MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
kehidupan di tempat baru


__ADS_3

Bandara kota Milan terlihat sangat padat hari ini. Area yang luas semuanya dipenuhi oleh lautan manusia baik itu yang mengantarkan atau yang diantarkan. Sungguh pemandangan yang tentunya membuat mata ini lelah karena sepanjang mata memandang hanya ada manusia saja.


Kate mengambil penerbangan pukul sebelas siang menuju ke suatu tempat yang sangat jauh dari Milan. Tempat yang akan menjadi rumahnya mulai dari sekarang, selama dia menyelesaikan pengobatannya. Dan selama itu pula dia tidak akan memiliki niat untuk kembali lagi kemari.


Kate menatap arah belakangnya, seperti berharap seseorang akan datang dari arah belakangnya mengantarkan kepergiannya. Padahal dengan jelas sebelumnya Kate mengatakan untuk tidak mengantarnya, namun lihatlah, kini dia begitu ingin memandang wajah pria itu.


" Kenapa Kate? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Katharina yang akan ikut berangkat mengantarkan Kate sampai ke tempat tujuan.


" Tidak ma... Hanya ingin sekali lagi melihat pemandangan yang tidak akan aku lihat mungkin untuk waktu yang sangat lama..." terang Kate menutupi keinginan hai yang sebenarnya.


" Tidak akan lama jika kau lekas sembuh Kate... Jadi selama disana berjuanglah agar bisa lekas berkumpul dengan kami semua..." Katharina dengan lembut dan penuh kasih sayang membelai rambut Kate.


" Pasti ma..." Kate tersenyum penuh semangat.


Kate dan Katharina melanjutkan perjalanan mereka menuju ke pesawat yang berada di lapangan lepas landas tidak jauh dari posisi mereka saat ini. Keduanya berbincang ringan menemani perjalanan mereka sampai naik ke pesawat.


Lagi dan lagi, dari posisinya duduk yang dekat dengan jendela, Kate terus menatap ke arah bangunan bandara berharap yang dia harapkan bisa terwujud.


" Kamu bener-bener nggak nganter aku mas... Kenapa tiba-tiba kamu jadi orang yang penurut sekali ya..." batin Kate miris.


Menelan pil pahit, bahwa sang suami lebih memilih menurut padanya dibandingkan nekat untuk bertemu terakhir dengannya sebelum mereka berpisah dalam kurun waktu yang sangat lama. Namun ketika seorang pramugari menghampiri dan mengatakan untuk menonaktifkan ponsel setiap penumpang tiba-tiba saja ponsel Kate berbunyi.


Kate tersenyum begitu lebar ketika terlihat dengan jelas bahwa yang sekarang ini memenuhi ponselnya adalah pesan yang Gaffi kirimkan padanya. Isinya tentang bagaimana perasaan Gaffi saat ini, dan tentunya salam sayang dari Gaffi untuk Kate. Hal ini sukses membuat Kate tersenyum lebar hingga pesawat lepas landas.


***from Mas Gaffi.

__ADS_1


Bye Kate....


Maaf aku memilih tidak mengantar mu karena takut aku justru mencegah mu untuk pergi. Aku tahu itu tidak bisa aku lakukan karena kepergian mu bukan untuk meninggalkanku melainkan untuk awal hubungan kita yang akan lebih baik dari di masa lalu.


Jaga kesehatan selalu dan jangan sampai terlalu dekat dengan pria manapun atau aku akan marah pada mu...


aku selalu mencintai mu dan menyayangi mu.. karena itu lekas kembali..


Suami mu, Gaffi***


Pesan singkat ini jelas pasti akan menjadi obat rindu Kate ketika dirinya begitu merindukan pria yang menjadi suaminya itu. Kate terus mendekap ponsel berisikan pesan Gaffi tersebut sampai dia terlelap menuju ke alam mimpi.


...***********...


Di kota ini, mungkin karena berisikan orang-orang yang sibuk mencari nafkah, membuat mereka sangat tidak peduli dengan kehidupan tetangga mereka. Jika bertemu memang akan saling menyapa dan berbincang sebentar, tapi jika itu sudah mengarah ke masalah pribadi, maka semuanya akan memilih untuk menyingkir.


Kate di tempat ini tinggal disebuah rumah sederhana berlantai dua dengan bagian depan dan belakangnya adalah sebuah taman. Kate menanam berbagai macam bunga di kebun bagian depan dan menanam sayuran serta buah-buahan di kebun yang belakang. Niatnya memang hanya untuk mengisi waktu luangnya karena dia memang tidak bekerja dan hanya fokus pada hidupnya dan pengobatannya.


" Selamat pagi miss Kate... " sapa seorang gadis yang tinggal dua rumah dari rumah Kate.


" Selamat pagi Lora... Kamu nggak berangkat sekolah memangnya libur? " tanya Kate yang tahu bahwa Lora masih bersekolah.


" Libur miss... Lusa baru masuk,, ini mau pergi ke toko roti di jalan depan.. Apa miss Kate mau menitip sesuatu? " tanya gadis bernama Lora itu.


" Boleh jika kau memberikan aku beberapa potong kue buatan uncle Dober? Pasti enak sekali sarapan dengan kue dan juga susu... " ujar Kate meminta tolong.

__ADS_1


" Tentu saja... Aku akan lekas kembali nanti... " Lora pun meninggalkan rumah Kate dan berjalan menuju ke jalan besar karena letaknya kawasan rumah Kate masuk ke dalam sebuah perkampungan.


Kate kembali mengerjakan kegiatannya yang pagi berkebun. Dia perlu menyiram dan juga memangkas ranting dan rumput yang tumbuh dengan tidak sewajarnya. Kegiatan sederhana yang bisa dia lakukan untuk mengalihkan semua perasaan rindunya pada sang suami dan putri kecilnya.


Kate memang tidak bekerja lagi di kota ini, tujuannya agar dia tidak terikat jam kerja. Pengobatan yang dia lakukan memiliki jadwal satu minggu tiga kali. Dan biasanya itu terjadi di jam-jam kerja saja. Kate tidak ingin jika dia bekerja maka akan mempengaruhi jam kerjanya dan itu bisa menghambat penyembuhannya.


Jadwal konsultasi pertama Kate adalah lusa, dia akan ke sana ditemani seorang wanita yang ditunjuk papa Lionel sebagai teman dan juga asisten yang mengurus semua kebutuhannya di sini. Wanita ini sepuluh tahun lebih tua dari Kate, penduduk asli kota ini tapi tidak tinggal satu rumah dengan Kate. Karena tentu saja alasannya Kate butuh privasi.


" Lalalala..... lalalala.... " Kate bersenandung riang.


" Pagi yang cerah... Senyum mentari membuat ku bersemangat... Hihihi,,, sejak kapan aku jadi puitis begini? " gumam Kate tersenyum.


" Selamat pagi nona Kate.... " sapa asisten Kate baru datang.


" Oh... Selamat pagi juga kak.. Sudah sarapan? Kalau belum kita tunggu salah satu tetangga ku lewat ya, tadi aku nitip beli roti padanya... " ujar Kate menyapa seorang wanita berusia tiga puluh tujuh tahun yang berdiri di depannya ini.


" Saya sudah sarapan sebelum ke sini... Dan saya juga membawakan anda sarapan ini.. " wanita itu mengangkat kantong yang dia bawa, menunjukkan bekal yang tadi dia bawa dari rumah.


" Woooow.... Senangnya ada yang memasak untuk ku.. " ujar Kate langsung menyambar kantong yang dipegang asistennya.


" Hmmm... Baunya harum sekali kak,, cacing diperut ku berdemo semua... Hahahahaha... " tawa Kate saat dengan tidak tahu malunya perutnya berbunyi sangat nyaring.


" Kalau begitu saya akan masuk dan mempersiapkan sarapan anda nona.. " pamit asisten Kate yang dibalas anggukan semangat oleh Kate.


Inilah sosok sebenarnya dari seorang Kate. Begitu ceria, sedikit manja, tapi bisa bersikap dewasa. Andai Gaffi tahu bagaimana sikap dan sifat Kate yang sebenarnya, sudah pasti pria itu tidak akan menyakiti Kate. Karena sesungguhnya bagi seorang Gaffi yang terbiasa mandiri sejak masih kecil, selalu berharap akan memiliki pendamping hidup yang memintanya memanjakan.

__ADS_1


__ADS_2