
Berharap pada sesuatu yang jelas tidak akan pernah bisa terwujud, adalah bentuk keputusasaan manusia akan takdir yang dia jalani. Berharap dengan pergi, maka seseorang yang ditinggalkan akan merasa kehilangan, namun kenyataannya tidaklah sesuai kenyataan, pasti akan membuat siapa saja kecewa dan sakit hati.
Kate,, setelah beberapa hari ini tidak pernah melihat suaminya. Disaat hatinya merasa ada sesuatu buruk menimpa suaminya, nyatanya sekali lagi dia harus kecewa. Seseorang mengirimkan dua foto yang semuanya merupakan foto Gaffi sedang bersama. dengan perempuan yang telah menjadi duri dalam dagingnya, Emily.
Foto pertama terlihat bahwa Gaffi dan Emily saling berpelukan, apalagi terlihat wajah Emily begitu bahagia karena bisa bersama dengan Gaffi. Dan foto kedua, terlihat Emily mencium pipi kanan Gaffi dan sekali lagi pria itu hanya diam saja tanpa berusaha menolak.
Kate sadar, bagi Gaffi dirinya bukanlah seseorang yang hadir dalam hidupnya, melainkan orang yang singgah dan akan pergi dari hidupnya. Kate kecewa, hatinya terlalu berharap lebih hingga kembali tersakiti. Namun karena peristiwa ini semakin memantapkan hatinya untuk pergi.
" Kau lihat kan... Pria itu kembali berulah.. Kau saja yang bodoh mengharapkan sesuatu yang tidak perlu seperti ini.... " olok sesuatu yang ada dalam diri Kate.
" Aku tahu aku memang bodoh, tapi apa benar aku sungguh tidak berarti dalam hidupnya. Aku.... aku hanya ingin dia menganggap ku sebagai seorang wanita yang menjadi istrinya... " sedih Kate berujar.
" Dalam mimpi mu... Terus saja bermimpi dan kau akan terus terluka. Sudah biarkan aku saja yang menghadapi pria itu, aku jamin pria itu akan mendapatkan pelajaran yang pantas.... " kembali sesuatu dalam diri Kate berujar.
" Kau ingin menemuinya? Lalu apa yang akan kau lakukan? " tanya Kate sedikit panik.
" Sesuatu yang tidak bisa kau katakan... Aku yang akan mengatakannya.. "
Kate termenung menatap jendela kaca yang ada di dalam kamarnya. Menatap langit siang yang begitu cerah, seperti mengolok suasana hatinya yang sedang mendung.
__ADS_1
Kate berencana hari ini akan pergi keluar bersama kedua orang tuanya tapi dengan apa yang baru saja terjadi, Kate jadi malas untuk keluar dari rumah. Kate ingin terus berada di kamar dan meratapi nasibnya sebagai istri yang tidak diharapkan keberadaannya.
Kate menghela nafas lelah, rasanya beban dikedua pundaknya begitu berat sekali saat ini. Beban yang seharusnya dia letakkan ketika tidak lagi bisa bersama Gaffi, namun nyatanya masih tetap dia pikul sendirian selama ini. Kate merasa bahwa hidupnya terlalu kacau semenjak kejadian dimana dirinya menjadi pelaku atas kasus kematian Bellvania Rudolf.
" Kak Bells, jika kau ada disini kira-kira apa yang akan kau katakan pada ku? " tanya Kate terus menatap langit.
" Kau tahu tanpa mu aku juga merasa kehilangan dan kesepian. Kita selalu berbagi tapi kini semua aku tanggung sendiri. Berat,, beban hidup ini terlalu berat kak, apa yang harus aku lakukan kak... " Kate bergumam sendiri.
Kate mengingat hari-harinya saat Bellvania masih menjadi psikolog yang menangani penyakit mentalnya. Wanita cantik dengan sikap yang lemah lembut itu selalu bisa membuat hari Kate tenang. Bagi Kate, pertemuannya dengan Bellvania adalah sebuah karunia yang begitu indah. Terasa seperti sebuah oasis di padang pasir, begitulah kehadiran Bellvania untuk Kate.
" Hai, nama ku Bellvania, kau bisa memanggilku Bells... Senang bertemu dengan mu... "
Ucapan pertama Bellvania ketika bertemu Kate di sebuah rumah sakit swasta di Roma. Saat itu Kate sedang dalam kondisi mental yang buruk dan berniat ingin mencoba untuk menemui psikolog dan bertanya bagaimana bisa menangani penyakit mentalnya ini.
Saat itulah seorang perawat yang berada di bagian resepsionis menyarankan Kate untuk bertemu dengan dr. Bellvania Rudolf, dokter mata yang kini menjadi seorang psikolog. Menurut review dari beberapa pasien yang datang untuk berkonsultasi dengannya, hampir semua merasa nyaman ketika mengadakan sesi curhat dengan dokter wanita itu. Kate pun mengikuti saran dari perawat itu.
" *Aku... aku sedang dalam kondisi mental yang buruk.. Aku mengalami.... "
" GAD kan? Atau lebih mudahnya disebut gangguan kecemasan umum.. Tapi bolehkan aku tahu sudah sampai dimana penyakit anda ini... "
__ADS_1
" Aku pernah menjadi orang lain ketika aku dalam kondisi yang begitu menyeramkan. Aku menjadi orang lain dengan tubuh yang sama tapi kepribadian yang berbeda. Bahkan aku bisa mendengar orang itu berbicara pada ku... Apa ini buruk? "
" Alter ego... Kondisi dimana kau membentuk sebuah identitas atau karakter yang begitu kau idam-idamkan, sehingga kau menghidupkan karakter itu karena kau tidak bisa merealisasikannya. Mungkin saja kau menciptakan itu untuk menutupi diri mu yang sebenarnya dimana dalam diri mu yang sebenarnya begitu menakutkan dan kau tidak ingin mengingatnya... "
" Apakah itu buruk? "
" Buruk jika kau sampai kehilangan identitas dirimu yang sebenarnya. Karena pada dasarnya manusia itu hanya memiliki satu kepribadian, jika bercampur maka kau akan kehilangan identitas asli dirimu dan menjadi seseorang yang bukan diri mu.. "
" Ketakutan itu untuk dilawan, bukan untuk dijadikan sebagai alasan kau melarikan diri dari kenyataan*.. "
Percakapan pertama antara Kate dan Bellvania saat itu masih terus teringat dalam kenangan Kate tentang sosok istri pertama Gaffi. Wanita yang begitu berkharisma, memiliki inner beauty, murah senyum dan yang paling membuat Kate jatuh hati adalah Bellvania selalu memiliki sisi baik dalam dirinya. Seseorang yang selalu berpikir positif dan tidak pernah menyalahkan orang lain.
Kesan pertama yang indah membuat Kate dan Bellvania menjadi teman. Keduanya sering saling berkomunikasi untuk bertanya kabar dan kegiatan. Hingga ketika Bellvania mengatakan dia akan menikah, Kate pun dipertemukan dengan calonnya yang ternyata adalah Gaffi. Married by accident, membuat Bellvania segera dinikahi Gaffi saat itu.
Kali pertama itulah Kate bertemu dan langsung jatuh hati pada Gaffi. Pria yang bekerja sebagai dokter spesialis saraf otak itu begitu ramah dan murah senyum. Selalu terlihat menyayangi Bellvania dimana pun dan kapan mu. Namun lihatlah pria itu sekarang, justru menggores luka paling dalam dihidup Kate.
Kate kembali ke dirinya di masa yang sekarang. Dimasa yang membuatnya banyak terluka dan menderita tapi telah memberikan apa yang kalian diinginkannya selama ini. Bersama dengan pria yang dia cintai, meski tidak seperti harapannya.
" Lebih baik pernah memiliki daripada tidak pernah sama sekali... "
__ADS_1
Kata-kata yang saat itu Bellvania ucapkan ketika hari pernikahannya dengan Gaffi.
Kate tersenyum, senyum pertamanya dihari ini karena mengingat semua kenangannya bersama Bellvania. Istri pertama Gaffi, teman dimasa lalunya dan seseorang yang paling banyak memotivasinya.