Rendi kembali.


Gadis itu melihat ke arah Rendi, dengan pandangan tak bisa Rendi artikan. Namun dengan cepat Rendi kembali berkata. Karna Rendi bisa melihat wajah gadis itu terlihat sedikit ketakutan.


"Kamu tak perlu takut denganku. Aku hanya ingin membantumu saja." Rendi tersenyum ketika mengatakan itu pada gadis tersebut.


"Baiklah. Aku butuh bantuanmu untuk memperbaiki mobilku. Aku tak tau kenapa mesinnya tiba -tiba mati begitu saja." Setelah mengatakan itu gadis itu minggir dari depan mobilnya lalu memberi jalan pada Rendi, untuk memeriksa mobilnya.


Rendi berjalan, mendekat ke arah gadis tersebut, lalu memeriksanya. Cukup lama Rendi memeriksa mobil gadis itu. Bahkan Rendi mengambil perkakas mobilnya karna gadis itu tak memilikinya.


Rendi membuka jasnya, lalu melipat lengan bajunya sampai di siku. Lalu kembali memeriksa mobil gadis itu Hingga akhirnya mobil gadis itu bisa kembali di nyalakan.


Gadis itu tersenyum ketika mendengar suara mobilnya kembali menyala. Sementara Rendi mengambil semua peralatan mobilnya lalu memasukkannya ke dalam mobilnya. Lalu kembali berjalan ke arah gadis itu.


"Terimakasih banyak karna telah memperbaiki mobilku."Berkata pelan. "Kamu telah menolongku di tengah malam dan di jalanan sepi ini" Setelah mengatakan itu gadis itu tersenyum senang.


Rendi membalas senyuman wanita itu lalu berkata.

__ADS_1


"Tidak masalah, kamu santai saja. Itu memang seharusnya aku lakukan. Menolong sesama itu memang kewajiban semua orang."


"Tidak semua orang bisa melakukan.hal yang sama, seperti yang anda lakukan saat ini." Setelah mengatakan itu gadis itu mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya.


"Kenalkan namaku Clarisa."


Rendi tersenyum lalu membalas uluran tangan gadis itu, lalu menjawab. "Rendi."


Keduanya saling berjabat tangan dengan senyuman yang mengembang di bibir masing -masing.


Setelah jabatan tangan mereka terlepas Clarisa kembali berkata.


"Sekali lagi ya Rendi. Terimakasih banyak karna telah menolongku, aku tak tau harus mengatakan apa lagi selain kata terimakasih."


Rendi tersenyum dengan memegan dahinya yang sedikit berkeringat lalu berkata.


"Tidak masalah."


"Baiklah Rendi. Aku permisi pulan, dan sekali lagi terimakasih telah menolongku." Setelah mengatakan itu Clarisa berjalan ke arah mobilnya. Namun sebelum ia masuk ke dalam mobilnya Rendi memanggilnya.


"Clarisa, tunggu!" panggil Rendi.


Clarisa berhenti, lalu berbalik melihat ke arah Rendi.


"Iya, Rendi, ada apa?" tanya Clarisa pelan.


"Ada sesuatu di wajahmu." Setelah mengatakan itu Rendi berjalan ke arah mobilnya, lalu kembali melihat ke arah Clarisa yang kini tengah duduk di depan stir mobilnya dengan membersikan wajahnya.


Rendi masuk ke dalam mobilnya lalu duduk. Namun belum sempat ia menyalahkan mesin mobilnya. Rendi melihat ke arah Clarisa yang kini tengah berjalan ke arah mobilnya.


Setelah sampai di pintu mobil Rendi Clarisa mengetuk pelan kaca pintu mobil Rendi.

__ADS_1


Tok, tok, tok.


Suara pintu mobil Rendi di ketuk.Rendi membuka kaca pintu mobilnya lalu melihat ke arah Clarisa yang kini tengah tersenyum melihat ke arahnya.


__ADS_2