MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
sedingin musim salju


__ADS_3

Musim dingin membawa rasa dingin di tubuh juga hati Kate. Tidak bersama keluarga dalam setiap kegiatan yang dia lakukan membuat hati Kate terasa dingin dan kesepian. Dokter Anastasya mengatakan padahal mungkin pengobatannya akan berjalan untuk waktu yang sangat lama karena pengobatan Kate sudah terlambat.


Rasa takut Kate di masa lalunya sudah menyatu dengan dirinya dan membentuk pertahanan diri yang sulit untuk ditembus. Sehingga pengobatan untuk mental Kate akan memakan waktu yang cukup lama. Mesk begitu dokter Anastasya optimis bahwa Kate akan sembuh.


Menatap sebuah keluarga dan orang-orang yang bersama pasangannya beraktifitas membuat kate merasa iri. Hatinya begitu kesepian bahkan sangat kesepian karena sendiri dalam laranya. Egoiskah dirinya jika menarik orang lain agar bisa merasakan sama seperti yang dia rasakan.Kate rasanya sudah ingin menangis tapi dia masih takut jika dia menangis maka dia akan kembali lemah dan susah untuk bangkit.


Saat dirinya begitu galau dengan hidup yang akan dia tempuh mulai saat ini, tiba-tiba seseorang yang menjadi pelita dalam gelapnya beberapa waktu lalu kini duduk di sampingnya memberikan cup berisi minuman hangat, cappucino. Orang ini tidak bicara apapun dan langsung duduk begitu saja di samping Kate. Tapi karena aroma parfumnya yang sangat jarang sekali dipakai oleh orang lain, Kate jadi tahu siapa yang duduk di sampingnya memberinya minuman hangat.


" Kakak tidak mungkin ke sini hanya untuk melihat ku kan?" tanya Kate tersenyum menatap ke arah depan.


" Tentu tidak. Tadi aku lewat dan melihat seorang wanita yang ingin menangis seperti anak kecil padahal dia sudah memiliki anak. Karena kasian jadi aku kemari..." canda Galen dan langsung Kate manyun karena mendengar candaan Galen.


" Ish... Siapa yang nangis coba ?" Kate mengelak. Setidaknya di depan pria ini Kate tidak ingin terlihat lemah.


" kate... Menangis itu tidak membuat orang terlihat lemah. Tapi dengan menangis orang yang tadinya lemah bisa menjadi kuat karena bebannya terangkat setelah dia menangis.. Jadi jika kau ingin menangislah, jika malu ada orang yang melihatnya , maka menangislah ketika kau sedang sendiri." ujar Galen tersenyum lembut ke arah Kate.


" Pantas saja semua sepupu dan saudara perempuan kakak begitu mengidolakan kakak.. Mereka bilang kakak adalah suami idaman para wanita.." Kate terkekeh jika mengingat ucapan sepupu Galen tentang dirinya.

__ADS_1


" Apalagi sampai kak Luce dan kak Rose memperebutkan kakak... Pasti kakak adalah pria yang hebat dan langka.." Kate menambahkan.


Galen tersenyum.. Dia sudah biasa mendengar hal seperti ini bahkan ketika dia masih menikah dengan wanita asal Indonesia beberapa tahun yang lalu. Galen selalu mendahulukan urusan perempuan diatas urusannya. Selalu menjadikan sosok perempuan itu ratu dan melayani mereka dengan baik karena itulah yang selalu daddy Joaquin ajarkan padanya.


" Kau jangan ikut-ikutan dengan mereka ya... Setidaknya aku bisa tenang berada di dekat mu jika kau tidak seperti mereka berdua yang selalu bertengkar ketika bertemu.." Galen terkekeh.


" Tentu saja tidak.. Aku sudah punya kekasih di hati ku yang tidak akan pernah tergeser karena kakak." Kate mengerlingkan matanya genit menggoda Galen.


Galen bukannya terpesona justru tergelak karena menurutnya Kate tidak cocok berperan sebagai wanita penggoda. Bagi Galen, sosok Kate itu diibaratkan adalah sosok nyonya bangsawan yang lemah lembut dan tidak tersentuh. Jadi jika Kate menggodanya , Galen hanya bisa tertawa ngakak saja.


Galen mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya dan langsung memberikan benda itu pada Kate. Surat yang Gaffi tulis untuk Kate baca, Galen sengaja membawa bersamanya surat itu karena dia akan melakukan perjalanan bisnis yang melewati tempat dimana Kate berobat.


" Hm... Sekarang dia jadi memiliki kegiatan untuk mengisi waktu luangnya dengan menulis surat." Kate tersenyum miris. Sungguh bukan seperti ini yang dia harapkan. Tapi jika dia dan Gaffi tetap bersama tanpa adanya waktu untuk saling menyembuhkan luka, maka keduanya hanya akan terus saling menyakiti satu sama lain. Kate tidak ingin hal itu terjadi.


Lamunan Kate buyar ketika mendengar ponsel milik Galen berbunyi. Kate pun mempersilahkan Galen untuk mengangkat telepon tersebut. Tapi ada yang aneh ketika melihat ekspresi wajah Galen yang terlihat seperti marah akan sesuatu.


" Halo..." kata pertama yang Galen ucapkan.

__ADS_1


" Tuan... Perempuan itu telah kembali dan sekarang sudah bersama dengan tuan muda. Wanita itu juga tengah hamil.... " lapor anak buah Galen yang ada di Milan, Italia.


" Siapa yang kau maksud? Katakan dengan jelas. " suara Galen sedikit meninggi karena kalut.


" Wanita yang pernah menjadi selingkuhan tuan muda tuan... Dia sekarang tengah hamil dan tuan Gaffi sendiri yang merawatnya karena perempuan itu baru saja kecelakaan.. " ulang anak buah Galen.


" Sialan... Kau awasi terus pergerakan mereka.. Setiap jam laporkan apa yang kau dapatkan.. Kau paham kan? "


" Tentu tuan... Saya akan mengawasi perempuan itu. Dan sekedar informasi tuan, anak dalam kandungan perempuan itu sekarang sudah berumur delapan bulan.. "


Degh... Degh


Galen merasa benar-benar telah ditipu oleh Gaffi mentah-mentah. Bagaimana bisa wanita itu mengandung benih keluarga de Niels karena seingat Galen pastinya Gaffi juga memakai alat pengaman ketika mereka bercinta. Tapi apa yang sekarang Galen dapatkan, kenyataan yang memukulnya sehingga dia tersadar ini.


Galen memutuskan untuk kembali ke Milan dan menyelesaikan masalah kali dengan baik. Sungguh sangat melelahkan karena dia baru mendarat di kota tempat Kate berada lalu dia harus pergi lagi berangkat ke Milan.


" Aku pergi dulu Kate. Mungkin kita akan jarang bertemu tapi pasti aku akan selalu mengabari mu dan selalu menghubungi mu.." ujar Galen.

__ADS_1


" Hati-hati kak... " jantung Kate berderak begitu cepat seperti ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Dia seperti merasakan badai akan datang lagi, dan menerpa dirinya dan Gaffi.


__ADS_2