
Gaffi sudah mirip cacing kepanasan saat ini, pasalnya pesan dari Galen berusan sukses membuat dirinya ingin segera kembali ke Milan, padahal baru beberapa menit dia sampai di Berlin, Jerman. Gaffi sudah menantikan balasan dari suratnya sejak Galen kembali dari perjalanan bisnisnya. Tapi karena sampai kemarin tidak ada kabar beritanya, Gaffi pikir Kate tidak akan mengirimkan surat balasan untuknya.
* Aku ada di Berlin sekarang, seminar selama tiga hari.. Bisa kau kirimkan kemari? *
Isi pesan Gaffi yang terdengar sedikit konyol. Milan ke Berlin bukan berada di jarak dekat, perlu beberapa jam untuk sampai ke sana itupun dengan pesawat. Rasanya benar-benar tidak masuk akal, dan entah apa reaksi Galen nanti.
" Kemana manusia satu ini? Sudah dua menit pesan ku terkirim tapi belum juga dibalasnya.. " gumam Gaffi sedikit kesal.
" Ck... Kebiasaan,, sok sibuk.. " Gaffi melemparkan ponselnya ke sisi ranjang.
Gaffi menatap langit-langit kamar hotel yang dihuninya untuk tiga hari ke depan. Mencoba menebak, kira-kira apa yang Kate tulis di surat balasan itu. Rasanya tidak sabar ingin membaca tapi karena satu dan dua hal, Gaffi dengan terpaksa menunda keinginannya untuk membaca pesan dari sang istri.
Terlihat beberapa kali Gaffi menghela nafas karena tidak bisa segera merealisasikan keinginannya membaca surat dari sang istri. Tahu jika surat dari Kate datang hari ini, lebih baik Gaffi berangkat kemari besok saja. Toh acara juga baru dimulai esok malam. Benar-benar sukses membuat Gaffi gila secara bersamaan.
" Hadeh... Ini orang kemana coba? " Gaffi kembali mengambil ponsel miliknya dan menghubungi seseorang yang dia tahu pasti mengetahui keberadaan dari saudara sulungnya.
__ADS_1
Di nada sambung pertama dan kedua, belum ada tanda akan diangkat oleh orang itu. Beruntung di nada sambung kelima, tepat sebelum Gaffi mematikan panggilannya, orang di seberang sana sudah mengangkat teleponnya.
" Selamat siang tuan muda ketiga.. Ada yang bisa saya bantu? " sahut orang dari seberang sana.
" Kau tahu dimana Galen? " tanya Gaffi to the point.
" Tuan muda pertama sedang melakukan rapat virtual dengan klien bisnis di Aussie.. Apakah ada hal penting yang ingin anda sampaikan? " tanya pria di seberang sana.
" Tidak ada yang penting.. Katakan saja setelah selesai, minta dia menghubungi ku sesegera mungkin. Ini penting,, kau paham. " ujar Gaffi.
" Baik tuan.. Saya paham.. " pria di sana mengerti maksud dari Gaffi.
...*************...
Di sebuah negara yang maju, di salah satu kota yang memiliki cukup banyak penduduk dan merupakan kota maju dalam bidang perekonomian. Nampak seorang wanita yang begitu dirindukan oleh Gaffi, tengah sibuk dengan beberapa alat tempurnya di dapur. Kate, tengah membuat beberapa kue sesuai pesanan dari seseorang yang namanya sana Kate tidak tahu. Yang dia tahu hanya orang ini adalah bos dari kantor percetakan di depan toko bunga miliknya.
__ADS_1
Tepung berserakan dimana-mana, belum lagi kulit telur yang sudah memenuhi tempat sampah yang ada di dapur. Kate membuat pesanan itu tanpa dibantu siapa pun karena takut citarasa kue yang dia dan yang dibuat pegawainya akan berbeda. Ini adalah kali pertama Kate masuk ke industri penjualan makanan, jadi dia harus benar-benar teliti dengan masalah rasa dari kue yang dia jual.
" Na...na....na..na.. "Kate bersenandung sambil membuat kue. Dia melihat beberapa demo membuat kue, di kanal chef yang memang khusus memiliki kemampuan membuat kue.
" Hm... Apakah harus dengan strawberry flavour? Jika bukan itu apakah tidak akan enak?" Kate mengomentari video yang dilihatnya.
" Lain waktu aku akan mencoba membuat kue itu tapi dengan varian rasa yang berbeda. Semoga saja enak dan banyak peminat lagi.." gumam Kate terlihat sangat bersemangat sekali.
" Tapi nanti kalau sudah pasti akan benar-benar membuat toko kue, aku harus mencari koki lain yang bisa membantu ku. Jika tidak maka aku pasti akan kewalahan. Apalagi jika bertabrakan dengan jadwal ku kontrol.." cetus Kate.
Kedua tangannya tetap fokus untuk mengolah adonan kue bolu kukus pisang. Yah , meski mulutnya tidak berhenti bicara, tapi masih diimbangi oleh gerakan kedua tangannya yang cekatan sehingga pekerjaan Kate tidak terbengkalai.
Kate memilih untuk membuat kue di rumahnya karena d toko bunganya belum ada dapur yang bisa digunakan untuk membuat kue. Alhasil, di rumah Kate lah para kue itu akan dibuat dan dikemas dengan bungkus seadanya tapi tetap berkesan karena pasti akan ada beberapa gambar karikatur yang terlihat di mika pembungkus kuenya.
" Sepertinya aku harus bertanya pada mama tentang resep kue yang lain selain dari apa yang aku ketahui kini. Bukankah kue mama selalu menjadi yang terbaik dari semua kue yang ada. "Kate mengangguk-anggukan kepalanya karena idenya ini begitu cemerlang.
__ADS_1
Kate terus membuat kue tanpa kenal lelah. Dia ingin semua orang bisa merasakan kue buatannya. Tapi dibandingkan itu, Kate paling ingin jika Gaffi yang mencoba untuk memakan kue buatannya. Sejak menikah hingga sekarang, Gaffi belum pernah memakan kue buatan Kate. Dan yang paling Kate inginkan adalah kue yang dia buat bisa dinikmati oleh Gaffi.
" Tiba-tiba saja aku jadi merindukan ku, kak Gaffi... " Kate tersenyum, namun air matanya menetes merindukan pria yang dia cintai.