MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
Kate dan Gaffi


__ADS_3

Mata Kate membola ketika melihat sosok yang selama beberapa waktu ini terus menghantui pikirannya. Sosok yang selama ini dia rindukan juga yang selama ini menorehkan luka terdalam di hidupnya. Tanpa banyak bicara, tanpa banyak berpikir, Kate langsung saja lari memeluk tubuh sosok yang selama ini menghantui pikirannya.


Awalnya Kate merasa takut jika bertemu dengan sosok itu. Bagaimana pun juga, sosok inilah yang membuatnya terluka begitu dalam. Sosok inilah yang paling membekas meninggalkan luka dalam hidupnya. Sosok ini juga yang menjadi trauma terbesar Kate. Tapi lihatlah kerinduan mendalam pada pria ini justru menghapus semua ketakutan yang sempat Kate rasakan.


" Aku merindukan ku kak.. " ucap Kate lirih dalam pelukan Gaffi. Andai saja Kate tidak mendengar detak jantung Gaffi yang berdetak begitu cepat saat ini, Kate pikir pastilah dirinya sedang bermimpi saat ini.


Yah, sosok yang membuat Kate terkejut setengah mati adalah sosok yang bernama Gaffi Aluvares de Niels. Pria yang merupakan suaminya, pria yang menjadi cinta pertamanya dan sedang berusaha menjadikannya cinta terakhir Kate.


" Aku pun merindukan mu Kate... Bagaimana bisa kau mengabaikan ku selama beberapa tahun ini, hah? " tanya Gaffi menuntut.


Kate bukannya menjawab pertanyaan Gaffi, tapi justru terkekeh ketika mendengar ucapan Gaffi terkesan seperti seorang anak kecil yang tengah mengambek.


" Mengabaikan bagaimana? Aku selalu membalas surat-surat kakak lho... Eh,, bagaimana bisa kakak sampai OD karena obat anti depresan? Dan kenapa minum itu? " Kate langsung melerai pelukannya dan mengomel panjang lebar di depan Gaffi.


Gaffi pun bukannya menjawab pertanyaan Kate, justru terkekeh dan langsung memeluk Kate kembali dengan pelukan yang lebih erat. Gaffi rasanya tidak percaya bisa kembali bertemu dengan Kate. Rupanya tugas membantu di rumah sakit ini, hanya akal-akalan Galen saja untuk mempertemukan Gaffi dengan Kate.


" Kakak,... Jawab!!!! Bukan malah cengengesan begitu.. Sebel deh, kakak udah bikin aku sampai sakit karena sedih dan kepikiran.. " bibir Kate mengerucut, terlihat lucu sekali di mata Gaffi.


" Eh... Kapan kamu sakit? Kenapa nggak jaga kondisi kesehatan kamu sih? " Gaffi menegur Kate. Raut wajah Gaffi bahkan terlihat sangat garang.


" Heh... Sok-sok an marah kamu ya... Kamu sendiri lebih parah sampai masuk rumah sakit dan dirawat berhari-hari.. "

__ADS_1


" Ekhem.... " suara deheman seseorang menghentikan adegan romantis diantara Gaffi dan Kate.


" Eh... Dokter Volk,, maaf kan saya... Sampai lupa jadinya.. " ucap Kate nyengir kuda.


" Nona Kate.... Maaf tidak sopan, tapi boleh dong temannya dikenalkan.. " ucap dokter Volk menatap Gaffi. Rasanya pernah melihat Gaffi, tapi dimana.... Dirinya lupa.


" Dia bukan teman saya, dok.. Kenalin ini suami saya.. " dokter Volk terbelalak.


" Gaffi Aluvares de Niels... Salam kenal.. " ucap Gaffi memperkenalkan diri.


" Oh... Iya.... Saya... Volkscan... Saya dokter yang bekerja di rumah sakit ini.. " dokter Volk memperkenalkan diri.


" Benarkah? Saya dokter bedah umum, kalau anda? "


" Saya dokter bedah saraf otak.. Saya dokter bantu dari rumah sakit JN Milan.. "


Kate yang berada di tengah-tengah dua pria ini terlihat seperti orang bodoh yang melihat kanan dan kiri menatap orang yang bicara di depannya ini. Kate sendiri heran kenapa kedua orang ini bisa seakrab ini. Apakah Gaffi tetap akan bersikap ramah seperti ini jika tahu, dokter Volk bahkan baru saja mengutarakan perasaannya pada Kate.


Perbincangan dua orang ini benar-benar menyita perhatian banyak orang. Sudah ketawa mereka cukup keras sampai diperhatikan orang di sekitar. Belum lagi dengan bodohnya mereka bertiga ini berbincang sambil berdiri padahal kursi di dalam. cafe ini sangat banyak yang kosong. Kurang kerjaan atau kurang bisa memperhatikan sekitar, entah mana dari kedua itu yang sebenarnya bisa menggambarkan situasi saat ini.


Setelah perbincangan yang sangat amat panjang ini. Akhirnya kini Gaffi dan Kate sudah berada di apartemen Gaffi yang ada di depan rumah sakit tempat Gaffi akan bekerja mulai besok. Sangat disayangkan ketika Gaffi bertemu Kate, keduanya tidak bisa langsung melakukan liburan untuk menuntaskan rindu keduanya karena Gaffi harus bekerja. Padahal Gaffi sangat ingin melihat toko-toko yang katanya milik Kate.

__ADS_1


" Tunggu kak Gaffi libur dulu lah... Setelah kak Gaffi libur, aku akan ajak kak. Gaffi keliling tempat ini deh... " ucap Kate.


" Promise? " tanya Gaffi.


" Yes... Jangan khawatir pokoknya aku pasti akan ajak kak Gaffi keliling kota ini. Kita kencan deh, kan kita nggak pernah kencan dulu kak.. " ucap Kate. Niat hati hanya ingin membuat Gaffi senang dengan ajakan kencannya, nyatanya Gaffi berubah jadi sendu karena dia mengingat berapa buruknya perlakuannya pada Kate ketika dulu mereka bersama. Jangankan berkencan, untuk sekedar makan di meja makan yang sama saja bisa dihitung jari.


" Maaf Kate.. Aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu.. Bahkan menjadi ayah yang baik untuk Carmel saja aku belum bisa.. Maafkan aku Kate.. " ucap Gaffi menunduk. Terlihat begitu dalam penyesalan yang terlukis di mata dan raut wajah Gaffi.


" Kak... Kita sama-sama saling instropeksi diri dan berjuang menuju ke suatu yang lebih baik ya.. Yang lalu biarlah berlalu, mari kita berjuang untuk masa depan kita bersama.. " Kate memegang kedua tangan Gaffi dengan erat. Menyalurkan kekuatan pada pria yang sekarang ini tengah dalam kondisi terburuknya karena gagal menjadi suami dan ayah yang baik.


Gaffi pun langsung memeluk Kate, keduanya sepakat memulai dari awal. Keduanya sepakat untuk sama-sama berjuang untuk rumah tangga mereka yang mengarah lebih baik lagi untuk kedepannya. Gaffi akan berupaya untuk bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk dua orang yang paling berharga didalam hidupnya.


" Terima kasih Kate.. Aku tidak akan pernah mengecewakan diri mu, apapun yang terjadi.. Mari kita sama-sama berusaha untuk yang terbaik demi rumah tangga kita kedepannya.. " Kate mengangguk.


Entah bagaimana semua ini bermula, tapi kini bibir Kate dan bibir Gaffi saling bertemu. Untuk pertama kalinya mereka berciuman dengan perasaan yang sudah sama-sama saling mencintai dan menyayangi. Gaffi seperti ingin mengatakan bagaimana besar cintanya untuk Kate melalui ciuman ini. Dan Kate pun juga sama dengan apa yang Gaffi lakukan.


...***************...


...TAMAT...


..." TIDAK PERNAH ADA KATA TERLAMBAT UNTUK MEMPERBAIKI SESUATU YANG PATUT UNTUK DIPERJUANGKAN.. KARENA LEBIH BAIK TERLAMBAT DARIPADA SAMA SEKALI TIDAK BERJUANG UNTUK MEMPERBAIKI.. " ...

__ADS_1


__ADS_2