
Pintu lif terbuka dengan segera Bella berlari keluar, dan berlari menujuh arah tangga di sana Ia mulai terlihat sedikit ramai, banyak orang yang tak Ia kenali dan beberapa di antaranya berpakaian seragan lengkap. Namun Bella tak memperdulikan semua itu yag ada di dalam fikirannya saat ini, hanya ada Hamish. Dimana dia saat ini? kenapa Ia meninggalkan kamarnya?.
Setelah sampai Bella berlari di tengah kerumun orang. Di atas atap rumah sakit sangatlah gelap hanya lampu kota yang menerangi tempat itu. Bella mencari -cari keberadaan Hamish, namun Ia tak menemukannya. Lalu Ia berjalan mendekat, lalu ingin melihat ke bawah, namun seseorang paruh baya menarik tanganya. Orang itu pun berkata.
"Hei, Nona, apa kamu juga ingin bunuh diri seperti pemuda bodoh itu?" kata orang tua paru baya itu.
Bella berbalik melihat ke arah orang yang menarik tangannya. Lalu Ia bertanya. "Pemuda, pemuda itu telah bunuh diri?" tanya Bella dengan bibir yang mulai gemetar.
"Iya, pemuda bodoh itu telah bunuh diri. Aku dengar dari orang yang menyaksikannya, katanya cintanya di tolak oleh orang yang sangat Ia cintai. Hingga akhirnya Ia memutuskan untuk bunuh diri. Namun yang menyaksikannya kalau pemuda itu baru saja menjalani oprasi karna Ia melihat sebuah perban yang ada di perutnya. Benarkan kataku pemuda itu sangat bodoh, hanya karna cintanya di tolak, ia memilih bunuh diri."
Jangtung Bella berdetak tak karuan, kakinya terasa tak ada tenaga lagi untuk berdiri. Namun Ia berusaha untuk kuat berdiri tegak. Bella menatap ke arah orang tua paruh baya itu lalu berkata.
"Itu bukan kebodohan Tuan, itu adalah cinta sejati, cinta sejati yang tak tersampaikan." Setelah mengatakan itu Bella berbalik melihat ke arah tempat pemuda itu melakukan bunuh diri.
Bella tersungkur lemas di lantai atap rumah sakit. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu mulai menangis sejadi -jadinya. Mungkin karna tak bisa menahan rasa sakit yang Ia rasakan saat ini.
Bella berteriak dalam keadaan menangis. "Hamiiiissshhh, jangan tinggalkan aku." menangis keras. "Maafkan aku. Karna aku kamu melakukan semua ini. Maafkan aku, kembalilah, aku sangat mencintaimu. Huhuhuhu. Maafkan aku." Bella berteriak sejadi -jadinya dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Di dalam benak Bella, terlintas ingin ikut melompat di atas gedung itu, agar rasa sakit yang tengah Ia rasakan saat ini menghilang. Bella berdiri lalu berjalan mendekat ke arah pinggir atap, dan mulai ingin melompat.
Namun sebelum itu sebuah tangan kekar melingkar di perutnya lalu mengankatnya menjauh dari pinggir atap rumah sakit itu.
__ADS_1
Bella meronta minta dilepaskan.
"Lepaskan aku, lepaskan, aku ingin menyusul orang yang sangat aku cintai. Aku tak bisa hidup lagi, aku ingin mati. Lepaskan aku ku mohon. aku ingin mati." Bella kembali menangis terisak.
Tangan kekar itu terlepas dari perut Bella. Bella pun berbalik melihat ke arah pemilik tangan kekar itu.
"Hamish." Bella membulatkan matanya tak percaya kalau yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Hamish.
Bella memegan wajah Hamish lalu berkata. "Apa ini benar kamu?." Bella terus memegan wajah Hamish.
Hamish mengangukkan kepalanya, tersenyum melihat ke arah Bella.
Bella begitu sangat senang dan langsung memeluk dan menghujami Hamish dengan ciuman di wajahnya.
"Berjanjilah kamu tak akan pernah meninggalkan aku lagi, aku tak bisa hidup jauh darimu. Duniaku terasa runtuh ketika aku?... Huhuhu. Hamish aku sangat mencintaimu." Bella kembali menangis dengan memeluk erat tubuh Hamish.
Hamish yang mendengar semua yang di katakan Bella tersenyum senang, tak perduli kalau saat ini bekas oprasinya kembali mengeluarkan darah bahkan daranya menempel di baju yang tengah Bella kenakan.
Atap rumah sakit yang tadinya sangat gelap kini berubah menjadi sangat sangat terang. Bella terkejut melihatnya. Lalu pelan -pelan Ia melepas pelukannya dari Hamish dan melihat sekelilingnya.
Bella bisa melihat Bastian, Ratna dan juga Henra Ayahnya ada di atas atap tersebut. Bella bingun melihat semua orang yang tengah berkumpul di atas atap rumah sakit. Bahkan orang tua paruh baya yang mengatai Hamish ikut hadir yang tak lain adalah Ayah kandung Hamish.
__ADS_1
Bella melihat ke arah Hamish lalu berkata. "Ini semua apa? apa kamu yang merencanakan semua ini?" Bella menatap tajam ke arah Hamish.
Tampa menjawab pertanyaan Bella. Hamish memegan tangan Bella lalu berlutut di hadapannya dan di saksikan oleh semua orang yang ada di atas atap rumah sakit tersebut.
Hamish pun berkata.
"Aku bukanla pemuda yang baik dan sempurna. Yang dulu selalu menyakiti dah bahkan selalu berbuat kasar padamu." Hamish menundukkan kepalanya menahan rasa sakit di bagian perutnya. Lalu Ia kembali menatap wajah Bella yang kini tengah tersenyum bahagia melihatnya.
Hamish menahan rasa sakitnya karna tak ingin melihat senyum bahagia itu hilang dari bibir Bella. Hamish pun melanjutkan kata -katanya. "Dan Aku mungkin bukan pemuda yang kamu inginkan, yang bisa memberikan semua yang kamu inginkan, akan tetapi aku punya cinta dan kasih sayang yang akan ku berikan padamu, selama aku bernapas untuk selamanya, Jika kamu mau, maukah kamu menjadi pemilik hati ini, menemeniku hingga mataku memburam, wajahku tak lagi tampan seperti ini, dan di penuhi oleh keriput."
Bella pun tersenyum lalu berkata. "Apa kamu melamarku?" Bella mengerutkan dahinya melihat ke arah Hamish yang kini mulai berkeringat dingin karna menahan rasa sakitnya.
Hamish tersenyum lalu berkata. "Iya, aku melamarmu. Aku ingin segera menikahimu dan menjadikanmu milikku seutuhnya. Aku tak ingin ada orang lain menyentuhmu selain Aku." Hamish menekankan kata terakhirnya. "Dan sekarang aku menanti jawaban itu keluar dari mulutmu."
Bella tersenyum lalu berkata. "Iya. Aku mau menjadi istrimu. Karna selama ini, itulah yang ku nanti darimu." Bella terlihat sangat bahagia ketika mengatakan itu. Karna impian selama ini impikan kini tengah terwujud. Hamish telah membuktikan apa yang pernah Ia kata waktu itu.
Mendengar ucapan Bella yang telah menerimanya dengan baik. Hamish merogoh kantong celanya lalu mengeluarkan sebuah cincin dari dalamnya. Hamish memakaikan cincin berlian itu di jari manis, lalu mengecup lembut punggun tangan Bella.
Semau orang yang menyaksikan itu. Bahagia mereka semua bertepuk tangan. Tuan.Willie, ayah Hamish berjalan mendekat ke arah Hamish dan calon menantunya. Lalu memberikan sebuah dokument berwarna biru.
"Ini, Nak, ambillah." Ayah Hamihs menyerahkan dokument tersebut.
__ADS_1
Bella pun menerimanya lalu berkata.
"Ini, apa Tuan?" tanya Bella. Ia belum tau kalau orang tua itu adalah Ayah Hamish. Hamish tersenyum setelah mendengar apa yang tengah Bella katakan.