Mencintaimu Adalah Pilihanku

Mencintaimu Adalah Pilihanku
70


__ADS_3

Bella mengadukan semua perlakuan buruk yang ia dapatkan dari Bosnya kepada ayahnya. Henra merasa geram mendengar semua yang di katakan Bella.


Selesai mangatakan itu pada ayahnya. Beban di hati Bella sedikit berkurang. Setelah ayahnya keluar dari kamarnya. Bella memilih untuk membersikan diri lalu tidur. Bella tak ikut makan malam karna merasa tak nafsu makan.


****


Di kantor, tempat Bella bekerja Hamish tersenyum senang karna telah melampiaskan kekesalannya, dengan cara mencium bibir Bella hingga berdarah.


Hamish menyentuh bibirnya, setelah itu ia tersenyum lalu berkata. "Suatu hari nanti kamu akan menjadi milikku, mau tak mau, kamu akan tetap menjadi wanitaku." Hamish tertawa besar di dalam ruangannya ketika mengatakan itu.


Waktu terus berjalan. Malam telah berlalu berganti dengan pagi. Hamish tak kembali ke rumahnya, melainkan ia memilih untuk menginap di kamar pribadinya yang ada di dalam ruanganya. Hamish merasa sangat kelelahan sehingga ia memilih untuk menginap.


Hamish menatap ke arah jam yang ada di dalam kamar pribadinya. Hamish mengira kalau saat ini Bella telah ada di meja kerjanya. Dengan cepat ia berangjak dari tempat tidur, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersikan diri.


Itulah di dalam kamar pribadi Hamish, yang berada di ruangannya semuanya tersedia, mulai peralatan mandi, pakaian yang akan ia kenakan untuk bekerja, bahkan seperti Farpium semua tersedia di dalam kamar pribadinya.


Selesai bersiap Hamish keluar dari kamar pribadinya, lalu berjalan menuju arah kursi kebesarannya.


Hamish mulai menekan tombol telpon yang terhubung langsun dengan meja kerja Bella. Cukup lama Hamish menunggu. Namun, tak ada satupun yang mengankatnya.


"Kemana dia?" ucap Hamish dalam hati.


Hamish beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah pintu, lalu keluar melihat ke meja kerja yang biasa Bella tempati bekerja.


"Bella, belum sampai?" Hamish menatap ke arah jam yang melingkar di tangannya. "Ini bukan kebiasaanya, biasanya Bella selalu datang bekerja tepat waktu, lalu kemana dia?, apa hari ini Bella tak masuk bekerja atau jangan -jangan Bella berenti bekerja atas kejadian semalam?" Hamish mengacak rambutnya berjalan masuk ke dalam ruangannya, Hamish duduk, lalu meraih hapenya lalu mencoba menghubungi nomor Bella. Namun hasilnya Bella tak mengaktipkan nomornya.


"Oh, syet, kenapa Bella tak mengaktipkan nomornya?, apa benar -benar ia akan mengundurkan diri dari perusahaanku?, ini tak mungkin, aku tak akan membuatnya melakukan itu." Setelah mengatakan itu Hamish meraih kunci mobilnya lalu keluar dari kantornya menuju arah parkiran.


Hamish masuk dalam mobilnya, lalu melajukannya dengan sangat cepat menuju arah Apartmens Bella. setelah sampai dengan cepat Hamish keluar dari mobilnya, lalu berlari masuk ke Apartmens yang Bella tempati.


Setelah sampai di depan pintu Apartmens Bella. Hamish mengetuk pintu kamar dengan sangat kencang. Namun tak ada sahutan ataupun membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


Hamish mendengus kesal." Kemana dia?" Hamish meninggalkan depan pintu kamar Apartmens Bella. Lalu melajukan mobilnya kembali ke kantornya.


Dengan lesu, Hamish berjalan masuk, ke lobi kantornya. Namun tiba seorang pria baru baya menarik leher baju Hamish.


"Apa, kamu Bos di kantor ini?" Tanya pria baru baya itu pada Hamish


Keamanan yang melihat Bos mereka di perlakukan seperti itu, dengan segera ia melepaskan cengkraman tangan dari leher baju Bosnya.


Hamish memperbaiki leher bajunya yang telah di tarik oleh bapak paruh baya itu.


Dengan angkuhnya Hamish berkata. "Iya, aku Bos di kantor ini, ada apa kamu mencariku?" Nada datar keluar dari mulut Hamish.


"Apa yang telah kamu lakukan pada putriku?" Itulah pertanyaan yang di lontarkan pria baru baya itu.


Hamish menatap ke arah pria paru baya itu, lalu berkata. "Putrimu?, apa yang aku lakukan pada putrimu?, aku bahkan tak mengenal siapa itu putrimu."


"Kamu jangan pura -pura tak mengenal putriku, apa kamu lupa, apa yang telah kamu lakukan padanya semalam?"


Hamish memerintahkan pada keamananya untuk melepaska pria baru baya tersebut, karna tak berenti meronta dari pegaman para keamananya.


"Lepaskan dia." Perintahnya.


Setelah itu Hamish mengajak pria paru baya itu, naik ke lantai atas dimana arah letak ruangannya. Setelah sampai di depan pintu ruangannya Hamish mempersilahkan bapak paru baya itu masuk ke dalam ruangannya.


"Silahkan masuk pak." Setelah mengatakan itu Hamish berjalan masuk ke dalam ruanganya.


Hamish duduk di sopa yang ada di dalam ruanganya. lalu mempersilahkan duduk pria paru baya itu.


"Silakan duduk pak."


Henra duduk di hadapan Hamish, dengan menatap sekelilin ruangan kerja Hamis, di dalam hati Henra berkata. "Pasti Bos Bella orang yang sangat kaya, terlihat jelas dari perusahaan yang ia punya saat ini."

__ADS_1


Tampa berkata apapun Hamish menyodorkan cek kosong kepada Henra. Hamish tau orang yang ada dihadapannya saat ini, adalah orang tua mata duitan, ia bisa melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan uang.


Jiwa serakah Henra muncul, ketika melihat cek yang di tawarkan Hamish padanya. Henra meraih cek kosong tersebut. Dengan pura -pura ia bertanya.


"Ini, maksudnya apa?" Melihat ke arah Hamish.


Hamish tersenyum mendengar apa yang di tanyakan Henra padanya.


"Aku menginginkan putrimu, jika kamu bisa membuatku memiliki putrimu, maka isilah cek kosong itu dengan jumlah berapapun yang kamu inginkan." Hamish merentangkan ke dua tangannya di sandaran sopa ketika selesai mengatakan itu.


Setelah mendengarkan itu, Henra melihat ke arah Hamish lalu melihat ke arah Cek yang tengah ia pegan.


Hamish kembali berkata. "Bagaimana?, apa kamu setuju?"


"Kalau aku setuju saja. Namun aku tak tau apakah Bella akan setuju dengan ini, aku tau dengan baik watak dari putriku yang sangat keras kepala itu." Henra menjelaskan semua tentang Bella padanya.


"Itu terserah dari cara kamu membujuknya, jika itu berhasil cek kosong ini akan menjadi milikmu bagaimana?" Setelah mengatakan itu Hamish berangjak dari tempat duduknya, lalu berjalan ke arah kursi kebesarannya, lalu duduk.


Henra masih duduk terdiam di sopa memikirkan cara, bagaimana agar Bella setuju menjadi milik Hamish.


Setelah berfikir keras Henra akhirnya, permisi untuk kembali ke rumahnya.


"Saya, permisi dulu , nanti aku akan mengabari kalau Bella telah setuju. Namun sebelum saya kembali, aku ingin meminta nomor telpon anda, apa boleh aku memintanya?" Henra berkata sopan pada Hamish.


"Tentu saja." Hamish melemparkan kartu namanya di atas meja kerjanya. Dengan segera Henra mengambil kartu nama tersebut. lalu keluar dari ruangan Hamish.


Setelah Henra keluar dari ruanganya, Hamish tertawa, menertawakan ayah Bella yang serakah itu.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2