
" Aku ingin kau menjalani hidup mu seperti dulu, bebas dan tidak tertekan karena kepergian Kate. Apapun jawaban Kate nantinya, yang aku inginkan kau bisa menjadi diri mu sendiri.. Bisa kau lakukan itu? Jika iya, maka akan aku akan kembalikan tanggung jawab mu sebagai pemilik rumah sakit.. "
Kata-kata Galen hari itu terus terngiang di kepala Gaffi. Meski tidak mengatakan dengan jelas, tapi Gaffi tahu pasti apa maksud dari ucapan Galen saat itu. Jujur saja Gaffi sangat terluka dengan keputusan yang Kate buat. Kenapa dia sampai melakukan hal seperti itu dan melupakan kesepakatan mereka bersama. Apakah pria yang dekat dengannya bisa memberinya kenyamanan dan kebahagiaan. Jika iya, apakah Gaffi harus melepaskan.
Meski pikirannya tengah disibukan dengan Kate, tapi Gaffi tetap menjalani seperti apa yang Galen katakan. Seandainya dirinya dan Kate tidak berjodoh, Gaffi masih bisa menjalani kehidupannya dengan melanjutkan tugasnya yang tertunda karena hukuman dari daddy Joaquin.
Malam ini, untuk pertama kalinya sejak Gaffi berkabung atas meninggalnya Bellvania, dia mengikuti acara kumpul-kumpul bersama dokter dan suster. Hari ini ulang tahun dokter senior di bagian spesialis kardiotoraks, dan Gaffi diundang untuk menghadiri acara makan malam, Gaffi pun mengiyakan undangan itu.
Gaffi datang bersama dokter Thalia dan dokter Zeno untuk memenuhi undangan dokter senior itu. Kebetulan tempat makan malam bersama ini tidak jauh dari rumah sakit, sehingga Gaffi dan kedua temannya ini memilih berjalan kaki untuk sampai ke restoran itu. Restoran makanan Italia yang kelezatannya tidak bisa dilakukan lagi itu telah di booking oleh dokter senior Gaffi untuk acara makan malam kali ini.
" Aku tidak tahu sejak kapan kalian begitu dekat? Sebelumnya tidak seperti ini rasanya.. " dokter Zeno mengintrogasi kedua temannya ini.
" Dokter Gaffi sudah sadar bahwa aku adalah teman yang baik, jadi mulai saat ini kami adalah teman.. Bukan begitu dokter Gaffi? " dokter Thalia meminta dukungan dari Gaffi.
" Benarkah? Rasanya bukan saya yang mengajak anda untuk berteman.. Bukankah anda yang mengejar saya terus.. " Gaffi justru menggoda doker Thalia.
" Oh Tuhan.. Kenapa kau memberiku dua teman laknat seperti mereka berdua? Apa dosa ku selama ini, rasanya aku tidak memiliki dosa sebesar itu hingga mendapat kesialan seperti ini.. " ujar dokter Thalia mendramatisir.
__ADS_1
" Heleh.. Pandai sekali kau memerankan peran orang teraniaya... Eh selamat malam suster Marta.. " dokter Zeno langsung mengalihkan perhatiannya pada suster Marta. Suster yang bekerja satu departemen dengan Gaffi itu memang cantik dan tentunya masih single. Dokter Zeno secara kebetulan memang menyukai wanita dengan tipe seperti suster Marta, sehingga mulai melakukan PDKT.
" Selama malam dokter Zeno... Eh,, dokter Gaffi kok ikut? Mau hujan badai ya? Tapi langit kok cerah... " suster Marta mengejek Gaffi.
" Jangan begitu suster,, saya dengar sebentar lagi dokter Gaffi bakalan naik jabatan ke semula lagi.. Nanti dokter Gaffi dendam dipecat lho.. " dokter senior yang tengah berulang tahun ini ikut nimbrung.
" Yang bener dok? Emang iya ya dokter Gaffi.. " Gaffi pun mengangguk, tidak ada gunanya juga ditutupi jika sudah banyak yang tahu.
" Wah,, departemen kita bakalan kehilangan pemandangan indah dong.. Dokter, kalau saya rindu dokter gimana? " suster Marta mulai melancarkan jurus rayuannya.
" Kan saya ada suster... Nggak usah takut kesepian, saya juga ganteng kok.. " dokter Zeno menyahut.
Gaffi dan Thalia serempak menertawakan Zeno yang secara tidak langsung ditolak oleh suster Marta. Malang sekali nasibnya, tapi apa boleh dikata cinta tidak bisa dipaksakan. Mungkin usaha Zeno saja yang kurang mantap sehingga belum kunjung menarik perhatian suster Marta.
Gaffi cukup menikmati acara malam ini, selain makan bersama juga bercanda dan tertawa bersama. Rasanya sudah lama sekali Gaffi tidak menikmati acara seperti ini, dia bahkan lupa kapan terakhir kali dia mengikuti acara seperti ini. Meski begitu, memang ada sedikit yang mengganjal di hati Gaffi. Tapi enggan dia pikirkan karena tujuannya disini adalah untuk menyegarkan pikirannya.
" Kenapa tiba-tiba ikut acara seperti ini? Biasanya paling anti.. " tanya dokter senior yang bernama Razor pada Gaffi.
__ADS_1
" Syarat dari Galen untuk mendapatkan kembali posisi ku di rumah sakit.. Apa boleh buat, dijalani saja.. " jawab Gaffi.
" Dia benar-benar memikirkan setiap detail yang terjadi pada keluarganya.. Pria yang hebat menurut ku karena diusianya yang masih muda dia sudah menggenggam banyak sekali beban. " ujar Razor.
" Hm.. Rasanya kalau aku jadi dia juga tidak akan kuat.. Salut saja di tengah kesibukannya dia masih memikirkan saudara-saudaranya.. " ucap Gaffi mendukung perkataan dari Razor.
" Oh ya sampai lupa.. Selamat ulang tahun senior.. Untuk hadiahnya silahkan pesan sendiri nanti aku yang bayar.. " ucap Gaffi tulus.
" Ya.. Ya.. Yang orang kaya, tinggal pesan aku yang bayar.. " ledek Razor.
Dokter Razor adalah senior Gaffi di kampus dulu. Karena kejeniusan Gaffi, dia bisa satu tingkat dibawah Razor, padahal usia mereka terpaut lima tahun. Razor pun jadi mengenal Galen karena anak satu itu juga lompat kelas sama seperti Gaffi. Malahan Galen jadi satu tingkat dengan Razor. Meski begitu hingga saat ini mereka masih berteman baik karena dulunya mereka juga teman baik.
Gaffi tidak terlalu banyak makan, hanya sesekali mengambil cemilan saja. Karena peristiwa dia sampai OD, membuat makanan yang masuk ke perutnya pun hari dikontrol. Gaffi dilarang makan berlemak dan juga daging. Perbanyak makan sayuran dan buah, adalah anjuran dari dokter yang menanganinya saat itu.
" Jika anda masih sayang dengan karir anda, maka lebih baik mulai sekarang stop penggunaan obat itu dan mulai hidup sehat.. Bukankah sayang ketika Anda sudah bekerja keras untuk tiba di posisi ini tapi anda relakan karena kesalahan anda sendiri.. " itulah ucapan dokter yang menangani Gaffi.
Mendapat ucapan seperti itu mau tidak mau membuat Gaffi merasa dia perlu berubah. Gaffi mulai menerapkan pola hidup sehat lagi, menjauhkan ketergantungannya pada obet anti depresan meskipun berat. Tapi karena ada teman-teman dan keluarga di sampingnya, Gaffi mulai meninggalkan itu semua.
__ADS_1
" Entah bagaimana angin akan membawa hubungan kami, tapi aku sungguh tidak ingin terlihat sebagai pecundang dengan penampilan seperti ini.. " ucap Gaffi