MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
Semoga saja tidak


__ADS_3

Hari dimana Berliana Grup akan melakukan lelang tepat dihari ulang tahunnya semakin dekat. Kate pun lebih sering pulang lembur dibandingkan pulang awal selama beberapa minggu ini. Tentunya Carmel masih ikut kemana pun dia pergi. Bagi Kate lebih baik dia lelah karena bekerja sambil mengasuh Carmel daripada putri kecilnya ini bersama pelakor di mansion suaminya.


Sejak hari ulang tahun Carmel, Kate selalu menghindari pasangan selingkuh itu. Kate sengaja berangkat pagi sekali, sebelum kedua pasang itu bangun. Lalu akan kembali ketika makan malam sudah selesai. Karena biasanya setelah makan malam, Gaffi akan langsung mengajak Emily ke kamar mereka dan tidak keluar lagi.


Oh ya,,, sejak dimalam Gaffi memaksa Kate bercinta dengan kasar. Hingga kini pun Gaffi tidak lagi menemui Kate ataupun meminta haknya pada Kate. Meski terkadang hatinya ngilu karena suaminya lebih meminta pada selingkuhannya, tapi lebih baik begini dari pada dia dianggap pelacur. Habis manis sepah di buang, sebuah peribahasa yang menggambarkan posisi Kate bagi Gaffi.


" Nyonya... Apa Anda sakit? Perlu kah kita pulang awal? " tanya Diana yang sejak tadi melihat nyonya nya ini bolak balik ke kamar mandi. Wajah Kate juga sangat pucat dan bibirnya begitu kering.


" Nggak mbak... Nanti kita pulang biasa aja. Aku malas mbak kalau musti melihat kemesraan pasangan tidak tahu malu itu... Doa ku hanya satu, jangan sampai keluarga suami ku memergoki mereka atau suami akan mendapatkan hukuman dari mertua ku... " ucap Kate. Bukan apa Kate berkata seperti itu, karena biasanya keluarga suaminya itu akan datang berkunjung tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Contoh nyatanya saja ketika Galen berkunjung ke perusahaannya waktu itu.


" Kalau saya berdoanya biar segera ketahuan nyonya. Dengan begitu pelakor itu pasti akan diusir... Itu nyonya seperti series yang saya lihat di televisi, orang tua pihak pria melemparkan segebok uang ke wajah para pelakor... " Diana terkekeh kecil.


" Ih mbak... Kok doa nya jelek begitu. Dan jangan terlalu percaya sama series di televisi mbak. Nggak adalah yang lempar uang banyak sama pelakor,, yang ada tuh pelakor nya disiram sama air... " Kate ikutan terkekeh.. Namun sedetik kemudian, Kate segera berlari ke kamar mandi untuk kembali memuntahkan semua isi dalam perutnya hingga kosong.


Hoeeekkk... Hoooeekk... Hoeek...


Sekitar beberapa menit Kate masih terus muntah, padahal cairan berwarna kuning pekat sudah keluar, bahkan rasanya begitu pahit, tapi Kate tidak kunjung membaik. Tubuhnya sampai lemah, tidak bisa ditopang.. Kate pun terduduk di lantai kamar mandi, karena sudah tidak kuat berdiri, apalagi untuk berjalan keluar kamar mandi.


Diana yang awalnya biasa saja saat melihat nyonya nya masuk ke dalam kamar mandi, sekarang dibuat panik karena nyonya nya belum juga keluar padahal sudah cukup lama di kamar mandi. Merasa tidak tenang, Diana pun menyusul Kate ke kamar mandi.


" Nyonya.... Nyonya,,, bangun nyonya... " Diana mengguncang tubuh Kate karena takut jika Kate pingsan.

__ADS_1


" Mbak... Saya nggak apa-apa... Tapi ini saya lemes banget mbak... " gumam Kate lirih


" Saya bantu keluar nyonya... " Diana memapah Kate sampai ke sofa yang ada di ruang kerja Kate. Mengambil kan minyak angin untuk Kate dan mengoleskan nya di beberapa tempat, seperti perut dan telapak kaki.


Kate merasa sedikit nyaman karena bau dari minyak angin yang dioleskan oleh Diana. Kate pun meminta Diana mengoleskan lebih banyak lagi karena wanginya membuat Kate tidak lagi mual.. " Tapi nanti panas nyonya kalau terlalu banyak... " Diana berusaha mencegah Kate menuangkan minyak angin ini ke perut.


" Nggak apa mbak,, saya suka sekali sama baunya.. " ujar Kate nekat.


Karena terlalu nyaman dengan bau harum minyak angin, Kate punya terlelap di sofa. Diana membiarkan Kate tertidur sebentar karena memang badan nyonya nya ini terlihat sangat lelah


Diana memilih membereskan semua perlengkapan yang akan dibawa pulang nanti. Ini masih tiga jam sebelum mereka kembali ke mansion, jadi selama tiga jam itu Diana rasa cukup untuk nyonya nya beristirahat.


" Mbak,,, kok saya tidak dibangunin?? " protes Kate dengan bibir mengerucut.


" Maafkan saya nyonya... Saya melihat anda tidur sangat lelap sekali, jadi saya merasa kasian dan tidak tega bila membangunkan nyonya... " Diana menunduk takut jika dimarahi Kate.


" Terima kasih ya mbak, karena sudah mau perhatian sama saya.. Memang saya udah beberapa hari ini nggak bisa tidur,, mana saya juga masuk angin ini. Badan jadi lemes nggak bertenaga... " keluh Kate sambil terkekeh.


" Sama-sama nyonya... Semoga lekas sembuh ya... " ucap Diana tulus.


Mendengar hal itu, Kate merasa benar-benar ingin menangis saat ini juga karena terharu. Ternyata benar apa yang pernah dikatakan oleh Galen padanya, bahwa dia tidak sendirian disini. Banyak orang-orang yang mendukungnya dengan segala keputusan yang Kate buat. Meski terluka karena pernikahannya, tapi Kate berterima kasih pada Gaffi karena menghadirkan orang-orang yang menyayanginya.

__ADS_1


Hampir jam sembilan malam Kate baru saja tiba di mansion. Suasana mansion juga sudah sepi, karena ini sudah jam para maid tidak lagi diizinkan keluar kamar mereka. Kate dengan hati yang riang bermaksud ke dapur untuk memakan pudding strawberry yang dia buat semalam karena tidak bisa tidur.


Kate pikir di semua ruangan sudah tidak ada lagi orang yang berkeliaran. Semuanya sudah masuk kamar dan hanya akan menyisakan Kate sendiri hingga matanya melihat sesuatu yang membuatnya merasa jijik. Perut Kate yang tadinya sudah membaik, kini kembali seperti diaduk-aduk, sehingga membuat Kate mual. Bergegas Kate masuk ke kamar mandi karena tidak ingin mengotori lantai mansion dan menjadikan hal tersebut sebagai alasan Gaffi bertindak keji padanya.


Hooeekk.... Hooeeek....


Kate terus mengeluarkan isi perutnya hingga hanya angin saja yang keluar, dan itu rasanya sangat sakit sekali. Tapi meski tidak lagi ada yang dia keluarkan, Kate tetap saja merasa mual karena jijik. Jijik pada dirinya yang malam itu disentuh oleh Gaffi, namun kini dia melihat Gaffi sedang berciuman penuh gairah dengan Emily di dapur.


Kate menggosok mulutnya dengan kasar, kemudian di lehernya, di bagian dadanya, dan di semua bagian yang disentuh Gaffi malam itu. Kate jijik pada dirinya yang menjadi pelampiasan Gaffi. Kate jijik pada dirinya yang telah disentuh pria yang sudah bermain dengan wanita lain. Merasakan bagian inti tubuhnya dimasukin bekas dari Emily,, bekas cairan Emily masih menempel disana membuat Kate kembali mual dan muntah hingga lemas di kamar mandi.


hiks.... hiks.... hiks...


Kate masih menggosok tubuhnya hingga memerah dan lecet. Kate kotor, Kate merasa jijik dan ingin meninggalkan bekas dari Gaffi pada tubuhnya...


" Jahat.... Kamu jahat sama aku mas... kamu jahat... hiks... hiks... " ucap Kate disela tangisannya.


" Sekarang aku sadar bahwa pria itu hanyalah pria yang jahat. Pria yang telah membagi tubuhnya dengan wanita lain kemudian memakai mu... Ck.. ck... sampai kapan kau akan merendahkan harga diri mu Kate. "


" Diam... Kau tidak atau apapun jadi kau tidak berhak berkata seperti itu... " sentak Kate mulai emosi.


" Terus.... terus saja kau bela pria brengsek itu,, hingga pada akhirnya kau pun akan mati rasa jika hari dimana kau sadar itu datang. Tentunya setelah itu aku akan memiliki semua yang kau miliki.... Hahahahahaha..... "

__ADS_1


__ADS_2