
Mobil yang membawa Kate dan Iden berhenti di sebuah rumah yang terlihat sederhana tapi didalamnya isinya mewah semua. Perabotan benar-benar bergaya klasik, jelas pasti itu mahal sekali harganya. Kate masih belum bertanya karena dia menunggu Iden menjelaskan maksudnya membawa dirinya ke tempat ini. Hingga akhirnya dapat Kate lihat, ada sosok sepuh sedang duduk sambil minum teh menghadap ke taman bunga.
Kate melihat Iden langsung menghampiri sosok itu dan membawanya untuk bertemu dengan Kate. Iden mendorong kursi roda yang digunakan oleh seorang wanita tua yang terlihat masih memiliki sisa-sisa guratan kecantikan di wajahnya.
" Jadi kau yang bernama Kate? Aku sudah merasakan kue buatan mu, dan rasanya sangat enak sekali... Apakah kau ingin membantu ku membuat kue? " oma Iden menawarkan.
" tentu saja... Kebetulan saya juga sering membantu mama membuat kue.." Kate dengan senang hati menerima ajakan dari oma Iden untuk membuat kue bersama.
Mereka berdua bersama menuju ke dapur meninggalkan Iden yang hanya melongo ketika dua wanita yang belum saling kenal itu justru terlihat sangat akrab dan membiarkannya sendirian di ruang tamu. Iden pun memutuskan ke ruang kerjanya untuk mengecek beberapa berkas dan laporan dari anak buahnya, nanti dia akan keluar lagi jika kedua wanita yang sama-sama menjadi bagian penting dari hidupnya itu sudah selesai dengan bisnis mereka.
" Rencananya nyonya akan membuat apa? " tanya Kate terdengar sangat sopan sekali.
" Jangan panggil aku nyonya, panggil saja oma Charlotte.. Apa kau diminta memanggil ku nyonya oleh pria menyebabkan tadi? Jangan kau turuti, pria itu memang menyebalkan dan gila tentunya.. " Kate jadi tertawa karena ucapan oma padanya.
" Menurut mu, kita mau membuat apa? Lihatlah di lemari pendingin, pria menyebalkan itu hanya menyiapkan itu saja. Dia itu tahunya cetak mencetak, tapi makanan enak dan tidak bahannya saja tidak tahu.. " oma kembali mengejek cucunya. Bagaimana jika Iden mendengar itu, pasti cucunya akan sakit hati kan.. Tapi tentu saja tidak, karena Iden sudah terbiasa di bully oleh oma nya sejak masih kecil. Keduanya memang mirip seperti kucing dan tikus.
__ADS_1
" Kita buat pie strawberry dan kiwi, lalu kita buat pancake juga.. Apa oma setuju? " tanya Kate meminta pendapat dari yang punya acara.
" Yang waktu itu kau buat itu kue apa? Ada aroma khas nya sangat kuat.. Aku menyukainya.. " tanya oma. Kate pun berusaha mengingat kue apa yang dipesan oleh Iden waktu itu.
" Oh... Itu adalah bolu banana oma.. Tapi di sini tidak ada banana, jadi kita tidak bisa membuatnya.. "
" Aduh bagaimana ini? Padahal aku ingin sekali kue itu.. Apa kau mau menunggu aku meminta seseorang membelikan banana? Aku mohon ya.. " Kate pub mengangguk. Toh dia tahu membuat bolu banana memang tidak memakan waktu lama.
Oma pun mendorong kursi rodanya sendiri untuk mencari seseorang yang bisa dia minta untuk membeli pisang. Kate juga sudah memberitahukan jenis pisang yang enak jika dibuat bolu dan usahakan untuk mendapatkan pisang jenis itu. Kebetulan pisang ini masih sering Kate jumpai di supermarket atau toko khusus menjual buah.
" Ck... Ck... Kalau sudah dua wanita bertemu apa lagi satu frekuensi, lihat diri ku bahkan tidak nampak disini.. " ucap Iden mendramatisir keadaan.
" Hahahahaha.... Itu nasib mu, siapa yang menyuruh mu menjadi pria, setahu ku dulu aku sudah minta ayah dan ibu ku membuatkan cucu perempuan untuk ku.. " sarkas oma. Kate sampai melongo tidak percaya bahwa oma yang terlibat kalem padanya akan menjadi landak berduri jika bersama dengan Iden, cucunya sendiri.
" Pa, ma lihat oma,, bukannya menyayangi ku dia justru membully ku,, bolehkan aku ikut kalian saja.. " Iden menatap langit-langit di ruangan dapur ini, Kate pun juga mengikuti apa yang Iden lakukan. Tapi Kate tidak tahu apa maksud dari tindakan Iden itu.
__ADS_1
" Cih.. Mereka malas mengajak ku, anak manja... " ujar oma yang pasti akan berubah raut wajahnya menjadi sedih jika Iden berlagak meminta pergi bersama dengan orang tuanya.
" Tentu saja mereka tidak akan mengajak ku,, kalau sampai aku ikut mereka bagaimana dengan oma ku yang tercinta ini.. Tidak akan memiliki teman berdebat nantinya.. Sudah cup... cup... jangan menangis ya.. " Iden bersikap seolah-olah menenangkan anak kecil yang sedang menangis.
" Ck.. Sialan kau anak nakal... "
" Aaaargggggg oma... ampun oma... Aduh.. duh.. duh.. Ada Kate oma,, jangan membuat ku malu.. " teriak Iden kesakitan.
" Rasakan... Rasakan... " oma masih terus menjewer telinga Iden.
Hahahahahaha...
Kate tertawa terbahak melihat oma dan Iden justru melawak di depannya. Sungguh ini adalah tawa pertama Kate setelah semua musibah menerpa dirinya. Kate jadi merasa bisa melepaskan semua susah di hatinya dan menggantinya dengan kebahagiaan.
Iden dan Oma langsung berhenti bertengkar ketika mendengar Kate tertawa. Jujur saja Iden benar-benar suka melihat Kate tertawa seperti itu, dalam hati dia sangat ingin terus membuat Kate tertawa seperti saat ini. Yah meski dia harus berkorban telinganya dijewer omanya terus.
__ADS_1
" Kau cantik saat tertawa seperti itu,, sungguh membuat ku senang melihatnya... " bisik Iden di telinga Kate.. Membuat jantung Kate berdetak sangat kencang.