MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
Tiba di tempat baru


__ADS_3

Gaffi baru saja landing di bandar udara internasional Rio de Janeiro. Di bandara sudah ada beberapa orang yang menang diperintahkan untuk menjemput Gaffi. Mereka adalah orang-orang dari rumah sakit tempat dimana Gaffi akan memulai sebagai dokter tenaga bantu di sana sampai waktu yang belum bisa dipastikan.


Gaffi senang senang saja jika harus memenuhi panggilan dari rumah lain sebagai tenaga medis bantu. Selain bisa menambah teman di tempat dia akan membantu, dia juga bisa menambah ilmu karena biasanya masing-masing dokter memiliki ciri tersendiri dan cenderung berbeda dalam teknik melakukan operasi.


Gaffi diantar ke sebuah apartemen yang letaknya tepat di depan rumah sakit yang mana mulai besok dia akan bekerja di sana. Gaffi suka dengan apartemen yang pihak rumah sakit sediakan. Tidak banyak barang sehingga banyak space untuk meletakan barang-barangnya dan yang paling penting, Gaffi tidak berbagi kamar dengan orang lain.


" Lumayan.. Pemandangan luarnya juga bagus.. Setidaknya aku bisa merasakan suasana baru disini.. Tapi kasien juga Carmel jika aku tinggal lama.. " gumam Gaffi ketika menyibak tirai yang jendelanya mengarah ke jalanan di depan rumah sakit.


Gaffi berjalan untuk menggapai ponselnya yang ada di dalam tas kecil miliknya. Menekan nomor darurat 3 dimana yang tersimpan di angka 3 adalah nomor milik Galen. Gaffi ingin mengabarkan bahwa dia sudah sampai ke tujuan, agar keluarga di Milan tidak khawatir.


" Len.. Aku sudah sampai.. " ucap Gaffi begitu dia mendengar sapaan dari Galen di seberang sana.


" Hm... Hati-hati selama disana dan jangan pikirkan Carmel.. Anak mu akan bersama kami... " ucap Galen menanggapi.


" Oke... Titip salam untuk Carmel ya.. Aku tutup teleponnya. "


" Oke... "


Gaffi langsung masuk ke ruangan yang akan menjadi kamarnya mulai sekarang. Ada ranjang besar berukuran king size ada meja kerja juga di dalam kamar ini, karena memang ukurannya cukup luas. Ada kamar mandi di dalam dan ada dua lemari besar di dalam sana. Gaffi menyukai tata letak setiap barang yang ada dikamar ini.

__ADS_1


Gaffi merapikan pakaian yang ada di koper miliknya dan dimasukan ke dalam lemari yang ada ruangan itu. Gaffi juga menyimpan laptop dan beberapa buku yang dia bawa sebagai bahan bacaan karena Gaffi memang mengisi waktu luangnya dengan membaca buku yang berhubungan dengan kesehatan. Tidak hanya buka tentang masalah otak saja yang dia pelajari, tapi juga bagian anggota tubuh lainnya. Meski begitu Gaffi hanya membaca tanpa ada niatan memperdalam yang bukan di bidang spesialisnya.


" Apa aku ke rumah sakit saja ya siang ini.. Anggap saja untuk melihat-lihat dan berkenalan dengan dokter di sana.. " tiba-tiba sebuah ide terlintas di benak Gaffi.


" Sepertinya harus dicoba.. " gumamnya dengan senyum lebar. Daripada di dalam apartemen ini dan tidak melakukan apapun. Gaffi memutuskan untuk pergi ke rumah sakit yang ada di depan sana untuk sekedar melihat-lihat dan berkenalan dengan orang-orang yang akan menjadi rekannya selama beberapa bulan ini.


Gaffi lekas mandi dan berganti pakaian yang terlihat formal tapi masih santai. Dia mengenakan sweater panjang berwarna cream, lalu dia memakai jas warna hitam dan celana jeans warna senada dengan jasnya. Dia juga mengenakan kacamata hitamnya, menambah kesan macho dan pastinya para wanita akan bergetar bila melihatnya.


Gaffi memilih berjalan kaki daripada naik mobil yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Toh hanya menyeberang, lebih efisien jika berjalan karena jika naik mobil harus memutar jalan yang jaraknya masih satu kilometer dari apartemen. Gaffi yang menyebrang dengan gaya bak model itu menarik perhatian para pejalan kaki. Jarang-jarang mereka melihat ada bule ganteng putih dan juga fashionable.


" Selamat siang.. Ada yang bisa kami bantu tuan? Apa tuan ingin periksa? " tanya seorang penjaga keamanan.


" Saya adalah dokter baru yang akan bekerja di sini sebagai dokter bantu pak.. Saya ingin melihat-lihat dulu sebelum besok masuk, boleh? " Gaffi mengutarakan tujuannya.


" Iya Pak.. " Gaffi mengangguk.


" Wah.. Saya tidak menyangka ternyata dokter masih muda. Saya kira waktu dibriefing sama atasan, dokter yang mau bantu disini sudah berumur.. Kalau seganteng dokter, pasti para suster dan juga dokter wanita disini langsung kegirangan.. " ujar penjaga kemanan ini.


" Bapak bisa saja.. Saya sudah menikah pak.. " ucap Gaffi memperlihatkan cincin di jari manisnya.

__ADS_1


" Wah belum berkembang sudah pada patah hati ini nanti para ciwi-ciwi.. " Gaffi tertawa. Rupanya ada juga yang begini disini.


" Dokter mau saya antar keliling? Takutnya nanti diterkam para tenaga medis wanita lagi.. Kan lama mereka nggak pernah lihat yang ganteng begini.. " penjaga ini menawarkan.


" Tidak usah pak... Terima kasih banyak.. Bapak kerja lagi saja,, saya permisi.. "


Gaffi pun masuk ke dalam setelah bertanya terlebih dulu dengan penjaga tadi dimana tempatnya bagian bedah berada. Biasanya bagian bedah akan menjadi satu gedung kemudian nantinya dibagi beberapa sesuai dengan spesialisnya. Gaffi pun melangkah menuju ke bagian dimana bedah saraf otak berada.


Gaffi tidak menyangka akan ada yang menyambutnya di sana, padahal dia tidak mengatakan apapun kepada pemimpin di bagian bedah saraf ini. Sepertinya penjaga keamanan tadi yang menghubungi pihak disini mengatakan kedatangannya.


" Selamat datang dokter Gaffi.. " kepala bagian bedah saraf langsung menyambut Gaffi.


" Maaf Pak, saya jadi mengganggu waktu anda.. Padahal saya hanya berniat untuk melihat-lihat sebentar sebelum besok saya bekerja.. " ucap Gaffi langsung menyalami pria di depannya.


" Tidak masalah dokter Gaffi.. Terima kasih atas kesediaan Anda datang ke rumah sakit ini, saya yakin dengan adanya dokter Gaffi pasti bagian bedah kami akan lebih maju lagi... Dan perkenalkan saya ada dokter Stefan.. " pria itu memperkenalkan diri.


" Salam kenal dokter Stefan.. Untuk ke depannya mohon bimbingannya.. " Gaffi bersikap sopan terhadap pria yang bisa dipastikan pasti adalah seorang senior.


Dokter Stefan mengantar kan Gaffi untuk berjalan-jalan di departemen bedah saraf ini. Gaffi dikenalkan dengan staf yang kebetulan ada di ruangan mereka masing-masing, dari perawat, kepala perawat, sampai sesama dokter, semua di kenalkan. Gaffi cukup senang karena di sini dia disambut dengan baik, dan terpenting tidak ada wanita yang histeris karena melihatnya.

__ADS_1


Disaat tengah sibuk mengobrol dengan beberapa orang yang kedepannya akan menjadi rekam kerjanya. Gaffi dikejutkan dengan siluet seseorang yang begitu dia kenal. Gaffi pun berpamitan pada teman barunya ini untuk mengikuti siluet tadi. Rasanya dia kenal karena tiru Gaffi ingin menyapa. Tapi begitu tangannya berhasil mencekal orang yang tadi dia kenali, Gaffi terkejut melihat siapa yang ada di depannya..


" Kate... "


__ADS_2