
Hari-hari yang Kate jalani sekarang ini hanya berpusat pada kegiatannya di toko bunga miliknya. Apalagi dia sedang menyiapkan pesanan pelanggannya yang menginginkan karangan bunga dari bunga mawar, bunga matahari dan bunga krisan. Rencananya besok pagi-pagi sekali bunga itu akan diambil oleh si pemesan, jadi malam harinya tepatnya pukul dua dini hari, semuanya akan mulai mengerjakannya.
Toko bunga Kate tutup lebih awal, agar pegawainya yang menginap di toko nanti bisa beristirahat lebih awal. Bangun jam dua pagi bukan perkara mudah, apalagi mereka akan mengerjakan sebuah pekerjaan yang butuh kerapian dan ketelitian. Semua memang akan menginap termasuk Kate dan tenaga bantu yang pegawainya carikan. Musim salju yang terkadang bisa ada badai dadakan membuat semuanya memutuskan untuk menginap.
Toko tutup pukul tiga sore, biasanya sampai jam tujuh malam. Kini semuanya masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang ada di dekat rumah kaca milik Kate. Di rumah kecil itu ada peralatan lengkap, baik makan, tidur dan bahkan mandi, semuanya ada. Jadi bisa dikatakan rumah itu adalah rumah yang bisa ditinggali meski selama ini kosong.
" Kalau kalian ingin membuat makanan, atau peran tidak apa.. Tapi jika ingin memasak, itu di lemari pendingin ada beberapa bahan yang bisa dimasak.." ujar Kate memberitahukan pada pekerjanya sebelum masuk kamar untuk istirahat.
" Siap bos.. Apa kak Kate pengen makan sesuatu? Mungkin kita bisa memasaknya.. " tanya Calosa.
" Ehm... Bagaimana kalau kalian masak saja, sup dengan udang goreng tepung. Itu pasti enak.. " request Kate dan diangguki yang lainnya.
" Kalau begitu aku istirahat dulu ya.. " Kate pamitan.
Semuanya ada yang langsung tidur, ada juga yang memasak, mereka sengaja membagi tugas agar adil. Kate sendiri langsung memilih berbaring di atas kasur yang hanya cukup untuk satu orang saja. Memang baginya sedikit tidak nyaman, tapi apakah sekarang dia bisa protes atau mengeluh. Tentu saja tidak bisa, Kate harus menerima karena ini adalah bagian dari pekerjaannya, bagian dari usahanya.
Tak terasa akhirnya Kate pun terlelap begitu saja. Efek semalam begadang memeriksa barang pesanan yang akan dia buat nanti dini hari. Entah berapa lama Kate tertidur, karena sepertinya tidur Kate benar-benar sangat lelap sekali.
__ADS_1
" *Kate.... Bangun Kate... " seorang perempuan cantik dengan pakaian serba putih terlihat sedang membangunkan Kate dari tidurnya.
" Eeuugghh... " Kate melenguh merasa tidurnya terganggu.
" Bangun Kate.. Ada yang ingin aku bahas dengan mu.. " sekali lagi perempuan berbaju serba putih itu mencoba membangunkan Kate.
" Kak... Kenapa bisa kakak disini? Eh.... " Kate langsung bangun begitu saja ketika menyadari apa yang dia lihat adalah hal yang mustahil.
" Ini mimpi mu Kate.. Aku sengaja datang karena aku ingin berbincang dengan mu.. " perempuan itu kembali berucap. Kate dibuat tidak percaya dengan penglihatan nya. Namun mimpi ini terasa begitu nyata bagi Kate.
" Tapi kakak.. Kok bisa aku bermimpi seperti ini? Rasanya mustahil sekali kakak bisa mampir ke mimpi ku.. " tanya Kate keheranan.
" Kate,, belajar menerima apa yang terjadi pada kita dan berusaha mengikhlaskan apa yang hilang dari kita adalah kunci manusia bisa hidup bahagia. Belajarlah menerima masa lalu mu, karena tanpa masa lalu tidak akan ada Kate yang sekarang. Ikhlaskan lah apa yang hilang dari mu karena itu artinya kau bisa berserah diri pada Dia.. Kate, semua yang kita miliki itu hanya titipan, dan jika itu diambil kembali, maka syukurilah setidaknya kau pernah memilikinya*... "
HAAAAAHHHH....
Kate langsung terbangun, keringat dingin memenuhi dahinya. Kate melihat sekeliling dan itu adalah kamar tempat dimana dia tadi tidur. Lalu mimpinya barusan, Kate menjadi bingung dan takut pada apa yang baru saja dia alami. Benarkah tadi dia bertemu perempuan itu dalam mimpi? Apa karena terlalu rindu, atau karena Kate yang tertekan akhir-akhir ini karena berbagai masalah yang harus dia hadapi.
__ADS_1
" Tadi itu mimpi yang benar-benar mimpi atau hanya bunga tidur ya? " batin Kate masih tidak percaya.
Tapi ucapan terakhir perempuan itu sebelum Kate terbangun dari tidurnya, menjadi selalu terngiang dalam pikiran Kate. Benarkah jika dia selama ini belum bisa menerima kenyataan pahit bahwa dia pernah diculik dan dianiaya ketika dia masih kecil. Ataukah selama ini dia belum mengikhlaskan masa kecilnya yang tidak bisa seperti anak lainnya karena kasus penculikan itu.
Sedalam itukah sakit mental yang Kate derita, sehingga butuh waktu lama dia bisa kembali seperti semula. Kate jadi pusing memikirkan tentang hal itu, karena jujur dia benar-benar bingung sekarang. Untuk bisa sembuh memang Kate harus bisa menyingkirkan trauma nya pada kejadian dimana dia diculik oleh seorang pria yang Kate tahu adalah suruhan saingan papa Lionel di dalam dunia bisnis.
Flashback
*Kate kecil berusia enam atau tujuh tahun tengah asyik bermain di taman yang ada di mansion keluarga Keyleigh. Kate sedang berlarian memburu kupu-kupu berwarna biru tua. Kupu-kupu dengan warna itu memang baru pertama kali dia lihat sehingga Kate begitu penasaran dan mengejarnya. Tanpa Kate dan pengasuhnya tahu, sedari tadi sudah ada yang memperhatikan Kate kecil yang berlari menuju ke gerbang samping.
" Wah kupu-kupu nya bagus sekali.. Kalau ditangkap dan dipelihara pasti bagus itu.. " Kate terus mengejar kupu-kupu itu hingga ke area luar mansion. Pengaruhnya sedang berbincang dengan seorang penjaga yang keduanya ternyata adalah sepasang kekasih.
Saking sibuknya kedua orang dewasa itu, sampai tidak memperhatikan bahwa nona kecil mereka keluar mansion melalui pintu gerbang samping yang terbuka karena ada truk pengantar bahan makanan tiba dan menang truk itu biasa lewat gerbang samping dan langsung menuju ke area dapur.
" Hei adik cantik... Kamu suka kupu-kupu ya? Om ada banyak sekali kupu-kupu di rumah. Apa kamu mau lihat? Om punya kupu-kupu berwarna ungu dan merah lho... " seorang pria tua terlihat menghampiri Kate kecil.
" Yang benar om? " pria itu mengangguk.
__ADS_1
" Mau ikut om? " pria itu sudah bersiap menggendong Kate kecil entah mau atau tidak dengan ajakannya.
" Tentu om... Aku mau... " Kate berteriak riang, dan itu adalah awal dari trauma Kate berasal*.