MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
aktifitas Gaffi yang sibuk


__ADS_3

Sama halnya seperti Kate yang mulai menjalani hari-harinya setelah perpisahan, Gaffi pun mulai kembali beraktifitas setelah beberapa hari mengurung diri di dalam kamarnya. Hanya sesekali Gaffi keluar kamar, karena lebih banyak dia berada di dalam kamar. Carmel pun lebih sering bermain di dalam kamar Gaffi karena daddy Carmel malas beraktifitas di luar kamar.


Hidup harus kembali berjalan, karena perpisahan yang dialami ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal menuju ke hubungan yang lebih baik. Gaffi pun sudah mulai bisa menerima keadaan antara dirinya dan Kate. Karena hatinya menjadi lebih tenang ketika dia berusaha untuk menerima keadaan.


Hari pertama kerja setelah mengambil cuti, pekerjaan Gaffi begitu banyak dan menumpuk sehingga akhirnya dia harus lembur. Ingin dia tinggalkan saja karena hari sudah larut, tapi menumpuk pekerjaan itu bukanlah tipekal nya. Dia lebih senang pulang ke rumah tanpa beban pekerjaan. Dia adalah tipe orang ketika sudah di rumah tidak akan menyentuh pekerjaan lagi. Baginya pekerjaan ya dilakukan di tempat kerja bukan di rumah.


Gaffi langsung terduduk lemas di kursi ruang kerjanya setelah lebih dari tiga jam melakukan operasi pada pasien yang datang karena mengalami kecelakaan mobil. Gaffi sebagai dokter bedah saraf otak tentu saja ikut dalam operasi ini karena pasien mengalami gagar otak yang cukup parah. Meski hati dan pikirannya masih tertuju pada Kate, tapi sebisa mungkin ketika dia masuk ke dalam ruang operasi dia akan mengenyahkan semua itu dan fokus pada pasiennya.


" Dokter Gaffi?... " panggil suster Helena yang menjadi suster jaga di ruang prakteknya.


" Ada apa ya Sus? " tanya Gaffi langsung menegakan punggungnya.


" Maaf dok, saya lancang masuk. Habisnya saya ketik pintu dari tadi nggak ada sahutan dari dalam. Jadu saya buka aja pintunya... " terang suster Helena mendekat ke meja kerja Gaffi.


" Ini saya ingin menyerahkan laporan pasien yang tadi melakukan pemeriksaan. Ini juga laporan mengenai pasien rawat inap nya dok.. " suster Helena mengerahkan beberapa lembar berkas yang harus diperiksa oleh Gaffi.


" Terima kasih sus, letakan saja di sana nanti saya periksa.. Oh ya, untuk pasien VVIP yang saya operasi kemarin apa sudah dipindahkan ke ruang rawat inap? " tanya Gaffi kembali menyandarkan punggungnya.


" Sudah dok... Tadi begitu dokter mengatakan untuk dipindahkan kami langsung memindahkan beliau.. " lapor suster Helena.

__ADS_1


" Oke... Nanti saya akan ke ruangan pasien.. Suster Helena bisa kembali bekerja, saya mau bersih-bersih dulu... " suster Helena pamit pergi dari ruangan Gaffi.


Gaffi pun lekas masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan kerjanya. Dia memang sudah terbiasa seperti ini jika setelah berinteraksi dengan pasien apalagi selesai melakukan operasi. Gaffi merasa risih jika dia tidak mandi setelah melakukan hal-hal tersebut. Jiwanya yang perfeksionis dan juga cinta kebersihan mengharuskannya untuk selalu tampil bersih di manapun dan kapanpun.


Sifat Gaffi yang cinta kebersihan ini juga dialami oleh Galen dan Ghadi. Kedua orang ini juga sangat peduli kebersihan apalagi Ghadi begitu selektif dengan bahan makanan. Jika tidak terjaga kebersihannya, Ghadi tidak akan segan untuk memberikan sayur itu pada kelinci peliharaan mommy Noura.


Lima belas menit, cukup bagi Gaffi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian yang memang disiapkannya di ruang istirahat yang ara di ruangan itu. Gaffi mempunyai ruang istirahat yang terdapat tempat tidur ukuran satu orang lengkap dengan AC dan lemari pendingin mini. Hal ini memudahkan Gaffi jika memilih jadwal jaga dimalam hari.


Gaffi menengok sebentar ke meja kerjanya, kemudian memijat pelipisnya, " Ya Tuhan,, tugas ku kenapa banyak sekali... " keluh nya menghela nafas panjang.


Gaffi mengambil jubah dokternya, stetoskop dan juga ID card miliknya dan berjalan keluar ruangannya. Seperti biasa dia akan ramah menyapa para tenaga medis lainnya yang dia temui disepanjang koridor tempatnya berjalan. Gaffi menuju ke ruangan yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya para suster yang ada di departemen bedak saraf.


" Heleh... Lebay sekali suster Marta ini... Dokter Gaffi mungkin kelelahan karena sehabis cuti langsung banyak kerjaan. Tidak bisa dihitung lagi sudah berapa jam beliau masuk ruang operasi. Pasti melelahkan... " suster Helena menyahuti.


" Kalian ini suka sekali membicarakan dokter Gaffi, nanti kedengaran orangnya malu lho... " suster Mily yang baru saja datang ikut menimpali.


" Udah biasa ketahuan kok... Kita sering banget memang ketahuan dokter Gaffi lagi gosipin beliau. Tapi kita gosipin nya yang bagus lho, nggak pernah kita hujat dokter Gaffi makanya beliau nggak marah kita gosipin... " suster Marta berucap.


" Iya bener banget tuh.. Udah sering sekali saya mergoki mereka gosipin saya tapi tetap aja nggak mau berhenti gosipin saya... " Tiba-tiba saja Gaffi nongol ikut nimbrung.

__ADS_1


" Oh My.... Dokter Gaffi kebiasaan banget datang tiba-tiba kek hantu... " suster Helena berjengit kaget pasalnya Gaffi berada di belakangnya.


" Hahahahaha... Kalian ini juga nggak bosen kok gosipin saya.. Memangnya kenapa sih pada seneng gosipin saya? Karena saya ganteng ya? " Gaffi menaik turunkan alisnya menggoda para suster.


" Idih... Dokter itu kepedean sekali.... " suster Marta terkekeh pelan.


" Udah... Udah... Salah satu ikut saya ke ruang VVIP yuk... Saya masuk melihat pasien sebentar... " ajak Gaffi kepada siapa saja yang mau mengikutinya.


" Kirain ikut diajak nikah dok... Tahunya diajak kunjungan pasien... " ledek suster Helena.


" Ya kan saya sudah ada istri... Nggak boleh lho punya istri dua... " Gaffi tersenyum manis membuat para suster meleleh melihat senyum manisnya itu.


Akhirnya setelah para suster berdebat, suster Mily lah yang kebagian kesempatan untuk jalan berdua dengan dokter Gaffi ke ruangan pasien VVIP yang berada di lantai yang masih sama dengan mereka. Gaffi ingin memeriksa lagi keadaan pasien yang dia operasi kemarin sebelum dia kembali pulang ke mansion karena jam kerjanya semestinya memang sudah selesai dari satu jam yang lalu.


Selama perjalanan menuju ke ruangan VVIP memang beberapa kali suster Mily mencuri-curi pandang ke arah Gaffi. Entah apa yang dipikirkannya tapi sebenarnya Gaffi menyadari itu tapi memilih untuk diam. Dia tidak terlalu senang terlibat percakapan hanya berdua saja dengan lawan jenis dan itu terjadi sejak dulu kala.


Alhasil, selama perjalanan sampai ke ruang VVIP kedua orang ini tidak berucap sepatah kata pun. Hanya diam berjalan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Gaffi juga tidak mau ambil pusing karena dia tidak mau menambahi beban pikirannya yang sudah banyak ini.


Ketika dibuka kamar VVIP yang didalamnya terdapat pasien yang dia tangani kemarin, tubuh Gaffi tiba-tiba saja membeku di tempat. Dia terkejut dengan sosok yang berdiri tidak jauh dari pasien yang terbaring di ranjang. Tangan Gaffi mengepak kuat, tapi sekali lagi dia harus profesional karena bagaimana pun saat ini dia masih berada di tempat kerjanya..

__ADS_1


" Hai Gaf? Lama tidak berjumpa... "


__ADS_2