
Pagi ini langit terlihat sedikit muram, cahaya matahari yang menghangatkan pun tidak terlihat sedikit pun. Kate berdiri di balkon kamarnya memperhatikan langit yang sepertinya sedang bersedih. Begitupun dengan hati Kate saat ini.
Kemarin ketika menerima pesan dari salah seorang teman yang dia minta untuk melihat keadaan Gaffi, namun justru mendapatkan kejutan yang membuat Kate bersedih. Ingin bertanya pada Galen tentang peristiwa itu, tapi sungguh Kate tidak berani lantaran sudah berjanji bahwa tidak akan bertanya tentang Gaffi setelah memilih untuk meninggalkan pria itu.
Seseorang tiba-tiba saja mengetuk pintu kamar Kate. Kate berseru dari dalam meminta orang yang mengetuk pintu itu masuk. Ternyata seorang pelayan yang ditugaskan di tempat ini oleh Galen.
" Nyonya... Diluar ada seorang wanita yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang dokter yang diminta oleh tuan muda pertama kemari dan bertemu dengan anda.. " lapor pelayan itu.
" Kalau begitu suruh dia menunggu sebentar, aku akan segera turun.. " Kate bergegas masuk ke kamar mandi.
Semalam Galen sudah mengiriminya pesan yang mengatakan bahwa hari ini akan ada tamu seorang dokter yang khusus Galen siapkan untuk menangani masalah kejiwaan Kate. Tentu saja hal ini disambut dengan baik oleh Kate, karena memang setahun ini dia sama sekali tidak ada interaksi dengan dokter manapun mengenai kejiwaannya.
Kate cukup terkejut karena ternyata dokter yang sudah Galen siapkan adalah seorang pria yang usianya mungkin di atas tiga puluh tahunan. Pria ini begitu tampan dengan badan yang sangat ideal, siapa saja yang melihatnya pasti terpesona. Kate sampai menelan ludahnya ketika melihat pria yang mengatakan dirinya adalah seorang dokter ini.
" Selamat siang nyonya,, perkenalkan saya adalah Marcello Natos. Saya dokter yang dimintai tolong oleh tuan muda Galen untuk membantu Anda mengenai masalah sakit yang sedang Anda derita saat ini.. " ujar dokter bernama Marcello itu.
" Ah... iya... Maaf,, saya sedikit terkejut karena ternyata dokter nya masih sangat muda... " ujar Kate menutupi malunya karena ketahuan terpana pada sosok dokter ini.
" Senang berkenalan dengan Anda nyonya Kate... " dokter Marcello mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Kate. Langsung saja Kate menyambut jabatan tangan itu sebagai bentuk sopan santunnya.
" Ya Tuhan... Kak Galen ini kok menyiapkan dokter yang wajahnya meresahkan begini. Kalau aku jatuh hati sama dokter ini gimana? Ini pasti sengaja dia... " batin Kate ngedumel kesal.
Untuk membangun suasana yang hangat, santai dan nyaman, taman belakang menjadi pilihan dokter Marcello untuk dijadikan tempat sesi tanya jawab yang menjadi agenda pertemuan mereka pertama kali ini.
Tujuannya sesi tanya jawab ini adalah untuk membangun hubungan yang baik antara keduanya. Dengan begitu nantinya di setiap pertemuan berikutnya Kate tidak akan merasa canggung dengan Marcello.
__ADS_1
" Nice home.. " puji Marcello melihat tatanan taman belakang rumah Kate.
" Hm... Sangat cocok untuk aku yang memang membutuhkan tempat seperti ini untuk healing... "
" Ehm ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa mengenal kak Galen? " tanya Kate sedikit penasaran. Dia dan Marcello sepakat untuk tidak menggunakan bahasa informal, karena itu Kate lebih memilih kata ' kamu ' daripada ' anda '.
" Tuan muda adalah donatur tetap di tempat ku bekerja. Beliau salah satu pemegang saham juga, dan kebetulan rumah sakit tempat ku bekerja adalah rumah sakit yang sudah di akuisisi oleh JN Group menjadi anak rumah sakit JN CS Hospitals. " jawab Marcello menjelaskan bagaimana bisa mengenal Galen.
" Berarti kamu adalah psikolog di rumah sakit itu? "
" Bukan, aku adalah dokter umum di rumah sakit itu. Tapi memang aku memiliki basic psikolog, hanya karena di rumah sakit tempat ku bekerja bukanlah rumah sakit besar, jadi psikolog tidak diperlukan.. "
Kate mengangguk-anggukan kepalanya paham. Memang benar dokter psikolog hanya dijumpai di rumah sakit besar saja. Karena rumah sakit kecil belum tentu dokter psikolog memiliki pasien.
" Jangan terlalu dianggap sebagai pembahasan yang serius. Nanti kamu juga bisa tanya jawab dengan ku.. Bukankah tadi aku diawal sudah mengatakan pertemuan kita yang pertama hanya tentang sesi tanya jawab.. " Marcello buru-buru menjelaskan saat melihat wajah Kate berubah menjadi canggung.
" Oooh... Baiklah... " Kate tersenyum kikuk.
" Kamu tampa, ramah, sopan apalagi ya? " ucap Kate.
" Kalau itu aku sudah sering dengar.. Bisa katakan yang lain.. " ujar Marcello pongah.
" Dih sombong.... Kalau kamu gimana kesan kamu pertama kali melihat ku? "
" Ehm... Jelas kamu cantik ya, kalau ada yang bilang kamu jelek berarti itu orang matanya katarak... " Kate langsung tertawa.., " Kamu itu nggak seharusnya mengalami apa yang kamu alami dulu. Menurut ku kamu nggak cocok hidup menderita dan dilema.. Dari wajah kamu seharusnya kamu bahagia dengan apa yang kamu miliki... Aku iri lho... "
__ADS_1
Kate tersenyum masam, semua orang selalu mengatakan iri padanya padahal semua orang tidak tahu saja apa yang dia telah alami dan lalui selama dua puluh lima tahun hidup di dunia ini.
Marcello menyadari perubahan raut wajah Kate yang terlihat menjadi sedih. Ternyata memang pasiennya yang satu ini sudah merasa insecure pada dirinya sendiri karena masalah penculikan yang terjadi ketika masih kecil dulu.
Penyelesaian dari peristiwa itu kurang tepat sehingga begitu membekas dalam pikiran Kate. Membuat dirinya tidak percaya akan kemampuannya dan mulai menciptakan karakter yang baginya adalah karakter terbaik yang tidak bisa dia contoh. Kemudian Alter ego itu muncul dalam diri Kate.
" Boleh aku bertanya sesuatu yang sedikit pribadi? " Marcello meminta izin.
" Tentu saja... Selama aku bisa menjawab pasti aku jawab.. " Kate tersenyum.
" Bagaimana karakter dari kepribadian lain dalam diri mu? Dan siapa namanya kalau boleh tahu? "
Deg...
Kate terdiam sejenak, matanya menatap lamat wajah dan mata Marcello. Kate seperti menyelami diri dokter psikolognya ini untuk mengetahui apakah bisa dipercaya atau tidak. Karena apa yang akan Kate ungkapkan ini adalah sesuatu yang sifatnya sangat rahasia sekali. Hanya satu orang yang tahu masalah ini dan orang itu pun sudah meninggal. Dia adalah Bellvania Rudolf, Satu-satunya orang yang tahu tentang Late.
" Jika kamu masih belum bisa mengatakannya aku tidak masalah... Mungkin kau bisa bercerita lain waktu... " Marcello tersenyum. Hal yang paling harus dihindari dari pendekatan pertama dengan pasiennya adalah memaksa.
" Late.... Namanya adalah Late... "
" Dia adalah tipe orang yang keras, tegas, tidak terlalu bersahabat, tapi begitu pengertian. Late selalu saja muncul jika dia merasa aku sudah mulai ketakutan. Dia selalu bertukar pendapat dengan ku... Dan yang paling aku sukai darinya adalah dia orang yang sangat cuek. Dia tidak peduli sekalipun dunia menghujatnya, tapi aku tidak bisa bersikap seperti itu. Sejak awal semua orang tahu aku adalah wanita yang sempurna... "
Marcello tersenyum mendengar cerita dari Kate ini. Ternyata kata sempurnalah yang membuatnya sampai merasa tertekan dengan apa yang pernah dia alami dan yang sekarang dia alami. Kate sempurna begitu dituntut selalu ada dalam diri setiap wanita. Karena seorang pria pasti memilih wanita yang sempurna menurut versinya.
Marcello merasa iba dan memiliki keinginan yang tulus untuk membantu Kate. Dia akan membawa Kate pada masa depan yang lebih baik dimana apa yang sudah Kate tanamkan dalam dirinya bisa dirubah. Kata sempurna tidak boleh menjadi sesuatu yang membuat setiap orang tertekan dan akhirnya menggila.
__ADS_1