MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
Izinkan aku pergi


__ADS_3

Siapa yang tidak akan sedih ketika kehilangan sesuatu yang dianggapnya sangat berharga. Begitupun dengan wanita yang kehilangan anaknya, sudah seperti kehilangan dunianya sendiri. Menangis pun tidak akan mengembalikan apapun. Kate wanita muda yang begitu sukses dan sangat cantik, harus menelan pil pahit kehidupan ketika rumah tangganya sudah diujung tanduk karena kehadiran wanita lain. Namun kini berakhirnya pernikahannya, justru bukan karena pelakor itu.


Sudah tiga hari Kate dirawat di rumah sakit, sudah tiga hari itu pula dia menolak bertemu dengan Gaffi, suaminya. Detik demi detik hanya diisi dengan menangis nasi yang sudah menjadi bubur. Meski tahu tidak ada yang akan berubah dengan menangis, namun tidak ada lagi yang bisa Kate lakukan.


Namun kali ini, di pagi ini, Tiba-tiba saja Kate meminta waktu untuk bertemu dengan Gaffi. Hanya berdua saja, karena Kate ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting pada pria itu. Kate juga secara khusus ingin bertemu dengan Emily, karena ada beberapa hal yang sempat dia tunda untuk dikatakan tapi kini adalah kesempatan terakhirnya sebelum pergi.


Kamar rawat Kate tertawa mencekam ketika Emily berada di kamar itu. Tadi Galen sengaja mendatangi Emily di ruangan tempat kakek Emily dirawat dan mengatakan Kate ingin berbincang sesuatu yang penting dengan Emily. Dan disinilah Emily sekarang, tertunduk bersalah tidak mampu menatap mata Kate.


PLAK....


" Tamparan ini sangat ingin aku lakukan ketika kau menginjakkan kaki mu pertama kali di dalam rumah tangga ku. Bahagiakah diri mu sekarang, karena akan memiliki seluruh hal yang aku tinggalkan? Puas kau sekarang membuat aku menderita,,,, KATAKAN PADAKU... KATAKAN PADA KU APA SALAH KU PADA MU.... " Kate menggoyangkan tubuh Emily murka.


" Kenapa kau menjadi penyebab luka dalam hati ku? Kenapa kau tega menyakiti perempuan lain yang tidak pernah menyakiti mu... Apa kau tidak merasa bahwa dirimu ini bahkan lebih rendah dari pela***? " sentak Kate tepat di depan Emily yang masih tertunduk.


Emily ketakutan, bukan karena menghadapi amarah Kate, tapi karena memang dia yang bersalah disini. Benar, Kate tidak memiliki kesalahan apapun padanya tapi dirinya tega menyakiti Kate sampai menjadi seperti ini. Jika ditanya kenapa Emily melakukan ini semua, dirinya pun merasa bahwa alasannya sangatlah tidak tahu diri. Hanya karena jatuh cinta pada pria yang menyelamatkan kakeknya, Emily tega menghancurkan hidup wanita lain dan juga hidupnya.


" Maafkan aku kak... Hiks... Maafkan aku... " Emily berlutut di depan Kate.

__ADS_1


" Maaf kau bilang? Kenapa sekarang kau minta maaf tapi kau pada awalnya sengaja ingin menghancurkan hidup ku... Aku tidak butuh maafmu,, aku hanya ingin kalian berdua mengembalikan anak ku... Huhuhu... Anak ku yang malang huhuhu... " Kate tersungkur di lantai karena hatinya yang sangat terluka.


Sejujurnya alasan Kate ingin menemui Emily, adalah untuk menumpahkan segala penyesalannya dengan menyalahkan Emily. Kate ingin membuat hatinya lega dengan menyalahkan Emily atas kematian calon bayinya. Tapi kini Kate tahu bahwa semua itu percuma, bukannya hatinya membaik, tapi semakin sakit saat melihat wajah wanita yang sudah menghancurkan hidup nya.


Emily pun pergi ketika Kate terus menangis, bukan tidak ingin membantu menenangkan Kate saat wanita itu tengah menangis. Tapi Emily takut jika Kate semakin histeris karena kehadirannya. Jadi dengan berat hati Emily pergi setelah mengucapkan maaf berkali-kali meski tidak ditanggapi oleh Kate.


Sebelum kedatangan Gaffi, terlebih dulu Kate mencoba menenangkan hatinya dan menyiapkan mentalnya untuk bisa kuat menghadapi Gaffi. Cinta pertamanya, namun justru menjadi cinta berdarah untuknya. Pertama kali Kate merasa bahwa di dunia ini adalah malaikat, namun ternyata hanyalah iblis yang menjelma menjadi manusia.


Kate berulang kali menghembuskan nafas gusar, takut dirinya akan luluh ketika melihat pria yang dicintainya itu. Namun sosok dalam dirinya memintanya untuk menghadapi ini semua untuk menenangkan hatinya. Untuk memberikan kesempatan pada diri Kate sendiri untuk bangkit dari keterpurukan.


" Kau pasti bisa... Apa perlu aku saja yang menghadapi pria itu? Tapi jika begitu masalah hati ku tidak akan selesai... " ucap sosok dalam diri Kate


" Baiklah,, terserah kau saja.. Hanya, jangan sampai kau luluh dengannya. Ingat kau kehilangan anak mu karena suami mu dan selingkuhannya.. "


Kate menatap cermin yang ada di dalam kamar rawat inap nya. Melihat ke dalam dirinya, melihat betapa besar luka yang menganga di hatinya. Sakitnya, membuat dirinya enggan untuk memberi kesempatan, baik pada dirinya maupun pada Gaffi. Kate ingin pergi, bertemankan sepi, tidak lagi harus merasa bahwa dirinya memang pantas menderita karena dosanya.


Gaffi menatap nanar pintu kamar rawat Kate, merasa bahwa semuanya akan diakhiri ketika dia berada di dalam ruangan itu. Namun, Gaffi sungguh tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Kate. Dirinya saja bingung dengan perubahan dalam dirinya. Dulu saja dia ingin membuat Kate menderita hingga meninggalkannya, namun kini sekuat mungkin dia ingin mempertahankannya.

__ADS_1


Ceklek...


Pintu terbuka, terlihatlah sosok Gaffi berada di ambang pintu menatap teduh Kate yang duduk di ranjang pasien. Penampilan Kate sangat jauh dari kata sempurna, seperti biasanya wanita itu berpenampilan dalam keseharian. Gaffi menghela nafas mendekat beberapa langkah ke tempat Kate. Tidak ada penolakan, hanya saja Gaffi merasa bahwa yang di depannya ini adalah bukan sang istri.


" Aku dengar kau ingin bicara? Jika kau ingin membahas perpisahan kita, aku katakan lebih awal bahwa aku tidak akan melepaskan mu... " ucap Gaffi menatap teduh pada Kate, berbeda dengan nada bicaranya yang terlihat tegas.


" Tapi sayangnya itulah yang aku inginkan. Aku ingin kita berpisah, sekarang juga. Dengan begitu aku bebas meninggalkan semuanya disini... "


" Sudah aku katakan aku tidak akan melepaskan mu... " nada bicara Gaffi mulai menaik.


" Untuk apa? Menahan ku agar kau bisa bebas melampiaskan semua kekesalan mu pada ku... Ingin mengatakan dan menekan diriku dengan kenyataan bahwa aku adalah pelaku pembunuhan istri mu.. Begitu maksud mu, tapi sekarang aku ingin bertanya pada mu... " Kate mengambil nafas banyak-banyak sebelum mengucapkan semua rasa yang dia alami.


" Jika kau menganggapku adalah pembunuh, lalu apa bedanya dengan diri mu? Kau yang membuat anak ku meninggal, jadi anggap saja kita impas. Aku kehilangan calon anak ku karena mu... "


" Tapi anak itu juga anak ku Kate.... "


" Tidak.... Dia anak ku,, selamanya hanya akan menjadi anak ku... Dia anak ku... " Kate berteriak histeris kemudian menangis.

__ADS_1


Dirinya rapuh saat ini, kehilangan calon buah hatinya membuat dirinya berada di titik terendah hidupnya dimana pilihannya adalah mati atau pergi. Namun kenapa justru disaat seperti ini Gaffi malah menahannya. Andai itu Gaffi lakukan jauh sebelum semuanya terlambat, pasti Kate dengan senang hati menggapai tangah itu. Tapi apalah dayanya, nasi sudah menjadi bubur.


__ADS_2