
Dalam diam hari ini seseorang menangis, menangis perpisahan yang entah akan sampai kapan lagi baru bisa berjumpa. Ingin hati menemani, namun semua itu tidak bisa dia lakukan karena janji yang sudah dia buat. Ingin berlari mencegah terjadcckgxkyxkyclugligilbinya perpisahan ini, namun sekuat apapun dia berlari kencang, dia tidak akan pernah bisa mengejar apa yang ingin dia genggam.
Entah sudah berapa lama dia menangis, meski dia seorang pria yang biasanya pantang menangis. Tapi bagi dirinya yang pernah mengalami pahit dan getirnya rasa kehidupan sudah tidak lagi peduli bahwa dia adalah seorang pria yang tidak boleh menangis. Masa bodoh dengan itu semua karena dia hanya ingin meluapkan sesak didadanya.
Perpisahan yang seharusnya bisa dia cegah dulu sekali, kini harus terjadi karena keegoisannya. Perpisahan yang memang sudah dia dan wanita itu sepakati, namun tetap saja menyisakan sesak di dada. Entah harus bagaimana dia meredam rasa sakit ini, karena sesungguhnya suatu hari nanti mereka akan kembali bersama.
" Hei... Sudahlah hentikan tangisan mu!!! " Gafar mendekat dan menepuk pelan pundak Gaffi yang tengah mengurung diri di kamarnya.
" Kau itu sudah menikah dua kali, sudah punya seorang putri, sudah banyak juga umur ku tapi kenapa kau bisa cengeng seperti ini? Sudah menangis nya lihatlah kamar mu banjir itu... " ujar Gafar terdengar dibesar-besarkan.
" Hiks... pergi saja sana kau... hiks... aku butuh waktu sendiri!!! " Gaffi mendorong tubuh Gafar dengan kuat sehingga yang didorong langsung terjatuh ke belakang.
" Haish... Bodo lah... " Gafar pun pergi. Sudah sebuah keajaiban bagi seorang Gafar yang emosian mau menenangkan seseorang, karena biasanya dengan tempramen nya dia akan lebih memilih memukul orang dibanding menenangkan.
Sekarang tinggalah Gaffi sendiri termenung menangis di kamarnya. Sekitar sejam yang lalu, Kate menghubunginya dan mengatakan bahwa dia akan berangkat ke suatu tempat yang jauh dari Milan. Kate akan menjalani pengobatan untuk penyakit mental nya. Tujuan Kate menghubungi Gaffi adalah untuk mengucapkan salam perpisahan dimana mereka berpisah masih dengan status suami istri yang sah..
Jujur saja, Gaffi ingin sekali mengantar kepergian Kate ke bandara. Disaat perpisahan ingin hati memeluk mencium dan mengucapkan kata cinta sebanyak-banyaknya untuk Kate. Tapi apa kata kenyataan, dia tidak diizinkan untuk ikut rombongan mommy nya karena menurut Kate jika mereka bertemu maka Kate akan berat untuk pergi.
Beruntung mommy Noura masih sedikit berbelas kasih jadi mengirimkan beberapa foto Kate di bandara. Menurut Gaffi, entah sejak kapan tapi Kate menjadi sangat cantik sekali. Badannya yang dulu kurus kini sudah berisi, tentunya dibeberapa bagian terlihat lebih menonjol dari dulu. Sungguh kecantikan dewi yang pernah dia sia-siakan.
" Sialan kau Gaffi..... " geramnya menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
" Sekarang saja kenapa kau baru sadar betapa indahnya berlian milik Kate... Tapi selama ini aku menyia-nyiakan semua itu demi dendam... " gumamnya penuh sesal.
Rombongan orang-orang yang mengantarkan Kate sudah tiba di mansion. Gaffi bergegas keluar karena mendengar jerit tangis sang putri. Gaffi setengah berlari menuruni tangga melihat putri kecilnya memberontak dalam gendongan Galen. Belum lagi matanya yang sudah membengkak karena menangis. Sedikit jauh Gaffi paham pasti ini karena perpisahan dengan Kate.
Gaffi langsung menghampiri Galen dan mengambil alih Carmel ke dalam gendongan nya. Berusaha menenangkan sang putri kecil dan beruntung tangisan Carmel berangsur berhenti. Gaffi menghela nafas kaka mendengar suara dengkuran halus dari sang putri. Ternyata karena lelah menangis, putri kecilnya ini jadi tertidur.
Ditemani mommy Noura, Gaffi membawa Carmel ke kamar untuk ditidurkan. Kasian sekali putrinya ini harus berpisah dengan mamanya karena keegoisannya dulu. Gaffi pun tidak pernah menyangka bahwa kedekatan antara Carmel dan Kate bisa seperti ibu dan anak kandung. Padahal jelas keduanya hanyalah anak dan ibu sambung.
Kuasa Tuhan memang sungguh besar, disaat Carmel kehilangan seorang ibu, dia langsung mendapatkan sosok ibu sambung yang mencintai dan menyayanginya seperti seorang ibu kandung.
" Kate titip salam tadi... Dia bilang kamu musti jagain Carmel dengan baik. Nanti pas dia udah balik, dia bakal cek langsung... " ujar mommy Noura menyampaikan apa yang tadi dikatakan Kate.
" Iya mom.. Tadi di telepon juga dia bilang begitu.. Ini tadi kenapa jadi nangis seperti itu mom? Apa karena kepergian Kate? " tanya Gaffi menanyakan perihal tangisan putrinya tadi.
" Tenang aja.. Usia Carmel masih kecil, itu adalah salah satu yang patut disyukuri karena Kate berobat pas Carmel masih kecil.. Jadi terpisah pun nggak banyak pengaruhnya ke tumbuh kembang Carmel..." mommy Noura menambahkan.
Gaffi hanya mengangguk saja, karena dia paham apa yang disampaikan mommy Noura padanya. Karena anak seusia Carmel cenderung mudah lupa, jadi dia akan mulai benar-benar mengingat kejadian yang terjadi di hidupnya sekitar umur diatas 5 tahun. Itupun ingatannya sering kali tidak terlalu jelas.
Semoga saja ketika Carmel sudah mulai paham tentang arti sosok ibu bagi hidupnya, Kate sudah kembali lagi kemari. Jika tidak maka Gaffi akan kesulitan menjelaskan duduk masalahnya karena Kate pergi sedikit banyak karena dirinya juga.
" Mommy istirahat dulu ya.. Kamu disini aja temeni Carmel... " pamit mommy Noura diangguki oleh Gaffi.
__ADS_1
" Maaf ya princess nya daddy... Kamu jadi pisah sama mama... Nggak akan lama sayang,, dan setelah semuanya membaik, daddy akan jemput mama dan kita bisa kumpul lagi bertiga.. Jadi Carmel jangan nakal dan rewel ya kalau sama daddy.. " Gaffi mengecup kening sang putri.
" Bells... Katakan pada ku ini yang terbaik kan untuk kami... Berpisah sebentar lalu akan bersama lagi selamanya.. Iya kan Bells? " gumam Gaffi menatap foto Bellvania yang masih terpajang di dinding kamarnya. Air matanya yang tadi sempat kering kini kembali mengalir lagi.
" Sakit Bells rasanya.. Ini yang alami dulu ketika kau pergi,, bahkan rasanya kenapa lebih sakit Bells? " keluh Gaffi.
" Aku... Mungkin... sudah mencintainya... Aku tidak... mengkhianati mu... kan? " ucapnya..
Setelah lama menangis lagi, Gaffi pun akhirnya terlelap bersama dengan putri kecilnya. Dalam mimpinya Gaffi berjumpa dengan sang istri yang begitu dia cintai. Istri yang memiliki takdir singkat menjadi belahan jiwanya.
" *Kau ini kenapa sekarang cengeng sekali? Aku tidak bisa berhenti menertawakan mu kau tahu itu... " ledek Bellvania.
" Aku rapuh sweetheart... Rasanya aku ingin pergi saja menyusul mu.. " gumam Gaffi yang berbaring menjadi paha Bellvania sebagai bantalannya.
" Hush... Ucapan itu doa.. Kalau kamu nyusul aku putri kecil kita gimana? Sama siapa coba nanti? "
" Lagi pula aku tahu Kate tidak akan lama disana. Paling satu, dua tahun, paling lamanya juga lima tahun... "
" Lima tahun itu lama sekali Bells... Kau itu jangan semakin memupuskan harapan ku... "
Bellvania terbahak mendengar ucapkan Gaffi*.
__ADS_1
Mata Gaffi terbuka ketika di telinganya masih terngiang tawa dari istri pertamanya, Bellvania Rudolf. Gaffi pun jadi tersenyum, meski dia tahu itu bunga mimpi, tapi baginya itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi penyemangat untuk dirinya saat ini.